Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Gubernur dengan Kendaraan Keledai

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Oktober 2014 07:53 7:53 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Oktober 2014 07:28
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

KEHIDUPAN para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam banyak dipenuhi berbagai macam pribadi yang menawan yang menjadi suri teladan bagi generasi yang datang kemudian. Pangkal pribadi menawan karena semata-mata karena dorongan keikhlasan dan ajaran Islam, bukan karena pencitraan dan ingin publikasi. Begitu pula para pemimpin-pemimpin Islam di era khalifah Abu Bakar dan Umar Bin Khatab. Mereka adalah orang-orang yang berjuang untuk meninggikan agama Allah dan kemuliaan Islam.

Salah satu diantaranya ialah Salman Al Farisi. Ia adalah salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam yang sangat sederhana dan salah seorang sahabat yang gagah berani lagi cerdas otaknya. Ia mampu menciptakan teori penggalian parit sekitar Madinah, tatkala pasukan musuh mau menggempurnya. Ia juga dikenal sebagai salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam yang memiliki akhlakul karimah, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam memasukkannya ke dalam golongan keturunan Nabi (Ahlul Bait).

Di era Khalifah Umar, Salman ditugas sebagai gubernur wilayah Mada’in. Namun Salman menolak .

“Jabatan itu manis waktu memegangnya, tapi pahit waktu melepaskannya“. Tapi karena ini amanah, ia menerimanya sebagai pengabdian kepada Allah.

Umar mengangkatnya bukan tanpa alasan. Seperti diketahui, Salman adalah muallaf muda kelahiran negeri Persia. Ia dijuluki al Farisi sesuai tanah tumpah darahnya, Persia. Dialah pemuda Islam yang berjasa dengan ide penggalian parit panjang dalam melingkari kota Madinah saat Perang Khandaq.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Di zaman pemerintahan Umar, Salman mendaftarkan diri untuk ikut dalam ekspedisi militer ke Persia. Ia ingin membebaskan bangsanya dari genggaman kelaliman Kisra Imperium Persia yang mencekik rakyatnya dengan penindasan dan kekejaman.

Dipilihnya Salman al Farisi sebagai Gubernur di Negeri Madain di Kufah, karena Umar menginginkan seorang amir yang berasal dari suku dan daerah setempat.

Alkisah, berangkatlah Gubernur Salam ke Kuffah memulai tugas barunya menjadi pemimpin penduduk Mada’in. Mendengar gubernur baru akan datang, para penduduk Kufah memadati jalan raya menyambut gegap gempita.

Mereka menyangka Sang Gubernur akan diiringi oleh rombongan besar pasukan. Hingga lelah rakyat menunggu, tiba-tiba datang seseorang dengan menunggang seekor keledai berjalan lambat-lambat.

Melihat ada orang asing yang datang, para penduduk pun bertanya. “Apakah di jalan kau melihat Salman al Farisi yang diutus oleh Khalifah Umar bin Khattab?”

“Akulah Salman al Farisi,” jawabnya singkat

“Jangan mengejek dan mencibir kami, seperti Bani Israil ketika berkata kepada Musa, ‘Apakah engkau mengejek kami?’ Musa menjawab, ‘Aku berlindung kepada Allah sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil.” Kata penduduk Kufah mengutip surah al Baqarah ayat 67.

“Aku berlindung kepada Allah sekiranya aku menjadi satu dari orang-orang yang jahil. Ini bukan waktunya lagi untuk bercanda,” kata Salman.

Penduduk Kufah tentu tak percaya. Maklum, kala itu, penduduk Iraq hidup berdampingan dengan negara Persia yang memiliki istana megah yang dipenuhi emas, perah, sutra dan permadani yang indah. Karena itu, kala itu penduduk Kufah mengira agama Islam adalah agama yang megah dan mewah. Tapi ternyata mereka salah.

“Kami datang secara bersahaja. Kami hidup untuk jiwa, dan kami datang untuk mengangkat derajat iman di dalam hati.”

