Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Jujur dalam Sejarah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 September 2017 12:39 12:39 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 September 2017 12:39
Bagikan
Bagikan

Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang untuk dapat menghargai sejarah; jangankan menghargai sejarah orang lain, memahami sejarah dirinya pun luput dari ingatan.

Sungguh Rabbul ‘Aalamien adalah Dzat yang Maha pandai dalam memutarkan roda zaman, menuturkan kalam dalam firmanNya yang mulia: “Tilkal ayyaam nudaawiluhaa bainan naasi; Hari-hari tersebut, Kami gulirkan di antara manusia …” [Qs. Alu ‘Imraan/3:140].

Rasuulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutnya dengan “Annaz zamaan qadistadaaro; Sesungguhnya waktu terus bergulir.” [HR. Bukhari Muslim dari Abi Bakrah radhiyallaahu ‘anh]. Itulah yang disebut “sunnah mudaawalah”, ketentuan yang Maha Kuasa dalam membuat siklus kehidupan bagi manusia untuk dijadikan pelajaran berikutnya.

Terkadang kita begitu bangga dengan masa lalu, namun tanpa sadar kita tengah kehilangan masa depan. Terkadang ada pula yang meremehkan masa lalu, tanpa bisa berbuat banyak untuk masa depan. Bahkan ada pula yang kurang bisa menghargai masa lalu, namun sangat menikmati buah hasil perjuangan masa lalu. Tentu,  yang seharusnya adalah berbuat adil dalam menyikapi masa lalu dan mensyukurinya dengan mengambil banyak hikmah di balik perjalanannya yang panjang. Ibarat pepatah Arab mengatakan: “Gharasas saabiquuna fa akalnaa, afalaa naghrisu liya’kulal laahiquuna; Orang-orang terdahulu sudah menanam, lalu kita memetik hasilnya. Apakah kita sudah mampu menanam, untuk bisa dipetik hasilnya oleh generasi mendatang?”. Lahaa maa kasabat wa ‘alaiha maktasabat …

Baca: Indonesia Tak Lepas dari Sejarah Islam

Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk, benar-benar wajib menjadi rujukan, di mana sejarah dalam berbagai perspektifnya mengandung makna yang beragam; kisah-kisah [qashash], perjalanan [sunanun, sieratun], diharapkan menjadi pelajaran dan bahan analisa [nazhar] bagi orang-orang yang memiliki akal fikiran [Qs. Yuusuf/12:111, Qs. Alu ‘Imraan/3:137].

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Adapun di balik pengkajian sejarah, terdapat tiga hikmah yang dapat kita petik; menjadi penjelas [bayaan], menjadi petunjuk [hudan] dan menjadi nasihat [mauizhah] bagi orang-orang yang bertakwa [Qs. Alu ‘Imran/3: 138].

Babak berikutnya, kini sejarah sudah menjadi satu disiplin ilmu dengan nama yang berbeda-beda; Apabila dikaitkan dengan penanggalan disebut tarikh, sedangkan apabila dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi [hawaadits] disebut sierah.

Pandangan ini dikuatkan oleh Louis Gottschalk dengan sebutan geschicte [berasal dari kata geschehen, artinya sesuatu yang terjadi].

Baca: Manuskrip Mushaf Tertua dalam Sejarah Islam

Effat as-Syarqawi sebagaimana dikutip Prof. Badri Yatim menambahkan, semangat mendalam suatu masyarakat terkait dengan seni, sastra, religi dan moral disebut tsaqaafah [culture, kebudayaan] dan hal-hal terkait dengan kemajuan mekanis dan teknologis seperti politik, ekonomi dan teknologi disebut hadhaarah [civilization, peradaban].

Sayyid Quthb dalam “Fiet Tariekh Fikratun wa Minhaajun“, memiliki pandangan unik. Menurutnya, sejarah bukanlah sekedar peristiwa, melainkan tafsiran-tafsiran atas peristiwa dan segala yang berhubungan dengan dinamisme masyarakat. Lebih lengkap lagi Muhammad Kheir Abdul Qadier memaparkan dalam “Taarikhunaa Fied Dhauil Islaam“, bahwa sejarah bukanlah catatan kelahiran dan kematian belaka atau sebuah biografi dan gambar tokoh kepahlawanan, melainkan sebuah proses perjuangan masyarakat dalam mencapai tujuan. Meminjam ungkapan sejarawan Melayu Prof SM. Naguib al-Attas, sejarah itu “bukanlah masa lalu yang mati, melainkan kekinian yang hidup”.

Karenanya, seorang kritikus sejarah ‘Imaaduddin Khaliel dalam “Pengantar Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan Sejarah” menegaskan: “Pemahaman yang terpisah-pisah terhadap sejarah, menyebabkan pandangan yang parsial [tidak utuh], salah satunya terlalu membesar-besarkan segi-segi politik dan militer, namun mengecilkan wilayah akidah, sosial dan peradaban”.

Orang yang tidak jujur dan senang  memutus mata rantai sejarah, berarti dia seorang pengkhianat sejarah. Fa’tabiruu Yaa Ulil Abshaar … Laqad kaana fie qashashihim ‘ibratun li ulil albaab …*/ H.T. Romly Qomaruddien, Ketua Bidang Ghazwul Fikri dan Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bayaanhikmah; penjelashudannasihat mauizhahpetunjuksejarah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Min Aung Hlaing, Jagal Myanmar Penyulut Pembantaian di Rakhine?
Tulisan selanjutnya Warga Rohingya: Kami Membutuhkan Perlindungan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Feature
13 Juli 2026 06:38
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?