Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Kedudukan Rakyat di Mata Umar bin Khathab

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Juli 2016 15:45 3:45 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Juli 2016 15:45
Bagikan
Bagikan

SOSOK Umar bin Khatab, di sepanjang sejarah, selalu menyimpan keteladanan yang patut ditiru. Dalam hal interaksi antara pemimpin dan rakyat misalnya, kisah-kisah berikut menunjukkan secara jelas bagaimana kedudukan rakyat di mata sahabat yang berjuluk al-Fârûq (pembeda antara yang haq dan batil) ini.

Sebagai pemimpin, ayah dari Hafshah ini, memosisikan rakyat sebagai sarana  untuk evaluasi diri. Saat Aslam menawarkan diri untuk membantu mengangkat bahan baku makanan untuk ibu dan anak yang kelaparan di malam hari, dengan tegas ditolak langsung oleh Umar, “Apakah kamu mau menanggung dosaku kelak di hari kiamat?”(Mahdhu al-Shawâb fî Fadhâili `Umar bin al-Khatthâb, 361).

Pada peristiwa ini, Umar menjadikan rakyatnya sebagai bahan evaluasi diri. Bila ada rakyatnya yang kesusahan, maka yang patut disalahukuman adalah dirinya sendiri, dia tidak mencari ‘kambing hitam’, bahukuman ia pulalah yang harus bertanggung jawab memecahukuman persoalan. Maka tidak mengherankan jika ia menolak tawaran Aslam, karena rakyat dijadikan sebagai cermin diri.

Sisi menarik lain yang tidak kalah penting terkait posisi rakyat di mata Umar, tidak seperti penguasa-penguasa dunia di zamannya, Khalifah Kedua ini memiliki pandangan unik mengenai standar kesuksesan. Bagi beliau, seorang pemimpin bisa disebut sukses jika tidak menyia-nyiakan atau menelantarkan rakyatnya.

Saat Mu`awiyah bin Khudaij menganggap Umar tidur siang (qailulah), belia pun merespon dengan tegas, “Jika aku tidur di siang hari, maka aku akan menyia-nyiakan rakyatku. Jika aku tidur di malam hari maka aku menyia-nyiakan diriku (karena tidak bisa bermunajat dengan Allah), maka bagai mana mungkin aku bisa tidur di kedua waktu ini wahai Muawiyah?”(Ahmad bin Hanbal,  al-Zuhd, 152).

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Doa Umar berikut juga bisa menjadi bukti bahwa beliau tidak ingin menyia-nyiakan rakyatnya sedikit pun, “Ya Allah aku sudah tua, kekuatanku menurun, wakyatku semakin banyak, matikanlah aku dalam kondisi tidak menyianyiakan dan menelantarkan rakyat.”(At-Thabaqât, 3/324-330).

Tak hanya itu, rakyat dijadikan bagian yang intim di masa kepemimpinannya. Ibnu Jauzi mengatakan dalam Kitab Manâqib (66,67) bagaimana keintiman Umar dengan rakyatnya, “Rakyat mendengar dengan baik perkataannya, mengetahui amalnya. Bahkan beliau tidak malu bergumul di pasar bersama mereka, menyelesaikan persoalan dengan baik di antara mereka.” Pada beberapa riwayat dijelaskan bahwa sebagian malam harinya banyak digunakan untuk memantau secara langsung kondisi rakyatnya yang di masa ini dikenal dengan istilah blusukan. Tapi, tidak untuk mencari citra, karena siapa yang mau mencari citra di malam hari yang sepi?

Pada suatu malam Thalhah bin Ubaidillah membuntuti Umar. Dari kejauhan, beliau terlihat sedang mendatangi rumah satu ke rumah lainnya. Di pagi hari, Thalhah bin Ubaidillah mendatangi  rumah tersebut. Ternyata di dalamnya ada seorang kakek tua renta buta yang sedang berbaring. Ketika ditanya perihal apa yang dilakukan Umar, kakek itu menjawab bahwa Umar sedang memenuhi kebutuhan serta menghilangkan kesusahannya (al-Hadâiq, 364). Pemimpin yang tidak memiliki hubungan intim dengan rakyat, tidak akan mungkin melakukan pekerjaan yang sangat sulit ini, kecuali dalam konteks pencitraan.

Di lain waktu, rakyat dijadikan Umar sebagai korektor bagi kekhilafannya. Pernah di muka umum, sahabat yang terkenal dengan keadilannya ini berpidato, “Wahai takyatku siapa saja di antara kalian yang melihat kekhilafan dariku, maka segera luruskan.” Saat itu juga berdirilah seseorang berkomentar, “Jika kami melihat kebengkokan(kesalahan) darimu, maka akan kami luruskan dengan pedang kami.” Umar pun berkomentar, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan pada umat ini orang yang meluruskan kesalahan Umar dengan pedangnya.”(al-Riyâdh al-Nadhrah, 2/381).

Yang tidak kalah penting, rakyat oleh Umar bin Khatab dijadikan sebagai mitra terbaik untuk bersama-sama memproduksi amal kebaikan. Kalau kita melihat kepemimpinannya, adalah cerminan riil dari firman Allah:

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ ٩٦

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahukuman kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”(QS. Al-A`raf[7]: 96).

Mereka kompak dalam beriman dan bertakwa, sehingga wajar jika dibukakan berkah dari langit dan bumi. Pada zamannya, wilayah Islam sedemikian luas, keadilan merata, kemakmuranpun menyebar ke penjuru negeri.

Dari pemaparan singkat ini, dapat disimpulkan, di antara kedudukan rakyat di mata Umar adalah sebagai berikut. Pertama, sebagai sarana evaluasi diri. Kedua, sebagai satandar kesuksesan pemimpin di dunia dan akhirat. Ketiga, sebagai bagian yang intim dari dirinya. Keempat, sebagai korektor bagi kesalahan diri. Kelima, sebagai mitra terbaik dalam memproduksi amal kebaikan.

Sebagai penutup, komentar Hurmuzan [Raja Khurasan] bisa dijadikan pelajaran ketika melihat Umar tertidur di masjid –sebagai gambaran bagaimana posisi Umar dengan rakyatnya-, “Engkau telah berbuat adil(kepada rakyatmu) sehingga engkau bisa tidur.” (al-Tarâtîb al-Idâriyah, 2/250). Wallâhu a`lam bi al-Shawâb.* /Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Kedudukan rakyatumar bin khatabumat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Arya Sandhiyudha: Ada Enam Dampak Jangka Panjang bagi Resolusi Laut China Selatan
Tulisan selanjutnya Erdogan Dikudeta, Militer Turki Ambil Alih Kekuasaan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?