Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
KajianSejarah

Jejak Kepedulian NU terhadap Masalah Palestina

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Oktober 2023 12:36 12:36 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Oktober 2023 12:35
Bagikan
Majalah Soeara Nahdlatoel Oelama
Bagikan

Melalui majalah Soeara Nahdlatoel Oelama, NU kala itu sangat aktif membela persoalan Palestina  

Hidayatullah.com | KETIKA menelusuri dokumen-dokumen lawas –baik dari koleksi pribadi hingga Perpusnas– ada suatu fakta menarik bahwa urusan Palestina (yang dijajah Israel bahkan hingga kini) itu menjadi faktor pemersatu internal umat Indonesia. Ini persis ketika Islam, Al-Qur`an dan Nabi Muhammad ﷺ dinista, maka akan menimbulkan reaksi persatuan umat Islam untuk menentangnya.

Saat masalah-masalah fundamental disinggung, maka umat bisa bersatu padu untuk menentangnya. Termasuk dalam masalah Palestina, dalam sejarah umat Islam di Indonesia, seakan sudah ijma’ di kalangan internal umat Islam untuk menunjukkan kepeduliannya.

Entah dengan doa, qunut nazilah, protes, demo dan lain sebagainya sebagai bentuk perhatian.

Tidak mengherangkan jika pada awal-awal abad dua puluhan, meski kalangan Islam tradisionalis dan modernis cendrung cekcok dalam hal-hal khilafiyah, tapi dalam urusan Palestina mereka bisa bersatu.

Baca Juga

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
Khutbah Jumat: Tauhid, Fondasi Peradaban yang Tak Pernah Runtuh
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

Sebut saja Muhammadiyah, Al-Irsyad dan Persis misalnya bisa bersatu dengan kalangan NU, Washiliyah dan lain-lain untuk urusan peduli Palestina yang dijajah dan dinista Israel. Tulisan ini akan berfokus pada jejak kepedulian NU dan tokohnya dalam membela Palestina.

Ada beberapa bentuk kepedulian NU dan tokohnya dalam masalah Palestina yang termanifestasi pada poin-poin berikut: penulisan artikel dan buku; qunut nazilah; dan pengiriman bantuan moril dan materil.

Penulisan Buku dan Artikel di Majalah

Pada tahun 1948, PBNU Bagian Penerbitan dan Penyiaran, menerbitkan buku anggitan KH. Saifuddin Zuhri berjudul Palestinda dari “Zaman ke Zaman”. Meski tebalnya hanya 84 halaman, setidaknya bisa menggambarkan jejak kepedulian NU dalam masalah Palestina.

Dalam pendahuluan buku ini, Ismail Banda memberi catatan menarik, “Buku ‘Palestina dari Zaman ke Zaman” jang sisusun oleh saudara Saidoeddin Zuhri akan merupakan satu ‘nafiri’ jang mendengung keras di angkasa, membangunkan umat Indonesia dan menarik perhatiannja terhadap Palestina.”

Artinya, dengan lahirnya buku ini maka NU dan tokohnya telah berkontribusi dalam menarik perhatian bangsa Indonesia terhadap Palestina.

File Majalah Soeara Nahdlatoel Oelama yang membela Palestina

Sedangkan H. Aboebakar, dalam pengantar buku ini menyatakan bahwa buku anggitan KH. Saifuddin Zuhri ini menimal memberikan gambaran kejiwaan yang sama antara bangsa Indonesia dan Palestina yang pernah dijajah.

Penerbitan buku seperti ini diharapkan menjadi penerang, suluh bagi bangsa Indonesia, khususnya dalam hal memperjuangkan kemerdekaan.

"Bahu-membahu dengan saudara-saudara kita kaum Muslimin di Palestina, jang senasib dengan kita," demikian tulisnya.

Dengan pernyataan jujur ini, menunjukkan bahwa penulisan buku seperti ini menunjukkan bagaimana kepedulian NU dan tokohnya kala itu terhadap urusan Palestina.

Kepedulian tentang masalah Palestina juga tak hanya dalam penulisan buku. Di dalam majalah-majalah NU pun, terlihat nyata. Sebagai contoh yang dimuat dalam majalah Berita Nahdllatoel Oelama (1938).

Ketika sedang hangat-hangatnya masalah Palestina kala itu, NU secara aktif memberitakan masalah Palestina melalui majalah ini.

Pada 1 Desember 193 (8 Syawal 1357), dalam majalah Soeara Nahdlatoel Oelama (No. 3/VIII/1938) diberitakan Pemandangan Ringkas mengenai Palestina.

Menariknya divsitu diceritakan bahwa jika selama ini yang berjuang di Palestina adalah penduduk setempat serta orang-orang Arab di sekitarnya, akan tetapi ternyata ada 3 putra Indonesia yang menjadi mujahid di sana sehingga salah satu dari mereka ada yang gugur syahid.

Pada majalah yang sama pada 1 Februari 1939 (11 Dzulhijjah 1357), diberitakan satu judul menarik “Tindakan H.B.N.O.  terhadap Oeroesan Palestina”. Berita ini sangat menarik karena menggambarkan bahwa NU dengan dengan organisasi lain seperti PSII, Al-Irsyad, Djamiyatul Washiliyah, Musyawaratut Thalibbin Borneo, Persyarikatan Ulama, Muhammadiyah dan lain-lain bersepakat untuk menyerahkan masalah ini supaya terpusat dalam Al-Majlis Islam A’la (biasa disingkat MIAI) di Surabaya.

