Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Beniatlah untuk Taqwa pada Allah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Juni 2017 12:50 12:50 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Juni 2017 12:50
Bagikan
sufi
Bagi orang beriman momen terindah mereka adalah saat di waktu hening mereka tenggelam dalam kesyahduan beribadah kepada Allah:
Bagikan

DALAM satu kesempatan, saya bertemu dengan mantan musisi yang kini telah hijrah dan banyak menekuni aktivitas dakwah.

Pada momen tersebut, saya bertanya kepadanya, “Bang, apa yang harus kita lakukan untuk membuat umat Islam sadar dengan agamanya?”

Secara langsung, sang musisi religius itu kontan menjawab, “Kita ajak manusia untuk sholat, Bang. Tidak akan tegak agama ini kalau umat tidak mau sholat, dan bagaimana orang akan sholat kalau dia tidak takut kepada Allah. Ketika seseorang sudah tidak takut kepada Allah, apapun akan dia lakukan,” urainya.

Jawaban tersebut cukup sederhana. Tetapi, hal itu ternyata merupakan bahasan yang diuraikan dengan cukup detail oleh Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin.

Di dalamnya diuliskan, “Dalil ‘aqli menyatakan, Allah Ta’ala benci dan sangat tidak menghendaki perbuatan maksiat atau dosa ang dilakukan oleh para hamba-Nya. Sebab, perbuatan maksiat merupakan kehendak iblis terkutuk yang tentu hendak menjerumuskan manusia ke lembah kehinaan (neraka).

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Bagaimana mungkin seorang Muslim terlepas dari kekuasaan hukum Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia?”

Baca:  “Taqwa dan Bahagia”

Dan, hal tersebut mestinya menjadi kesadaran setiap umat Islam, entah dia rakyat biasa, lebih-lebih para pemimpin.

Lebih lanjut Al-Ghazali memberikan ilustrasi menarik.

“Apabila kekuasaan seorang kepala desa disimpangkan (disalahgunakan), maka kekuasaan dan kewibawaannya pun akan segera menurun di mata masyarakat yang tengah dipimpinnya. Dan, perbuatan kepala desa itu sudah tentu akan bertentangan dengan kehendak masyarakat banyak, serta merugikan kepentingan mereka secara bersama-sama. Akibatnya, kedudukan sebagai kepala desa akan dipertaruhkan, karena masyarakat sudah tidak mau menerima lagi kepemimpinannya, dan tidak mau mempercayainya sebagai pemimpin. Pada kenyataannya, perbuatan maksiat dan dosa lebih menguasai kehidupan mausia itu sendiri, dan sama sekali tidak merugikan Allah Ta’ala.”

Oleh karena itu, setiap individu Muslim mestinya menyadari hal berbahaya ini. Pada masalah maksiat dan dosa, sungguh itu merupakan perbuatan yang dipilih sendiri, dan tentu saja dipertanggungjawabkan sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. Kemudian, tidaklah setiap dosa dan maksiat dilakukan, melainkan ketakutan seseorang kepada Allah dikalahkan oleh keinginan mendapatkan keuntungan semu.

Baca:  Harga Ketakwaan bagi Orang Beriman

Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam buku biografi Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhah mengutip ungkapan dari suami putri Rasulullah, Siti Fatimah. “Janganlah seorang hamba sekali-kali berharap kecuali hanya kepada Allah, dan tidak takut kecuali kepada dosa-dosanya.”

وَمَآ أَصَـٰبَڪُم مِّن مُّصِيبَةٍ۬ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٍ۬

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuura [42]: 30).

Untuk itu sangat penting kita memahami dan menghayati apa yang diungkapkan oleh Imam Ahmad, “Jadikanlah senantiasa taqwa sebagai bekalmu. Letakkan selalu akhirat di depan matamu.”

Ungkapan Imam Ahmad tersebut mungkin merupakan pemahaman atas apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shalalallahu ‘Alaihi Wassallam, manusia agung yang sekalipun dijamin masuk Surga, namun usahanya dalam ibadah agar sempurna taqwanya kepada Allah sangat luar biasa.

Sampai-sampai, Siti Aisyah pun dibuat bertanya dengan cara Nabi beribadah. “Apakah perlu engkau sampai seperti ini, ya Rasulullah, hingga bengkak dan pecah kakimu karena lamanya berdiri menghadap Rabbmu, padahal telah Dia ampuni bagimu segala yang telah berlalu, yang sedang berlaku, maupun yang akan kautuju?”

Maka, tidak heran jika umat Islam, para ulama, umara (pemimpin) yang komitmen mengikuti (ittiba’) kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam senantiasa menghiasi hari-harinya dengan beragam ibadah.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa. ” (QS. Al-Baqarah [2]: 21).

Dan, di antara perintah ibadah yang dimaksudkan “agar kalian bertaqwa” adalah puasa. Dalam kata yang lain, jika bulan puasa, tak mampu mendorong seorang Muslim menapaki jalan taqwa, maka jalur manalagi yang akan ditempuhinya?

Baca:  Buktikan Iman Dengan Amal

Sedangkan puasa itu sendiri merupakan perisai, setengah dari kesabaran, diberikan beragam fadhilah (keutamaan), dibuka pintu Surga dan setan-setan dibelenggu. Lantas, bagaimana mungkin seorang hamba yang beriman masih melihat perkara lain lebih utama daripada berupaya menempa diri untuk bertaqwa?

Oleh karena itu, waspada dalam hal ketaqwaan ini sangat penting, jangan sampai diri terperosok pada kemunkaran. Sebab hakikat hidup ini adalah ibadah dan penghambaan hanya kepada Allah Ta’ala.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18).

Ibn Katsir menjelaskan bahwa ini adalah perintah untuk diri kita senantiasa bertaqwa kepada-Nya dengan banyak melakukan muhasabah (intropeksi diri) apakah dalam keseharian, sepanjang tahun dan sepanjang hayat lebih banyak amal kebaikan atau sebaliknya, sebelum Allah sendiri yang menghisab (memperhitungkan) amal-amal kita.

Tentu saja derajat taqwa bukan sebuah pemberian laksana hidayah, ia harus diperjuangkan dengan sepenuh tenaga. Dan, apakah kita bisa menjadi orang bertaqwa, Sayyidina Ali berkata, “Pemberian dari Allah itu sesuai dengan niatnya.”

Dalam kata yang lain, jika ada niat diri menjadi orang bertaqwa, maka Allah pun akan membukakan jalan. Semoga Ramadhan 1438 H ini, Allah memudahkan langkah kita meniti jalan ketaqwaan. Wallahu a’lam.*/Imam Nawawi           

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:berimanImanketaqwaansurgataqwa
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Qatar dan Misi Kemanusian ke Indonesia
Tulisan selanjutnya “Teliti Ekonomi Pribumi, Mudir Pristac Raih Gelar Doktor Sejarah”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?