Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Hidup Sesudah Mati

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Juni 2015 06:23 6:23 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Juni 2015 06:23
Bagikan
Bagikan

“Mālik yaum al-dīn, ‘Dialah Allah, sang penguasa hari pembalasan’.” [QS: Al-Fātiḥah [1]: 3]

 

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi  

ORANG yang bijak adalah mereka yang mengerti tujuan hidupnya. Diantaranya, dia sadar bahwa kewajibannya adalah untuk ‘beribadah’ kepada Allah (QS. Al-Dzāriyāt [51]: 56).

Karena Allah adalah pemilik dan penguasanya (mālik). Bahkan hari akhirat pun menjadi milik-Nya (Qs. 1: 3). Maka, ibadahnya merupakan bentuk kesadaran bahwa dia hanya seorang ‘abd (hamba). Dan, rajanya adalah Allah. Dan ibadah yang diproyeksikan untuk negeri akhirat merupakan pengingat siapa saja bahwa ada kehidupan setelah kematian. Ada akhirat setelah dunia. Kata Allah, “Akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia ini.” (Qs. Al-Dhuhā [93]: 4).

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Dan jika kehidupan akhirat itu lebih baik (khair) daripada dunia ini  tidak berarti bahwa dunia ini tidak penting. Dunia tetap penting. Hanya saja, dunia adalah “jembatan” menuju akhirat.

Ia bukan tempat abadi bagi manusia, karena manusia pasti meninggalkannya. Ketika sampai ajalnya, dia akan kembali jua ke kampung hakiki, kampung akhirat (tempat tinggal terakhir). Itu sebabnya dunia dan akhirat tidak boleh dipisahkan. Karena Islam tak mengenal dikotomi: menceraikan kehidupan dunia dari akhirat. “Carilah olehmu sekalian kenikmatan negeri akhirat, tapi jangan lupakan bagianmu di dunia ini.” (QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 77).

Maka, dunia ini harus dimenej dengan baik, agar hidup di permukaannya tak sia-sia.

Imam Ibn Qudāmah memberi nasihat penting mengeni dunia ini. Beliau menulis dengan sangat indah;

“Ketahuilah! Semoga Allah merahmatimu. Dunia ini adalah “ladang” akhirat, tempat keuntungan berniaga, tempat mengumpulkan bekal, dan menumpuk barang-barang yang menguntungkan. Orang yang lebih dahulu mendapatkannya dialah yang menang. Di dalamnya orang-orang yang bertakwa sukses, orang-orang jujur menuai kejayaan, orang-orang yang beramal memanen hasil, sementara orang yang berleha-leha mereguk gelas kerugian yang tiada tara.

Dunia ini adalah angan-angan tempat kembali penghuni surga dan penghuni neraka.

Tentang penghuni neraka Allah berfirman: “Dan mereka (penghuni neraka) berteriak-teriak di dalam neraka sembari berkata, ‘Hai Tuhan kami, keluarkan kami dari neraka ini agar kami beramal selain amal-amal (kejelekan) yang sudah kami kerjakan.” (QS. Fāṭir [35]: 37).

Allah juga berfirman mengenai mereka: ‘Dan jika engkau menyaksikan ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan ke dunia dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman…” (QS. Al-An’ām [6]: 27). (Imam Ibn Qudāmah, Waṣiyat al-‘Ālim al-Jalīl Muwaffaq al-Dīn Ibn Qudāmah al-Maqdisī, taḥqīq: Muḥammad Khair Ramadhān Yūsuf (Beirut-Lebanon: Dār Ibn Ḥazm, 1418 H/1997 M: 9).

Mizan dan Hisab

Para penghuni neraka berangan-angan ingin hidup kembali ke dunia. Karena mereka ingin beramal-saleh, karena ketika hidup di dunia kerjanya hanya bermaksiat, berlaku zalim, berbuat jahat, dan durhaka kepada Allah.

Para penghuni nenara mengira akhirat tidak ada. Kehidupan akhir adalah dunia ini. Dunia adalah segala-galanya. Mereka mengira bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Mereka mengira mereka itu hewan atau benda mati saja, sehingga tak mungkin mendapat mīzān (timbang amal) dan ḥisāb (hitung amal).