Data ini membuktikan bahwa NU dan tokohnya peduli Palestina dan bisa bersatu dengan organisasi Islam lainnya dalam masalah Palestina.

Qunut Nazilah, Dukungan Moral dan Materi

Dalam buku  KH. Saifuddin Zuhri “Palestina dari Zaman ke Zaman” (1938: 34-40) diceritakan bagaimana kepeduluan Organisasi Islam besar di Indonesia ini begitu peduli dengan urusan Palestina. Ditulis bab “Dunia Islam Indonesia Solidair Pengurus Besar Nahdlatoel ‘Oelama Mengambil Tindakan”.

“Suasana dan penderitaan Ummat Islam di Palestina sangat menarik perhatian Ummat Islam di Indonesia. Apa jg. Sedang dirasakan oleh saudara2 kita disana, maka Ummat Islam di Indonesia pun ingin hendak ikut merasakan djuga....NAHDLATOEL ‘OELAMA sebagai satu2nja Gerakan Ummat Islam jang terbesar di Indonesia tentu sadja tidak akan tinggal diam.” (1948: 34)

Bukti kepedulian bisa dilihat pada poin-poin berikut:

Pertama, NU di bawah pimpinan KH. Mahfudz Siddiq pada 12 November 1938 telah mengedarkan selebaran berisi ajakan kepada berbagai ormas Islam seperti Hidayatul Islamiyah, Wartawam Muslim Indomesia. Al-Islam Solo, Muhammadiyah, Jam’iyatul Washiliyah dan lain-lain agar mengambil sikap dan tindakan terhadap masalah Palestina.

Dalam waktu itu juga, PBNU memerintahkan konsulat cabang dan ranting agaar angguta NU dan umumnya umat Islam Indonesia memberikan sokongan bantuan moril dan materil untuk dikirimkan kepada umat Islam Palestina yang sedang memperjuangakan cita-citanya untuk meraih kemerdekaan.

Bahkan, PBNU memerintahkan segenap anggotanya untuk melakukan qunut nazilah untuk membantu perjuangan rakyat Palestin.

Hal ini dilakukan tanpa risiko. Pada tanggal 27 Januari 1939, KH. Mahfud Siddiq dipanggil Bupati Surabaya bahwa aparat colonial Belanda di Jakarta  melarang diadakannya qunut nazilah.

“Pemerintah Hindia Belanda di Batavia melarang Ummat Islam Indonesia membantu dan memberla saudara-saudaranja Ummat Islam di Palestina, sekalipun sokongan itu berupa do’a sadja,” demikian tulis KH. Saifuddindi halaman 35.

Atas tindakan ini, PBNU mendapat apresiasi dari H. Agus Salim. Dalam Surat Kabar Tjaja Timoer. Disebutkan bahwa NU berusaha menggiatkan usaha persatuan gerak umat untuk membantu Palestina.

Usaha NU ini dinali besar sekali artinya bagi kepentingan dunia Islam. Agus Salim  juga mengingatkan bahwa momen seperti masalah Palestina, masalah agama, dan yang terkait merupakan saat tepat untuk menggalang persatuan umat.

Oleh karena itu, umat perlu bersatu bersama NU untuk mewujudkan kepeduliannya terhadap masalah Palestina.

Kepedulian terhadap Palestina terus berjalan, misalnya pada  5 Juni tahun 1969, GP Anshar bersama Pemuda Mahasiswa dan Pelajar Islam Indonesia bersepakat mengeluarkan pernyataan bersama yang di antara isinya:

"Menyerukan kepada Kongres Ummat Islam Indonesia  dan Pemerintah Republik Indonesia untuk menggariskan bantuan riil dan konkrit terhadap perjuangan pembebasan Palestina dan Masjidil Aqsha". (Majalah Kiblat, No. 2/XVIII/1969).

Sebenarnya masih banyak data yang belum terungkap mengenai kepedulian NU terhadap Palestina, tapi setidaknya data-data ini menunjukkan bahwa dalam lanskap sejarah Indonesia, kepedulian NU terhadap urusan Palestina begitu nyata.

Bukan hanya mendukung dalam masalah doa dan qunut, tapi juga materil dan moril sebagai bentuk kepedulian mereka kepada saudara sesama muslimnya yang kala itu juga mengalami penjajahan. Menariknya, momen seperti ini juga menjadi momentum persatuan umat Islam di Indonesia.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlineMajalah Soeara Nahdlatoel OelamaMasjidil AqshaNUNU dan Palestinapalestina
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Rasa Peduli, Menunjukkan Siapa Diri Kita
Tulisan selanjutnya Himbauan Munafik, Amerika Kirim Bantuan ke ‘Israel’ Tapi Larang Negara Lain Campur Tangan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan

Berita
30 Juni 2026 19:51
MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
MTQ Nasional 2026 di Semarang Siap Jadi Panggung Syiar Islam dan Budaya Nusantara
Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza

Terbaru

  • Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
  • BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan
  • OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
  • DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji
  • Pemkot Bukittinggi Gandeng HDM Persempit Ruang Gerak LGBT dan Berantas Narkoba
  • UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
  • MUI dan BPJS Kesehatan Perkuat Sinergi Dakwah
  • Pemerintah, DPR, dan MUI Sambut Positif Wacana RUU Pidana LGBT
  • Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
  • Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

13 Juni 2026 04:49
Kajian

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

26 Mei 2026 09:00
Kajian

Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya

26 Mei 2026 08:30
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?