Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Beginilah Seharusnya Mental “Mujahid”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Desember 2014 10:54 10:54 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Desember 2014 10:54
Bagikan
Bagikan

DALAM suatu peperangan, kaum Muslimin menemukan betapa kekuatan Ibnu Taimiyah melampaui para mujahidin lainnya. Merekapun menanyakan apa rahasianya sehingga dia memiliki kekuatan ekstra seperti itu. Beliau menjawab, “Ini buah ma’tsurat (Al-Kalimatu Ath Thaiyyibah) yang secara rutin saya baca pagi hari setelah shalat Subuh sampai matahari terbit. Saya selalu menemukan kekuatan yang dahsyat setiap selesai melakukan wirid harian itu. Tapi, jika suatu saat tidak melakukannya, saya merasakan seperti lumpuh saat itu.”

Dalam perang Yarmuk, Khalid bin Walid menyuruh beberapa pasukannya untuk mencari topi perangnya yang terlepas dari kepalanya. Beberapa saat kemudian, pasukannya muncul dan melaporkan kalau topi yang dicarinya tidak ditemukan. Khalid pun marah dan menyuruh mereka mencari kembali. Akhirnya, mereka menemukannya. Khalid pun merasa perlu menjelaskan sikapnya yang unik itu. “Di balik topi perang saya ini,” kata Khalid, “ada beberapa helai rambut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam. Tidak pernah saya memasuki suatu peperangan dan memakai topi ini, melainkan pasti saya merasa yakin bahwa beliau mendoakan kemenangan bagi saya.”

***

Seorang Mukmin mujahid sejati, selalu unggul dalam semangat hidup dikarenakan mereka memiliki kekuatan spiritual. Kekuatan inilah yang selau bergelora di dalam dada mereka.. Itulah yang membuat sorot mata mereka selalu tajam, sebagai wujud hati yang kokoh.

Itulah yang membuat mereka memiliki harapan, optimisme, di saat virus keputusasaan mematikan semangat hidup orang lain.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Tak pernahkah kesedihan menghinggapi mereka? Tidak adakah ketakutan, kegelisahan, dan kegalauan?

Pernahkah mereka terusik bahkan tergoda oleh keputusasaan yang berakibat pengunduran diri dari perjuangan? Adakah mereka merasa lemah, cemas, dan tidak mungkin memenangkan pertarungan?

Sebagaimana orang kebanyakan, mereka juga manusia biasa. Semua gejala jiwa yang dirasakan manusia, juga dirasakan mereka.

Sebagaimana layaknya manusia, kehidupan seorang Mukmin-mujahid juga fluktuatif (naik-turun). Ada saat dimana ia naik, sukses, dan gembira. Di saat yang lain, mereka gagal dan tertunda keinginannya, sehingga membuat takut, cemas, sedih, dan gundah gulana. Bahkan terkadang mereka merasakan berada pada puncak stagnasi (futur).

Yang membedakan para mujahid ini dari manusia umumnya bahwa mereka memiliki keterampilan bagaimana mempertahankan vitalitas, melawan ketakutan-ketakutan, kegalauan, kecemasan, dan menghalau keputusasaan.

Mereka mendeteksi sejak dini tandan-tanda itu, dan sekaligus melawan gejala-gejala yang bisa melumpuhkan jiwa itu.

Kemampuan mengelola gejolak internal menjadikan mujahid memiliki stamina ruhaniah yang stabil. Ahli sastra Mesir Syauqi mengatakan:

“Engkau dilahirkan ibumu dalam keadaan menangis dan orang-orang di sekitarmu tertawa. Menangis karena menghadapi kehidupan dengan membawa missi yang suci tidak sederhana. Dan orang di sekitar kita bergembiara (termasuk ibu yang baru saja melahirkan) karena kedatangan penerus baru yang diharapkan bisa membatunya dalam mengatasi tekanan kehidupan.”

