Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Apakah Umat Islam Masih Perlu Berpolitik?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Desember 2017 14:47 2:47 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Desember 2017 14:43
Bagikan
Ratusan ribu umat Islam peserta Reuni Alumni 212 sedang shalat subuh berjamaah di Lapangan Medan Merdeka Monas, Jakarta, Sabtu (02/12/2017).
Bagikan

REALITAS praktisi politik dewasa ini –baik muslim ataupun bukan- yang terlihat buruk di publik, kerap kali membuat sebagian umat Islam alergi dengan politik. Memang tidak bisa dipungkiri, kebanyakan politikus dalam meraih kekuasaan terkadang cendrung menghalalkan segala cara. Sewaktu belum mendapat kekuasaan janji manis diumbar, ketika sudah menjadi penguasa ucapannya menjadi hambar, bahkan banyak yang terjerat kasus korupsi.

Namun, sebenarnya yang menjadi persoalan mendasar, politik atau oknum politiknya? Bila oknum politik yang bermasalah, kenapa mesti alergi politik? Kalau umat Islam tidak peduli politik, lantas siapa yang akan memegang kendalinya?

Jika mau berkaca pada sejarah Nabi Muhammad SAW, umat Islam seharusnya tidak alergi politik. Sebagai catatan penting misalnya, bandingkan dakwah nabi antara di Makkah dan Madinah. Selama 13 tahun di Makkah, umat Islam sama sekali tidak berkuasa dan tidak ada peluang untuk itu karena semua kendali kekuasaan berada di tangan orang kafir Qurays.

Sejauh yang bisa dilakukan oleh nabi dan umat Islam pada masa ini adalah dakwah secara verbal (baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi), sembari tetap sabar dan tidak reaktif. Namun perhatikan apa yang dilakukan orang kafir Qurays dengan kekuasaannya? Ruang nabi dipersempit, dakwah dihalang-halangi, sahabat yang lemah disiksa, Islam didiskreditkan, bahkan menjelang hijrah ada upaya untuk membunuh nabi.

Bandingkan dengan kondisi nabi dan para sahabat saat di Madinah. Meski hanya 10 tahun, tapi mereka memiliki kekuasaan. Adanya piagam Madinah, ekspedisi jihad yang terus bergulir hampir 3 bulan sekali, umrah qadha, korespondensi dengan penguasa internasional pada tahun ketujuh, , delegasi yang dikirim kepada nabi untuk masuk Islam atau perjanjian damai, bahkan jumlah umat Islam yang meledak pada Fath Makkah (Pembebasan Makkah) adalah bukti konkret bagaimana politik, kekuasaan yang dijalankan dengan benar memiliki dampak besar dalam menciptakan perubahan.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Baca: Syamsuddin Arif: Politik Islam berbeda dengan Islam Politik

Kenyataan tersebut diungkap bukan berarti mengecilkan peran dakwah secara verbal, atau jalur lain selain kekuasaan. Ini diangkat karena betapa ruginya umat Islam bila sampai alergi dengan politik, kekuasaan. Dalam suatu riwayat  disebutkan:

السلطان ظل الله في أرضه

“Kekuasaan adalah bayang-bayang Allah di bumi.” (Ibnu Atsir, Usud al-Ghâbah, 929) Bahkan, Dzun Nurain, Utsman bin ‘Affan RA pernah berujar:

إن اللّه ليزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآن

“Sesungguhnya Allah mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dicegah dengan al-Qur`an.” (Ibnu Katsir, Qashah al-Anbiyâ, 265). Bisa jadi, orang sering mendengar al-Qur`an, mengakui kebenaran nilainya, menganggapnya agung, tapi ia tetap menjalankan kemaksiatan dan kemungkaran. Lain halnya dengan penguasa yang membuat undang-undang untuk melarang kemaksiatan dan kemungkaran, pasti jauh lebih langsung terasa efek jeranya.

Tak berlebihan ketika Imam Malik berkata:

لو أن ليّ دعوةً مستجابةً ، لادَّخرتها لأُولي الأمر

“Sekiranya aku memiliki doa mustajab (dikabulkan), maka sungguh akan aku simpan untuk penguasa.” Sebab beliau menyadari betul betapa besar peran penguasa dengan kekuasaannya dalam menciptakan perubahan besar.

Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Qashas al-Anbiyâ (II/265) dalam konteks Daud melawan jalut, ketika menyebut ayat 251 dari Surah al-Baqarah:

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini,” beliau menafsirkan:

لَوْلَا إِقَامَةُ الْمُلُوكِ حُكَّامًا عَلَى النَّاسِ لَأَكَلَ قَوِيُّ النَّاسِ ضَعِيفَهُمْ

“Seandainya tidak ada kekuasaan yang ditegakkan oleh para penguasa terhadap manusia, maka orang yang kuat akan menghabisi orang yang lemah.”

Dalam Sirah Nabawiyah juga bisa diambil dua contoh. Pertama, Sa’ad bin Mu’adz yang merupakan Kepala Suku Aus ini, setelah masuk Islam berkat dakwah Mush’ab bin Umair, dengan kekuasaan yang dimiliki, mampu mengislamkan 99 % sukunya. Uniknya, mereka tidak merasa terpaksa melakukannya. Kedua, Tsumamah bin Utsal, pernah dengan leluasa berumrah di Makkah, padahal pada waktu itu orang kafir Quraiys yang mengendalikan Makkah. Apa sebab mereka tak berani mengusir atau menyakiti Tsumamah bin Utsal?

Tsumamah tak disakiti karena merupakan penguasa Yamamah. Jika orang Quraiys nekat mengusiknya, sama saja akan mengobarkan api peperangan. Di sisi lain, mereka juga sangat tergantung pada ekspor gandum dari daerah Tsumamah. Jelas saja mereka takut diembargo secara ekonomi. Ternyata benar. Ketika orang-oranga Qurays diembargo Tsumamah, mereka kelabakan, kalang-kabut, terjadi kelaparan besar-besaran di Makkah sehingga pembesar Makkah sampah mengutus delegasi kepada nabi untuk membujuk Tsumamah untuk mengatasi krisis pangan.

Baca: Yusril Ajak Umat Islam Sadar dan Berperan Dalam Politik

Kasus penutupan Alexis baru-baru ini juga sebagai bukti. Bagaimana dengan kekuasaannya mampu menutup tempat maksiat ini dengan tempo yang cepat. Beberapa tahun yang lalu pun Dolly bisa ditutup oleh Risma, juga melalui jalur kekuasaan. Sebuah perubahan besar yang mungkin tidak bisa dilakukan secepatnya oleh ratusan dai dengan hanya berceramah dan nasihat yang baik saja.

Kita pernah mendengar kutipan orang-orang yang mengatakan, “Sudahlah aksi 212 itu adalah politik” atau sindiran-sindiran yang mengatakan, “jauhkan agama dari politik!”.

Ya, memang benar. Berdoa meminta pemimpin yang baik dan bijak juga bisa kategori politik. Bekumpul dan berharap Indonesia damai juga bisa juga kategori berpolitik. Bahkan yang melarang orang berkumpul dan berdoa juga berpolitik. Hatta, yang seharusnya menjaga dan mengamankan warga yang punya hak berkumpul dan menyuarakan pendapatnya, justru lebih berpolitik.

Jadi jika umat Islam berpoliti, so what gitu?  Selama aksi umat rapi, santun, menjaga ketertiban dan keamanan, sudah tugas aparat menjaganya karena itu dilindungi hukum.

Sebagai penutup, ungkapan Tokoh Kenamaan Turki, Necmettin Erbakan, bisa dicamkan dengan baik, “Siyaseti önemsemeyen Müslümanları, Müslümanları önemsemeyen siyasetçiler yönetir.” Kurang-lebih artinya demikian: Muslim yang tidak peduli dengan politik, maka akan dipimpin politisi yang tak peduli pada Islam. Wallâhu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dakwahislamIslam dan politikkekuasaanKorupsimadinahmakkahMuslimpolitikumat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Islam dan Singa yang Tertidur
Tulisan selanjutnya Presiden: Peran Guru Tetap Tak Tergantikan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?