Gaji Salman sebagai Gubernur Kufah dari Umar sekitar 6.000 Dinar dalam setahun (Kurs Dinar saat ini Rp. 1.800 ribu). Namun gajinya diberika pada fakir miskin. Ia membagi gajinya 3 bagian, sepertiga untuk dirinya, sepertiga untuk hadiah dan sepertiga sisanya untuk sedekah.

Satu hari misalnya, ketika ia melihat seorang Suriah (Syam) kerepotan membawa barang dagangannya, spontan Salman membantu mengangkat. Di tengah jalan, di antara anggota masyarakat ada yang mengenalnya dan mengucapkan salam “Assalamu’alaikum ya Amir“.

Mendengar nama Amir disebut, orang Suriah itu kaget bukan kepalang. Ia tidak mengira, jika “kuli“ yang membawa barangnya adalah Gubernur Negeri Mada’in. Dengan penuh rasa Homsat, orang itu meminta barangnya untuk dibawanya sendiri. Tapi Salman tidak membolehkannya. Ia terus membawanya sampai ke tempat tujuan.

Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash datang ke rumah Salman, ia melihat Salman sedang sedih. “Demi Allah,“ kilah Salman kepada tamunya, “Saya bukan karena takut mati atau mengharap kemewahan hidup di dunia, tapi ingat pesan Rasulullah “Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengelana“. Padahal barang yang saya miliki cukup banyak, “ kata Salman mengakhiri tangisnya.

“Bangunan rumah Salman, hanya sekedar dapat digunakan bernaung di waktu panas dan berteduh di kala hujan. Jika penghuninya berdiri, kepalanya terantuk sampai langit-langit, dan jika berbaring kakinya sampai ke dinding. Sedang di dalamnya tak ada perabotan kecuali sebuah piring untuk makan dan baskom nuntuk persediaan air. Meski demikian, ia tetap risau, menganggap barang-barang yang dimilikinya masih berlebihan.“ (Buku Bunga Rampai Ajaran Islam no 14 , Badruzzaman Busyairi)

Di rumahnya, Salman tanpa ragu mengerjakan sendiri pekerjaan yang semestinya digarap pelayannya. Sedang rumahnya sangat sederhana, tidak mengesankan sebagai rumah seorang Gubernur.

Ia memiliki baju jubah yang juga ia kenakan sebagai alas untuk tidur. Rumahnya lebih menyerupai rumah rakyat kecil yang miskin.
Menjelang wafat, dalam keadaan masih menjadi gubernur, para penduduk melihat harta warisan Salman yang akan ditinggalkan. Tidak lebih, sebuah sorban besar yang ia gunakan untuk alas duduk ketika ada tamu yang datang serta ia gunakan untuk duduk di pengadilan yang ia adakan.Ia memiliki tongkat yang ia gunakan untuk bertopang, berkhutbah dan menjaga diri; serta sebuah wadah untuk makan, mandi dan berwudhu.

Saat sakaratul maut, Salman menangis. Penduduk Kufah pun bertanya, “Kenapa engkau menangis?”

“Aku menangis karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah bersabda kepada kami, “Hendaklah bekal kalian di dunia seperti bekal orang yang bepergian. Sementara kita semua lebih suka menumpuk harta dunia,” demikian Salman mengutip hadits yang diriwayatkan Ahmad.

Penduduk lantas menjawab, “Semoga Allah mengampunimu. Lantas sebanyak apa harta yang kau miliki Salman?”

“Apa kalian meremehkan ini? Aku takut pada hari kiamat akan ditanya tentang sorban, tongkat dan wadah ini,” ujarnya.

Inilah kisah mulia tentang kezuhudan seorang Gubernur Salman al Farisi di saat para pemimpin berebutan kekuasaan, harta dan kekayaan sertah pamrih.*/AU Shalahuddin Z, dari berbagai sumber

Bersambung ke.. Gubernur Miskin Yang Sering Pingsan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Allahislampejabatpemimpinshalatumat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pagar Gedung Putih Kembali Dilompati Orang
Tulisan selanjutnya Mantan Pemimpin Jamaat-e-Islami Ghulam Azam Wafat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Berita
3 Juni 2026 12:30
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?