Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Jalan Juang Founding Fathers Menentang Imperialis Asing [3]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Desember 2015 21:39 9:39 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Desember 2015 21:38
Bagikan
Fikiran Ra'yat: Sumber: Cindy Adams, 2014, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat
Bagikan

Sambungan artikel KEDUA

Oleh: Muhammad Cheng Ho  

Februari 1935, mereka diangkut ke Boven Digul. Bung Hatta dibuang karena aktif menulis dalam majalah yang diterbitkan partainya, Daulat Ra’jat.  Mereka kini hidup selama satu tahun di tengah hutan ganas, sungai penuh buaya, lingkungan berpenyakit malaria di Nieuw Guinea yang sekarang namanya Papua.

Tapi dasar Bung Hatta, ia tak bisa lepas dari buku. Dibawanya 16 peti buku ke sana. Buku-buku itu menjadi amunisinya untuk meluncurkan tulisan ke koran-koran di Batavia maupun Den Haag.  Di sana ia membaca tiap sore, menulis ke surat kabar Adil, Pandji Islam, Pedoman Masjarakat,  dan Pemandangan, menulis tentang filsafat Yunani Antik, dan mengajar ilmu ekonomi dan filsafat dua kali sepekan.

Di sana Bung Hatta tak mau jadi babu berdasinya penjajah asing. Meski ditawari kerja sama dalam proyek seperti menggali parit, membantu pekerjaan di rumah sakit, kantor telegraf, kantor sentral listrik atau menjadi pegawai dermaga, namun ia menolak dengan keras semua tawaran penjajah itu.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Untunglah Bung Hatta dan Sjahrir cepat dipindahkan ke Banda Neira, Maluku pada tahun 1936. Di sana lingkungannya berbeda dengan Digul, alamnya sungguh mempesona. Mereka serasa kembali pada peradaban, kembali hidup normal. Meski begitu, mereka tak lantas berleha-leha.  Mereka mengajar pemuda-pemuda setempat dan di luar Banda Neira. Bung Hatta juga memberikan bimbingan kursus tertulis ekonomi bagi para simpatisannya, menulis untuk surat kabar Pemandangan dan Batavia, dan menulis kembali kuliah-kuliah filsafat Yunani yang pernah ia berikan di Boven Digul  sampai terbit sebagai buku yang kelak menjadi maskawin untuk Rahmi, istrinya.

Pagi, 1 Februari 1942, pesawat terbang amfibi melayang di atas di Pulau Banda Neira dan mendarat di Gunung Api. Hatta dan Sjahrir diangkut ke Jawa. Ada satu pesan mendalam yang ditinggalkan Bung Hatta sebelum meninggalkan Banda Neira,“Suatu bantuan pembangunan harus bebas dari syarat politik apapun juga, bebas dari campur tangan asing dalam soal-soal dalam negeri bangsa yang menerima bantuan.”  (Tim Penyunting Tempo, 2010, Hatta Jejak  yang Melampaui Zaman)

3 Februari 1942, mereka tiba di Sukabumi dengan kereta api dari Surabaya, dan ditempatkan di rumah dalam kompleks Sekolah Polisi.  Akhirnya mereka kembali ke Jawa, setelah diasingkan tujuh tahun. Tiga tahun kemudian, tepatnya 17 Agustus 1945, atas nama rakyat Indonesia, Sukarno Hatta menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Meski begitu, penjajah Belanda tak sudi mengakui kemerdekaan Indonesia. Maka pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresinya di Yogyakarta, lalu menangkap pemimpin-pemimpin negeri ini seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, dan H. Agus Salim. Dan mereka dibuang ke Parapat dan Bangka.

November 1949, Bung Hatta pergi ke Belanda untuk perundingan diplomatik dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Konferensi yang dihadiri oleh Kerajaan Belanda, Republik Indonesia, dan gabungan negara-negara federal itu berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan bangsa Indonesia. Kelak ia mengungkapkan bahwa dalam hidupnya ada dua puncak yang memuaskan hatinya. Pertama, sebagai koproklamator kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan kedua, sebagai wakil bangsa Indonesia yang menandatangani dokumen pengakuan kedaulatan oleh pihak Belanda (H. Rosihan Anwar, 2010, Sutan Sjahrir Demokrat Sejati, Pejuang Kemerdekaan ). Bung Hatta pun pulang membawa senyum kemenangan.

Kini, kemerdekaan yang susah payah digapai dan dipertahankan itu dijual dengan murah meriah oleh pimpinan negeri ini kepada imperialis asing. Di mana kemerdekaan yang kita peringati tiap tahun? Setidaknya itu masih bersisa di dalam pasal konstitusi;

”Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:asingBelandaBung KarnofreeportimperealisPT. Freeport IndonesiaSoekarno
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dewan Minta Pemprov DKI Cabut Izin Trayek Metro Mini
Tulisan selanjutnya ‘Sang Penakluk’: Antara Futsal dan Dakwah Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak

Berita
13 Oktober 2026 05:30
Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi
Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?