Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Bekerjalah dan Cari Kebahagiaan Sejati

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Januari 2019 11:34 11:34 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Januari 2019 11:37
Bagikan
Bagikan

DIKISAHKAN oleh Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin pada Bab Keutamaan Bekerja dan Mencari Penghidupan tentang dialog Nabi Isa ‘alayhissalam dengan seseorang.

Nabi Isa bertanya, “Apa pekerjaanmu?” Lelaki itu menjawab, “Aku hanya beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala saja.”

Nabi Isa bertanya kembali, “Siapa yang menanggung kebutuhan hidupmu sehari-hari?”

Lelaki itu menjawab, “Saudaraku.”

Nabi Isa pun bersabda, “Saudaramu itu lebih banyak ibadahnya dalam penilaian Allah Ta’ala daripada apa yang sudah kamu lakukan.”

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Demikianlah Islam memberikan panduan bagi kita mengisi kehidupan ini. Allah sama sekali tidak memandang rendah orang yang bekerja, mencari kebutuhan sehari-hari bagi keluarga, daripada mereka yang hanya sibuk beribadah tanpa memikirkan kehidupan dunia.

Kisah di atas juga menyiratkan satu pelajaran bahwa umat Islam mesti seimbang di dalam memandang kehidupan. Ibadah yang dilakukan hendaknya tak membuat kita malas bekerja, sehingga hidup tergantung kepada orang lain. Allah justru mencintai orang yang bekerja untuk mencegah dirinya tergantung kepada orang lain, apalagi sampai hidup dengan meminta-minta.

Jadi, bekerja dengan niat yang benar untuk menjaga kemuliaan diri dan keluarga adalah ibadah yang tidak saja baik, bahkan terkategori mulia dan mendapatkan banyak janji kebaikan dari Allah Ta’ala seperti orang-orang yang berjihad di jalan-Nya.

Baca: Berani Bekerja

Al-Ghazali kembali menyajikan sebuah kisah dalam kitab monumentalnya itu, Ihya Ulumuddin.

“Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam duduk bersama para Sahabat di masjid Nabawai, Madinah. Seorang pemuda yang kuat dan kekar terlihat melintas di dekat masjid untuk pergi berdagang. Lalu di antara para Sahabat ada yang berkata, ‘Alangkah mulianya pemuda itu jika masa mudanya yang kuat dan sehat digunakannya untuk berjihad di jalan Allah Subhanahu Wata’la.’

Mendengar itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Janganlah kalian mengatakan seperti itu. Sebab jika pemuda tadi berusaha dengan maksud melepaskan diri dari ketergantungan kepada orang lain, dan untuk tujuan menghindarkan diri dari meminta-minta, maka ia telah berjihad di jalan Allah Subhanahu Wata’ala. Dan jika ia berusaha untuk menghidupi kedua orangtua dan anak-anaknya yang lemah, maka ia juga telah dianggap sebagai berjihad di jalan Allah Subhanahu Wata’ala. Namun, jika usaha dagang yang ia lakukan hanya untuk memperlihatkan kekuatan demi kebanggaaan atas dirinya sendiri, maka ia berada di jalan setan yang tersesat.” (HR. Thabrani).

Dalil tersebut memberikan penjelasan gamblang kepada kita mengapa Khalifah Abu Bakar, sekalipun telah menjadi pemimpin besar, namun tetap memilih berdagang, meski akhirnya diatur sedemikian rupa agar dapat fokus mengurusi umat.

Baca: Ingin Kaya, Bekerjalah! Jangan Gadaikan Iman

Demikian pula dengan Salman Al-Farisi, yang tetap berdagang sekalipun telah menjadi seorang gubernur. Menariknya, hal itu dilakukan bukan karena tak puas dengan gaji sebagai pemimpin. Melainkan untuk mendapatkan kemuliaan dari Allah dengan bekerja. Hal ini bisa dilihat, saat wafat, Salman ternyata meninggalkan pakaian dengan banyak sekali tambalan.

Oleh karena itu, mari jauhi kemalasan di dalam diri. Jangan pernah merasa terlalu tua untuk bekerja. Jangan pula merasa masih muda untuk mengambil tanggung jawab dengan bekerja. Muda atau tua, jika memiliki niat dan tujuan bekerja yang benar, Insya Allah akan mendapatkan banyak kemuliaan dari sisi Allah Ta’ala.

Bekerjalah penuh semangat, bekerjalah penuh harapan, dan bekerjalah untuk memberikan arti bagi kehidupan. Tak peduli panas atau hujan, semangat bekerja harus terus menyala dan berkobar di dalam jiwa. Kemudian dapatilah kebahagiaan sejati dunia-akhirat.

Lantas, bagaimana jika pekerjaan yang digeluti tidak bergengsi di tengah-tengah masyarakat? Tetaplah bekerja dengan semangat dan kesungguhan, sejauh itu halal dan dilakukan dengan niat yang benar lagi ikhlas, maka insya Allah kemuliaan akan Allah berikan.

Suatu waktu, saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam datang dari Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum Muslimin. Banyak Sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Rasulullah pun bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”

Lelaki yang bekerja sebagai tukang batu itu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar. Lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya. Karena itulah tangan saya kasar.”

Mendengar jawaban itu, Rasulullah menggenggam tangan orang itu, dan menciumnya seraya bersabda, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya.”

Baca: Kaya untuk Dakwah

Dengan kata lain, kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh jenis pekerjaan seseorang. Tetapi, apakah pekerjaan itu halal, dilakukan dengan niat yang benar lagi ikhlas. Di sini kita mesti memahami bahwa sesungguhnya keberkahan dan kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala sama sekali tidak bisa ditentukan oleh jenis pekerjaan seseorang. Apakah ia profesor atau tukang cor. Apakah ia direktur atau tukang plitur. Maka, tidak ada kata lain selama hidup di dunia ini, mari bekerja dengan penuh semangat dan antusiasme tinggi.

Tetapi ingat, bekerja bukan untuk membangga-banggakan diri atas orang lain. Bekerja bukan untuk berlomba menumpuk kekayaan. Sebab jika itu menjadi motivasi diri, Rasulullah menjelaskan keadaan demikian adalah kesesatan.

Maka, perhatikanlah bagaimana mereka yang bekerja siang malam, lupa ibadah, dan hanya mementingkan diri sendiri. Allahu a’lam./* Imam Nawawi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bekerjacari nafkahIhya' UlumuddinImam Ghazalipekerjaanprofesirasulullah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Islamisasi Ilmu Al Attas dalam Aplikasi
Tulisan selanjutnya Sekjen PBNU Klarifikasi Pernyataan KH Said Soal ‘Selain NU Salah Semua’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?