Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Mati Saat Sujud

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Maret 2015 07:51 7:51 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Maret 2015 09:15
Bagikan
Seorang petugas di Masjidil Haram menemukan seorang jamaah yang meninggal dalam keadaan sujud
Bagikan

PERNAKAH mendengar sahabat Nabi yang dikenal dengan sebutan Abu Tsa`labah Al-Khusyna?

Ada kisah menarik berkaitan dengannya. Suatu hari ia membicarakan kematian pada rekan-rekannya, “Sesungguhnya aku benar-benar menginginkan Allah mematikanku tidak seperti mematikan kebanyakan kalian.”

Kematian dengan cara apa gerangan yang diinginkan oleh Abu Tsa`labah? Dalam kitab Siyarul A`lam an-Nubala` karya Imam ad-Dzahabi disebutkan bahwa Abu Tsa`labah berharap pada Allah Subhanahu Wata’ala agar ia dimatikan dalam kondisi sujud. Apakah permintaannya dikabulkan?

Rupanya Allah mengabulkannya. Ketika ia sedang menunaikan shalat malam (Qiyamul Lail), ia meninggal dalam kondisi sujud.

Suatu malam, putrinya bermimpi bahwa ayahnya telah meninggal, seketika itu juga ia bangun. Lantas ia panggil ibunya:

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

“Di mana ayah, bu?”

“Ayahmu di mushallah”

Segera putrinya memanggil Abu Tsa`labah, tetapi Abu Tsa`labah sama sekali tak menjawabnya. Berbegas ia bangunkan ayahnya namun apa yang didapat?  Ternyata ayahnya sudah meninggal dunia dalam keadaan bersujud.

Maha Besar Allah.  Alangkah bahagianya Abu Tsa`labah meninggal dunia sesuai dengan apa yang diinginkannya. Kelak ketika Hari Kebangkitan tiba, ia akan dibangkitkan dalam kondisi sujud. Ia telah mendapatkan khusnul khatimah (akhir –kematian- yang baik) di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala.

***

Kematian merupakan sebuah kemestian. Siapa saja dan apa saja pasti akan mendapatkan pergiliran datangnya kematian. Baik orang beragama maupun tidak beragama sekalipun.

Kematian menggambarkan akhir dari titik perjuangan dunia. Kematian merupakan detik-detik yang menentukan seseorang akan mendapat penghargaan apa kehinaan.

Sangat jarang orang yang bermimpi bagaimana seharusnya kelak ia mati, karena yang terbayang jika disebut kata ‘kematian’ yang ada di benaknya hanyalah rasa takut dan ngeri.

Padahal pada batas tertentu manusia diberi kemudahan Allah Subhanahu Wata’ala  memperisiapak jauh hari dalam kondisi apa dan bagaimana kita akan mengahiri hidup ini. Hanya saja, yang tak kalah penting,  kematian berkaitan dengan takdir Allah Subhanahu Wata’ala.

Manusia hanya bisa berdoa pada Allah agar bisa dimatikan dalam kondisi yang terbaik. Sebagai Muslim tentu saja menginginkan mati dalam kondisi khusnul khatimah (akhir yang baik). Supaya kematian tidak hanya sekadar sebagai sesuatu yang menakutkan dan mengerikan, maka kematian seharusnya dijadikan sebagai ‘kesadaran diri’. Setiap kali melakukan sesuatu hendaknya dipikir terlebih dahulu bahwa apa yang dilakukan ada kaitannya dengan kematian terbaiknya? Alangkah indahnya jika kita mati dalam kondisi syahid, di mana banyak sekali yang mengantar jenazah kita ke pemakaman dengan derai air mata kehilangan. Laiknya ulama-ulama besar semacam Ibnu Taimiyah, Ibnu Al-Jauzi, Ibnu Qayyim, Ibnu Hajar dan lain sebagainya yang diantarkan oleh beribu-ribu orang.

Coba kita luangkan waktu sejenak untuk melihat pada lembaran sejarah emas sahabat Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam. Mereka merupak generasi yang sama sekali tidak takut mati. Mereka punya pendirian:  “Mengapa kita takut mati sedangkan kematian itu pasti, yang terpenting ialah apa yang kita persiapkan sebelum kematian datang.”

Maka jangan heran jika pada lembaran sejarah emas mereka banyak didapati orang yang bukan hanya tak takut sama mati, namun menjadikan kematian sebagai kerinduan; menjadikan kematian sebagai pelipur lara dunia yang sungguh fana.

Di antara mereka sangat rindu dengan kematian. Bukan sekadar kematian tapi kematian yang luar biasa yaitu mati ‘syahid’.

Sebagian orang berharap bisa mati di medan perang (Syahid Fi Sabilillah). Ada yang ingin mati ketika berdakwah, ada yang ingin mati ketika bersama Rasulullah, ada yang ingin mati di majelis ilmu. Kesemuanya terangkum dalam ‘mati syahid’.

Mereka hanya bisa merencanakan kematian, tetapi yang menentukan hanyalah Allah Subhanahu Wata’ala. Khalid bin Walid misalnya, ia sangat mendabakan mati syahid di medan jihad, dan berpuluh-puluh peperangan yang ia ikuti dan mendapat kemengan gemilang, namun ternyata ia mati bukan di medan perang tapi di ranjang.

Abu Bakar pun mati dalam kondisi sakit di ranjang. Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thali mati dibunuh musuh.

Apapun dan bagaimanapun cara kematiannya, mereka sepakat untuk mendambakan ‘mati syahid’, sehingga mati dalam kondisi apapun asalkan ada niatan untuk mendapat kesyahidan maka itu adalah impian ideal.

Khusnul Khatimah

Setelah membaca kisah-kisah sahabat Nabi berkaitan dengan kematian, lantas apakah kita akan menyikapi kematian sebagaimana kebanyakan orang?

Kebanyakan orang sangat takut mati. Padahal kalau dihadapi dengan ketakutan maka orang akan semakin berusaha melupakan dan menjauhinya. Orang yang takut mati, disebut Nabi telah dijangkiti penyakit wahn sebagaimana.  Wahn adalah cinta dunia dan takut mati.

Semakin otang takut mati maka ia akan menjauhi kematian dan akan semakin cinta dunia, semakin dunia dicintai maka orang akan semakin malas untuk mempersiapkan bekal kematian.

Muslim yang cerdas akan merencanakan, mempersiapkan, berdoa sedemikian rupa untuk menghadapi datangnya mati. Sedangkan Muslim yang dungu ia selalu mengikuti hawa nafsu sehingga takut pada kematian bahkan lupa untuk mempersiapkan amal ketika ia tiba.

Kesadaran akan kematian, dan perencanaan akan kematian akan berpengaruh besar pada langkah hidup kita menuju kematian khusnul khatimah. Kematian yang didambakan setiap orang ketika dijemput malakul maut (malaikat maut) menuju kehidupan yang abadi. Akhir yang baik merupakan titik final dan penentuan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Semoga kita semua dimatikan Allah dan kelak menghadapNya dengan keadaan akhir yang terbaik (khusnul Khatimah).Wallahu a`lam bis shawab.*/Mahmud Budi Setiawan, Lc, penulis adalah peserta PKU VIII UNIDA Gontor 2014

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:makkahMasjidil Harammatimeninggal
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Megawati Ajak Perempuan Indonesia Contoh Cut Nyak Dien
Tulisan selanjutnya IBF 2015 Ditutup Secara Sederhana oleh Ketua IKAPI DKI

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Berita
15 Juli 2026 09:27
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?