Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

11 Ciri Orang Bahagia Menurut Rasulullah [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Juni 2015 09:54 9:54 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Juni 2015 09:53
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ali Akbar bin Aqil

SETIAP orang pasti ingin bahagia. Sayangnya, sebagian orang menilai kebahagiaan terletak pada harta dan materi. Artinya seseorang memandang dirinya dan dipandang oleh orang lain sebagai orang yang bahagia kalau memiliki harta melimpah, deretan mobil, hamparan tanah yang luas dan seabrek fasilitas dunia lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam memiliki kriteria tersendiri untuk menilai apakah seseorang masuk sebagai golongan yang bahagia atau tidak. Beliau berpandangan bahwa bahagia itu bukan sebuah kondisi tapi pilihan. Kita bisa memilih untuk menjadi orang yang bahagia meski pun kita bukan termasuk orang yang kaya.

Rasul membahasakan bahagia dengan kata ‘thuba’ yang berarti beruntung, bahagia, dan sukses. Dari kata thuba inilah kita bisa menemukan jejak-jejak orang yang bahagia untuk kita jadikan sebagai evaluasi diri apakah diri kita sudah termasuk di dalamnya atau belum.

Pertama, orang yang bahagia adalah orang yang asing dalam kesalehan

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Beruntunglah orang yang asing.” Sahabat bertanya, “Siapakah orang-orang asing itu?” Nabi menjawab, “Orang asing (yang beruntung itu) adalah orang-orang shalih yang berada di tengah masyarakat yang banyak melakukan keburukan, yang melakukan kemaksiatan lebih banyak daripada yang melakukan ketaatan.”

Inilah kriteria orang bahagia menurut Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Yakni orang yang tetap istiqamah mengerjakan kebajikan, meski di sekelilingnya lebih pro kepada keburukan. Orang asing seperti ini tidak ambil pusing dan peduli, apakah ia dinilai negatif atau positif oleh orang-orang yang hanyut dalam sungai kemaksiatan. Yang ia pedulikan adalah meraih ridha Allah Subhanahu Wata’ala. Ia tidak ikut hanyut ke dalam arus keburukan yang sedang mengaliri kehidupan di suatu zaman.

Orang yang asing dalam kesalehan selalu berupya memiliki pendirian yang kuat, tidak berubah-ubah layaknya bunglon yang berubah kulit pada masa tertentu. Pagi dan sore, siang dan malam, ia tetap konsisten dalam mengabdi kepada Allah sembari terus berusaha memperbaiki diri dan orang lain untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Kedua, orang yang beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam meski tidak menjumpainya.
Jumlah manusia yang beriman kepada Rasul dan semasa dengan beliau tidak sebanding dengan jumlah umat Islam yang hidup sepeninggalnya. Jarak waktu yang begitu panjang telah memisahkan antara kehidupan kita dengan masa Rasul. Di sinilah letak keistimewaannya. Meski tidak berjumpa secara langsung namun tetap beriman terhadap risalah yang disampaikan oleh Nabi. Orang-orang ini masuk dalam golongan kaum yang beruntung. Seperti sabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wassallam,

“Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku dan berbahagialah dan (beruntunglah) orang yang tidak melihatku dan beriman kepadaku (7x menyebut).” (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, kita harus mati-matian mempertahankan iman dalam hati kita sampai akhir hayat. Godaan dan tantangan di depan semakin kuat dan keras. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan umur kita berakhir dalam keadaan iman, dalam keadaan husnul khatimah.

Ketiga, orang yang beramal berdasar ilmu

Kita pernah bahkan sering mendengar ungkapan yang artinya, Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Ilmu , sedikit atau banyak, yang sudah kita raih harus kita amalkan. Mengamalkan suatu perbuatan harus didasari ilmu agar tahu mana yang benar dan yang salah. Imam Bukhari pernah berkata, Ilmu sebelum beramal dan berucap. Ucapan ini menunjukkan pentingnya ilmu sebagai dasar dalam melakukan suatu tindakan.

Oleh karenanya, menjadi sangat penting untuk mengamalkan ilmu dan mengamalkan sesuatu berdasarkan ilmu. Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Berbahagialah orang yang beramal dengan ilmunya.” (HR. Bukhari)

Keempat, orang yang ikhlas

Ikhlas artinya bersih, suci, murni. Orang yang ikhlas (mukhlis) adalah orang yang melakukan amal kebaikan karena Allah (Lillaahi ta`ala), tanpa embel-embel, tanpa mengharap imbalan, pujian, dan penghargaan dari selain-Nya. Beramal dengan ikhlas tidak akan membuat seseorang mabuk kepayang oleh pujian pun juga tidak melemah karena hardikan dan cacian dari manusia.

Orang yang ikhlas dikategorikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sebagai orang yang beruntung, orang yang sukses, orang yang berhasil. Sabda beliau, “Berbahagialah orang-orang yang ikhlas, mereka adalah pelita-pelita hidayah yang dari mereka setiap fitnah yang gelap menjadi terang.” (HR. Abu Nu`aim).

Kelima, orang yang mampu menahan lidahnya

Ada bunyi pepatah, Lidahmu Harimaumu yang pas menggambarkan betapa besarnya pengaruh yang ditimbulkan oleh lisan. Ucapan yang terlontar dari lisan tidak lagi bisa ditarik. Ucapan itu menjadi catatan dalam kehidupan seseorang.

Lidah memang bentuknya kecil namun akibat yang ditimbulkan begitu besar, lebih besar dari bentuk lidah itu sendiri. Karenanya, Rasul memerintahkan kepada kita untuk berkata baik. Kalau kita tidak mampu, maka diam adalah pilihan terbaik. Di zaman penuh fitnah seperti sekarang ini, sangat penting untuk mengendalikan ucapan. Tidak melapas dan melempar ucapan dengan begitu mudah.

Perhatikan dan lihat baik-baik apakah pada ucapan yang akan kita sampaikan, mengandung manfaat atau sebaliknya. Jika bermanfaat, sampaikanlah. Jika tidak, tahan dan ini jauh lebih selamat.

Siapa yang mampu mengendalikan lidahnya ia akan tergolong sebagai orang yang beruntug. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Berbahagialah orang yang dapat menahan lidahnya…” (HR. Baihaqi).* (bersambung)

Penulis adalah wakil Ketua MIUMI Malang Raya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ali Akbar bin AqilbahagiaImanNabi MuhammadOrang Bahagiarasulullah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Minoritas Kristen Turki Punya 4 Perwakilan di Parlemen
Tulisan selanjutnya Empat Perguruan Tinggi Kaji Cetak Biru Gerakan Ekonomi Muhammadiyah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Berita
4 Juni 2026 14:01
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?