Bagi seorang Muslim, sekali lagi, dunia adalah kesempatan untuk “bercocok-tanam”. Karena hidup ini akan berakhir. Manusia tidak kekal dan tak abadi. Termasuk selain manusia: hewan, tumbuhan, dan makhluk yang ada di muka bumi. Hanya Allah yang kekal-abadi.

“Semua yang ada di muka bumi ini akan hancur-binasa. Dan yang kekal hanya wajah Tuhanmu, yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS: Al-Raḥmān [55]: 26-27).

Itu sebabnya sejak awal Allah sudah ingatkan bahwa diri-Nya adalah mālik yaum al-dīn: penguasa hari pembalasan, hari akhirat kelak.

Artinya, Allah mengingatkan bahwa ada kehidupan setelah kematian, ada akhirat setelah dunia. Dunia dan akhirat berada dalam genggaman-Nya. Karena Allah adalah raja diraja. Maka jangan sia-siakan dunia ini, karena ujungnya ada di akhirat. Dan di sana adalah hari pembalasan, yaum al-dīn. “Tahukah engkau apa itu hari pembalasan? Lalu, tahukah engkau apa hari pembalasan itu? Yaitu hari dimana seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan ketika itu dalam kekuasaan Allah.” (QS. Al-Infiṭār [82]: 17-19).

Ya, hari pembalasan itu adanya setelah kehidupan ini. Jangan dikira setelah mati di dunia tidak dihidupkan lagi oleh Allah di akhirat. Karena mati terjadi dua kali, sebagaimana hidup juga dua kali (Qs. Ghāfir [40]: 11). Sebelum ini kita memang mati, kemudian dihidupkan. Nanti akan dihidupkan di akhirat, setelah hidup kita sekarang ini. Di akhirat itu kita akan di-ḥisāb (hitung amal), kata ‘Abdullāh ibn Mas’ūd. Dan kita akan diberi balasan setimpal (jazā’), kata ‘Abdullāh ibn ‘Abbās. Dan pada yaum al-dīn Allah lah satu-satunya penguasa. Dialah raja tunggal, mālik yaum al-dīn: yang berhak menghitung amal dan memberi balasan. Dan itu terjadi setelah mati dari dunia ini. Benarlah peringatan khalifah ‘Umar ibn al-Khaṭṭāb, “Hari ini adalah waktu beramal, minus hisab. Nanti di akhirat waktu hisab, minus beramal.”

Mālik yaum al-dīn mengingatkan kita bahwa hari ini bukan akhir. Dunia adalah waktu yang paling dekat (adnā), karena usia manusia tak panjang. Dunia juga tempat yang paling hina (danī’ah) dan lembah kehinaan (danā’ah) bagi yang jatuh ke “pelukannya” dan menjadi korban “sengatannya”. Itu sebabnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memberi nasehat indah kepada ‘Abdullāh ibn ‘Umar ibn al-Khaṭṭāb, “Hiduplah di dunia ini laksana orang asing atau seorang musafir yang hanya mampir.”

Artinya, jangan anggap dunia ini segalnya. Jangan! Ada hidup sesudah mati. Maka manfaatkanlah dunia yang serba dekat dan cepat ini sebagai “ladang” amal-saleh. Impor semua kebaikannya ke akhirat. “Kalau engkau berada di pagi hari, jangan tunggu sore hari. Dan, jika engkau berada di sore hari, jangan nantikan pagi hari”, kata Ibn ‘Umar pula. Karena dunia adalah kesempatan emas, the golden opportunity. Dan ini hanya disadari oleh mereka yang cerdas: yang mengerti benar bahwa ada “hidup sesudah mati”. Fa’tabirū yā ulī al-albāb!

Staf Pengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan-Sumatera Utara

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amalduniahidupibadahkebaikanmati
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Penting Bagi Masyarakat Memahami Sejarah Islamisasi Di Nusantara
Tulisan selanjutnya Al Quran, Dijadikan Syarat Kelulusan, Gugup Saat Ujian

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?