Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Pesantrennya Kaum Intelektual Muda Didikan Barat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Januari 2014 08:49 8:49 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Januari 2014 08:49
Bagikan
Sejak awal pendirianya JIB memang tak bisa lepas dari jejak langkah tokoh-tokoh pergerakan Islam
Bagikan

Oleh: Beggy

Bagaimana pun, JIB adalah wadah para pemuda Muslim yang saat itu begitu haus akan Islam dan berpikiran terbuka karena pendidikan Barat. Para anggota JIB juga mampu menjawab berbagai tudingan miring terhadap Islam.  Berbagai persoalan diangkat oleh anggota-anggota JIB melalui Het Licht, atau pun diskusi-diskusi, tak hanya soal kebangsaan, tapi juga seputar peranan perempuan, bunga bank, dan lain-lain. Mereka terbiasa untuk berdebat, teguh mempertahankan pendapat, tetapi tetap berhubungan baik.

Perbedaan-perbedaan pendapat itu pula yang akhirnya menimbulkan ‘perpecahan’ di JIB. Setelah mengalami masa-masa kejayaan dengan bertambahnya cabang dan anggota JIB, langkahnya mulai surut. Setelah masa-masa awal kepemimpinan Sjamsurizal, kemudian JIB mengalami masa perkembangan pesat di bawah Wiwoho Purbohadidjojo selama empat tahun (1926-29).

Baca Juga

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

Bahkan  tahun 1931 JIB mampu mendirikan sekolah HIS di Tegal dan Tanah Tinggi (Batavia). Kepemimpinan Wiwoho kemudian digantikan oleh Kasman Singodimedjo hingga tahun 1935. Di masa akhir kepemimpinan Kasman, JIB mengalami pergolakan yang cukup dahsyat, badan kepanduan mereka, NATIPIJ memisahkan diri dari JIB.

NATIPIJ yang diketuai Roem merasa mereka perlu menjadi badan yang independen. Namun perpecahan yang paling besar adalah ketika Roem dan Jusuf Wibisono memutuskan keluar dari JIB dan membentuk organisasi baru bernama Studenten Islam Studieclub (SIS). Mereka merasa JIB tak mampu lagi menampung perkembangan intelektualitas mahasiswa Islam. Maka pada Desember 1934 SIS berdiri dibawah prakarsa Roem dan Jusuf Wibisono. Pada tahun kedua, SIS mengeluarkan majalah Moslime Reveil dengan motto surat Ar Ra’ad ayat 11, “Allah tidak merubah nasib sesuatu bangsa, apabila bangsa itu sendiri tidak merubahnya.”

JIB kemudian terus berlayar, walau tak mampu mengulangi prestasi di masa jayanya, dibawah nahkoda M. Arif Aini (1935-1937), Soenarejo Mangoenpoespito (1937-1942). Tinta sejarah mereka berhenti menetes ketika dibubarkan oleh pendudukan Jepang tahun 1942. Namun JIB tetap sebuah organisasi yang berkontribusi besar dalam pergerakan Islam di Indonesia. JIB adalah pesantrennya kaum intelektual muda didikan Barat yang mencintai Islam.

Buya Hamka menyebut para anggota JIB, “…yang lebih memperdalam pengertian dan amalan agama sehingga Islam tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi menjadi dasar dan pandangan hidup.”

Jejak langkah para anggota JIB kemudian tercatat dalam lembaran besar sejarah bangsa. Para anggotanya tersebar, turut meruntuhkan penjajahan, mengisi bangsa dengan jiwa Islam. Kelak banyak para anggota JIB menjadi tokoh-tokoh kunci di Masyumi, seperti M. Natsir, Kasman Singodimedjo, M. Roem, Jusuf Wibisono dan lain-lain. Maka tidak salah jika kita menyebut JIB sebagai menjadi generasi  emas intelektual Islam di tanah air.

Kelak, ratusan dari mereka, menggerakkan jutaan umat mengarungi pergolakan negeri dalam bahtera Masyumi.

Tak heran jika Buya Hamka menyanjung jejak langkah yang ditorehkan para anggota JIB.

Menurutnya; “Intelek pejuang bekas didikan Haji A. Salim dan anggota Kernlingaam tadi, dengan sendirinya telah dapat menutup mulut kaum intelek didikan Barat, yang siang malam bermimpi bahasa belanda tadi, yang memandang Islam sebagai, ‘Islam Sontoloyo, santri gudikan atau kiyai bini banyak atau kolam masjid kotor atau Islam yang tidak bisa dipakai untuk kemajuan atau orang Islam harus menganut modernisasi, kalau perlu musti pandai berdansa’ dan sebagainya.” [HAMKA, “Pengharapan Kepada Intelektual Islam dalam Dari Hati ke Hati”, Pustaka Panjimas (2002)] .*

Penulis adalah pegiat komunitas Jejak Islam untuk Bangsa

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Lima Tahap Bagaimana Racun Rokok Merusak Organ-organ Tubuh
Tulisan selanjutnya IPW Desak Komnas HAM Investigasi Operasi Densus 88

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Muhammadiyah Tegaskan Kripto Tetap Haram Jadi Mata Uang, Ini Dasar Hukumnya Menurut Syariat

Berita
1 Agustus 2026 13:20
Iran Bantah Serang Pelabuhan Damietta Mesir, Menyinyalir Israel Lakukan False Flag
Mendikdasmen: KUII VIII Momentum Perkuat Persatuan Umat dan Dukung Pembangunan Nasional
MES Sebut Pertumbuhan Ekonomi Belum Berbanding Lurus dengan Kesejahteraan Masyarakat
Apa itu Project Panama? Mengapa Anthropic Menghancurkan Buku-Buku Langka Demi Melatih AI

Terbaru

  • Pemukim Ilegal ‘Israel’ Serbu Sejumlah Desa Tepi Barat
  • Iran Eksekusi Dua Pria Terpidana Mata-mata Israel
  • Presiden Suriah: Tergulingnya Rezim Assad Diperlukan Bagi Timur Tengah
  • Puluhan Warga Palestina Syahid dalam Dua Hari Serangan ‘Israel’, Turki: Netanyahu Sabotase Perdamaian
  • ‘Masjidnya Rasulullah Berfungsi sebagai Sekretariat Negara’
  • Gempa M 5,6–5,7 Guncang Mesir, Getaran Terasa hingga Sejumlah Negara Timur Tengah 
  • 152 Warga Palestina Syahid pada Juli, Tertinggi Tahun Ini
  • Kerusuhan antara Hindu dan Muslim, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Nepal?
  • Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi
  • Kementerian Perdagangan China Bantah Tuduhan Amerika Perihal Kerja Paksa di Xinjiang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?