Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Pribumi dalam Sirah Nabi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Oktober 2017 08:10 8:10 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Oktober 2017 09:15
Bagikan
Ilustrasi
Bagikan

KOTA Yatsrib (Madinah), yang di kemudian hari, menjadi tempat hijrah umat Islam, menyimpan cerita pilu sekaligus haru. Daerah yang menonjol di bidang agraris ini, ditempati Suku Arab Qahtan (Aus dan Khazraj), Yahudi dan para budak. Pada saat itu, suku Yahudi (Qainuqa, Nadhir dan Quraidhah) menguasai Madinah hampir pada segenap aspeknya. Sementara itu, Suku Aus dan Khazraj, hidupnya tak lebih baik dari golongan Yahudi.

Jika diperkenankan memakai idiom kelas, maka suku Yahudi pada saat itu adalah warga kelas satu dan terpandang. Sedangkan kelas penduduk Arab berada di bawahnya. Sedangkan level yang lebih rendah, ditempati hamba sahaya yang kebanyakan dari luar Arab (seperti: Afrika).

Untuk melanggengkan kekuasaanya, Yahudi memakai cara-cara picik dan licik. Suku Aus dan Khazraj yang sama-sama berasal dari keturunan Qahtan dan sudah lama menjadi penduduk asli Yatsrib, diadu domba agar mudah dikendalikan.

Perang Buats yang tersulut akibat provokasi orang Yahudi adalah contoh konkretnya. Selama lebih dari seratus tahun, Aus dan Khazraj tak berhenti berperang. Virus fanatisme golongan menjadi senjata utama Yahudi untuk mengobarkan api permusuhan antara keduanya. Belum lagi sistem ekonomi ribawi yang diterapkan Yahudi, turut serta membuat ekonomi masyarakat melemah. Yang kaya makin kaya, dan yang miskin semakin miskin.

Baca: Pidato Gubernur Anies: Pribumi Harus Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Sebenarnya, orang-orang Aus dan Khazraj sudah lelah menjalani konflik berdarah ini. Beberapa oknum di antara mereka sangat mendambakan figur agung yang bisa mempersatukan mereka sehingga menjadi entitas yang kuat. Setiap kali mereka berusaha bangkit dan melawan hegemoni Yahudi, mereka selalu diancam, ditakut-takuti dengan datangnya seorang nabi akhir zaman yang akan memerangi orang Arab bersama suku Yahudi. Rupanya, informasi ini dipegang secara baik oleh sebagian penduduk Arab di Yatsrib.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Ketika dakwah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menggema di seantero Madinah, Suku Aus dan Suku Khazraj tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Mereka tidak mau didahului oleh orang-orang Yahudi.

Pertemuan di Bukit Aqabah, baik yang pertama maupun kedua, menjadi tonggak penting yang akan membuat perubahan besar di Madinah. Komitmen berupa Baiat Aqabah I dan II yang dipegang erat oleh perwakilan Suku Aus dan Suku Khazraj, menjadi jembatan pemersatu bagi kedua suku ini sekaligus menjadi tuan rumah yang menyambut figur perekat: Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersama sahabat-sahabatnya.

Melalui tangan dingin Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi (yang diutus nabi bersama perwakilan masyarakat Madinah untuk berdakwah), Islam bisa cepat menyebar luas. Asad bin Zurarah (berasal dari Suku Khazraj), bersama Shuhaib berhasil mengajak kepala Suku Aus: Usaid bin Khudair, bahkan Saadz bin Muadz memeluk Islam. Dampak dakwah ini begitu dahsyat. Banyak penduduk Madinah yang masuk Islam secara diam-diam, konflik internal yang selama ini disulut Yahudi pun bisa diredam.

Ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, penduduk terbelah. Bagi penduduk yang diam-diam masuk Islam, mereka dengan suka-rela menyambut kedatangan sosok pemersatu ini. Sedangkan yang disenggol kepentingan politiknya seperti Abdullah bin Ubay, diam-diam menyimpan kedengkian.

