Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Tipisnya Keimanan di Hari Akhir

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 September 2021 11:23 11:23 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 September 2021 11:45
Bagikan
keimanan hari akhir
Bagikan

Oleh: Alimin Mukhtar

Hidayatullah.com |IMAN adalah hakikat ruhiyah yang ghaib, tidak memiliki wujud fisik yang dapat diraba. Namun, karena ia sebenarnya merupakan “sesuatu”, maka ia memiliki tanda-tanda yang bisa menunjukkan kehadiran maupun absennya.

Menurut Al-Qur’an, kesediaan seseorang untuk mengekor pada bisikan-bisikan setan, baik dari golongan jin maupun manusia, serta keridhaan kepadanya sebenarnya merupakan pertanda lemahnya keimanan kepada Hari Akhir. Demikian pula sebaliknya.

Renungkanlah, firman Allah ini

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

وَلِتَصْغَىٰ إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا مَا هُمْ مُقْتَرِفُونَ

“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan perkataan-perkataan yang indah-indah kepada sebagian yang lain untuk menipu. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan itu. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu; mereka merasa senang kepadanya; dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (Q: al-An’am: 112-113).

Demikianlah kenyataannya. Jika bukan karena iman yang lemah, tidaklah mungkin manusia rela dan senang mengekor bisikan setan, bahkan “berjuang” untuk menegakkannya. Sebab, sudah bukan rahasia lagi bahwa seluruh bisikannya hanyalah bayangan fatamorgana, yang terlihat indah dan menggiurkan, namun sebenarnya kosong tak bermakna.

Allah berfirman

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا

“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka.” (QS: An-Nisa’: 120)

Terkait ayat diatas, Imam Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah cerita (dari Allah) tentang fakta sebenarnya. Sebab, setan suka menjanjikan dan membangkitkan angan-angan kosong dalam benak para pengikutnya. Dikesankannya bahwa merekalah para pemenang yang berjaya di dunia dan akhirat, padahal sebenarnya ia telah membohongi dan menipu mereka. Oleh karenanya, Allah berfirman: “…padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka.”

Keimanan kepada Hari Akhir bukanlah perkara sepele. Ia adalah pondasi akidah Islam yang paling pokok, setelah keimanan kepada Allah. Dalam Al-Qur’an, tidak kurang 20 kali keimanan kepada Hari Akhir dirangkai bersama keimanan kepada Allah, dimana pada sebagian besarnya tanpa menyebut rukun-rukun yang lain.

Misalnya, dalam surah an-Nisa’: 59, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Contoh-contoh serupa dapat kita temukan di banyak tempat, seperti al-Baqarah: 62, 126, 177, 228, 232, 264, dsb.

Mengapa demikian?

Sebab, dalam kehidupan dunia ini, manusia membutuhkan ‘penyemangat’ yang membuatnya konsisten menembus beragam tantangan, sekaligus ‘ancaman’ yang mengekangnya dari aneka keburukan. Pikiran tentang upah dan penghargaan duniawi terkadang memang dapat membuat seseorang berjuang keras, namun selalu ada saja orang yang tidak tertarik kepada jenis upah dan penghargaan yang dijanjikan itu.

Ketakutan terhadap denda dan hukuman duniawi terkadang juga mampu membuat seseorang berhenti dari kejahatan, namun sepanjang ia merasa aman dari akibatnya dengan jalan rekayasa, trik, atau pemberian suap kepada para penegak hukum, maka hatinya tidak akan ciut lagi.

Oleh karenanya, keimanan kepada Allah selalu dirangkai dengan keimanan kepada Hari Akhir; agar motivasi amal shalih manusia tidak mudah luntur, sekaligus rasa takutnya kepada hukuman tidak gampang melempem. Hanya di akhiratlah hukum tidak bisa dipermainkan, hakimnya mustahil disuap, dan semua pasti dibalas dengan seadil-adilnya.

Di sana, setiap orang akan mendapatkan haknya dengan tepat, dan menerima konsekuensi perbuatannya secara pas. Di sana pula setiap orang yang merasa dizhalimi tidak akan kehilangan harapan terhadap proses pengadilan, dan para penjahat tidak akan pernah bisa merasa aman dari sanksi.

Dengan demikian, manusia akan selalu hati-hati dan waspada dalam meniti kehidupannya di dunia. (Lihat: Qs. al-A’raf:8-9, an-Nisa’: 40, az-Zalzalah: 7-8, al-Kahfi: 49, dsb).  Dalam konteks ini, Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: «لو يعلمُ المؤمنُ ما عند الله من العقوبة، ما طَمِع بِجَنَّتِهِ أحدٌ، ولو يَعلمُ الكافرُ ما عند الله من الرَّحمة، ما قَنَطَ من جَنَّتِهِ أحدٌ».

[صحيح.] – [رواه مسلم.]

“Seandainya seorang mukmin mengetahui hukuman yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun yang mengharapkan surga-Nya. Dan seandainya seorang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun yang berputus asa dari Surga-Nya.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah).

Hadits ini menggambarkan betapa dahsyatnya akhirat, sehingga – kalau saja – seorang mukmin melihat langsung hukuman-hukuman Allah disana, ia takkan berani mengharapkan Surga. Bukankah Allah Maha Tahu atas segala sesuatu, dan setiap perbuatan manusia pasti dimintai pertanggungjawaban?

Padahal, siapakah manusia bersih dari kesalahan dan dosa? Namun sebaliknya, rahmat Allah sangatlah lapang, sehingga – kalau saja – seorang kafir mengetahuinya, ia tidak ragu untuk bertaubat dan mengharap Surga-Nya.

Maka, ketika seseorang gemar mengekor hasrat nafsu dan memperturutkan bisikan setan, atau sebaliknya sangat malas menekuni jalan Allah dan enggan menunaikan kewajiban agamanya, dapat disimpulkan bahwa keimanannya kepada Hari Akhir sangat lemah. Tidak ada cara lain untuk mengembalikannya ke posisi fitrah kecuali sekuat tenaga membenahi keimanannya kepada Hari Akhir itu. Wallahu a’lam.*

Pengasuh PP Arrahmah Putri- Batu, Jawa Timur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hari akhirkeimanan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya isis prancis Anadolu: Intelijen Prancis Tahu Lafarge Danai ISIS dalam Perang di Suriah
Tulisan selanjutnya Syekh Surkati, Al-Irsyad dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?