Keunggulan spiritual itu biasanya dibentuk dari keyakinan dan sikap pembenarannya terhadap alam ghaib.

Dan proses perawatan ketahanan itu berpangkal dari tradisi spiritual yag khas dan unik. Inilah yang menjadikan Ibrahim Al-A’dzam mengungkapkan apa yang dirasakannya pada penghujung tahajjudnya:

“Kami dalam kelezatan (spiritual). Sekiranya para raja mengetahui bahwa sumber kebahagian itu ada di sini, mereka akan menguliti kami.”

Dengan cara menjaga hubungan kecintaan secara timbal balik antara mujahid dengan Allah Subhanahu Wata’ala lewat kultur yang konstan, berkesinambungan, muncullah suasana jiwa yang merasakan intervensi Allah secara langsung.

Sehingga pendengaran, penglihatan, langkahnya merupakan jelmaan dari kehendak Allah. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang sunnah hingga Aku mencintai dia. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan pandangannya yang dia memandang dengannya, dan tangannya yang dia menyentuh dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Jikalau dia meminta kepada-Ku niscaya pasti akan Kuberi, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya pasti akan Kulindungi.” (HR. Al-Bukhari no. 6502)

Allah memiliki cara sendiri bahwa, gelar mujahid sejati itu tidak diperoleh seseorang dengan gratis (majjanan). Sejarah kepahlawanan manusia sebagian besarnya justru lahir di tengah-tengah tekanan kehidupan yang berat dan komplekks. Tekanan kehidupan secara psikhologis, sesungguhnya diperlukan untuk merangsang munculnya potensi yang terpendam dalam diri dan memberikan stimulasi kreativitas dan dinamika.

Hidup dalam situasi yang normal biasanya malah membuat orang kurang produktif.

Bukan situasinya yang kita persoalkan, tetapi pada dasarnya manusia membutuhkan stimulasi yang kuat untuk bergerak. Manusia adalah produk sebuah lingkungan. Di antara stimulan jiwa adalah tekanan hidup, kesempitan, musibah dan lain-lain. Seorang ahli hikmah mengatakan, “Bergeraklah karena dalam gerakan itu ada barakah.

Barakah artinya tambahan kebaikan, baik berupa materi maunpun immateri, kualitas dan kuantitas.”

Karakteristik Mukmin sejati pandai dalam mensiasati tekanan maupun musibah. Ia selalu menemukan celah di balik kebuntuan dan secercah sinar di balik kegelapan.

Ketulian tidak mencegat Musthafa Shadiq Al-Rifai menuju puncak, sebagai salah satu sastrawan Muslim terbesar abad ini. Dan kelumpuan takluk di depan tekad baja Syeikh Ahmad Yasin yang menjadi mujahid besar abad ini, bukan saja menantang Israil tetapi menantang dunia.

Kecacatan istri (bermata juling) sama sekali bukan sebagai hambatan kesuksesan Syaikh Utsman An Naisaburi menjadi tokoh publik dan sukses membangun keluarga sakinah mawaddah dan rahmah.

Stagnasi jiwa yang menimpa aktifis dakwah Muhammad Quthb justru melahirkan karya tulis Manhaj Tarbiyah Islamiyah I-II, memperoleh hadiah nobel dunia Islam dari kerajan Saudi.*/Abu ‘Aun, pernah ditulis di Majalah Hidayatullah

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dakwahMuslimpejuang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya DPD Prihatin, Korupsi di Daerah Semakin Masif
Tulisan selanjutnya Hari Ini, KAMMI Nasional Turun Jalan Serukan Tritura 5

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan

Berita
30 Juni 2026 19:51
Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman
Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya

Terbaru

  • Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
  • Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
  • Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
  • Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
  • Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
  • Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris
  • Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
  • MTQ Nasional 2026 di Semarang Siap Jadi Panggung Syiar Islam dan Budaya Nusantara
  • Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
  • MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?