Adapun Yahudi, kebanyakan dari mereka, meski tahu kebenaran Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, alih-alih beriman, justru mereka menolak, naik pitam dan menyimpan dendam. Kedatangan Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bagi mereka dinilai sebagai bencana yang bisa menggoyang singgahsana kepentingan mereka.

Pada faktanya, kehadiran nabi benar-benar menjadi perekat dan pemersatu. Kabilah Aus dan Khazraj melebur jadi satu entitas: Anshar. Sedangkan sahabat-sahabat yang berhijrah bersama nabi disebut: Muhajirin. Selain itu, ada pula identitas lain seperti ‘Ajami (non-Arab, seperti Salman Al-Farisi dan Bilal bin Rabbah) maupun Arab.

Di dalam Al-Qur`an pun ada penyebutan: Arabi dan ‘Ajami (QS. An-Nahl [16]: 103 dan Fushshilat [41]: 44). Bahkan, Yahudi dan Abdullah bin Ubay pun, pasca kemenangan gemilang nabi bersama sahabat pada perang Badar Kubra (2 H), terpaksa mengakui kekuatan Islam. Mereka diikat dalam perjanjian maha penting, yang diabadikan sejarah dengan istilah: Piagam Madinah, sebagai konstitusi pertama di dunia.

Adanya kaum Muhajirin-Anshar, Arab-’Ajami (non-Arab), penduduk asli-pendatang, justru bisa harmoni menjadi satu untuk bersama-sama menorehkan kebaikan dan manfaat sosial. Bahkan Yahudi pun (meski tak menerima Islam)  selama tidak menyalahi janji- demikian pula gembong munafik (Abdullah bin Ubay) diikat dalam perjanjian luhur (Piagam Madinah) untuk bersama-sama menciptakan stabilitas dan manfaat, dan kemaslahatan sosial.

Akan tetapi, jika adanya suku, ras, golongan dijadikan alat untuk memecah belah, maka nabi secara tegas mengecam dan segera meredam.

Misalnya, saat Suku Aus dan Khazraj kembali berseteru -akibat adu domba orang Yahudi renta bernama Sya`s bin Qais-, Rasulullah pun dengan sigap dan cepat mendamaikan keduanya agar tak terpancing ajakan jahiliah (Muhammad al-Shallâbi, Sirah Nabawiyah, 2/10).

Baca: Pandangan HAMKA tentang Usaha Pemisahan Pribumi dengan Islam

Demikian juga ketika sahabat dari golongan Muhajirin mendorong sahabat dari golongan Anshar, pada Perang Bani Musthaliq, karena hasutan orang Yahudi. Kondisi ini berbuntut konflik menegangkan yang didasarkan pada fanatisme golongan. Kedua pihak akhirnya memanggil kawannya masing-masing. Ketika nabi mendengar perbedaaan kontradiktif tersebut, beliau segera meredamnya dengan menegaskan bahwa hal itu adalah propaganda buruk jahiliah (HR. Bukhari).

Adapun nasib Yahudi (bukan melihat pada ras, tapi lebih kepada perilaku buruknya), yang suka melanggar janji, mengeksploitasi, memecah belah umat dan berkhianat (meski menguasai modal besar), pada akhirnya terusir dari Madinah. Yang berniat jahat, maka kejahatan itu akan kembali kepada dirinya sendiri.

Non Arab

Dari uraian singkat mengenai kondisi penduduk Madinah, baik sebelum maupun sesudah kedatangan nabi, ada poin penting yang dapat dipelajari.

Suku, golongan, ras, penduduk asli (pribumi) asli atau bukan, ada dan diakui di zaman Nabi.  Dalam sejarah umat Islam, penggunaan istilah “pribumi” juga dipakai oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Karena itu ada istilah Arab dan ‘Ajam (non Arab),  Anshar dan Muhajirin.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا خُوزًا وَكَرْمَانَ مِنَ اْلأَعَاجِمِ حُمْرَ الْوُجُوهِ فُطْسَ اْلأُنُوفِ، صِغَارَ اْلأَعْيُنِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ، نِعَالُهُمُ الشَّعَرُ.

“Tidak akan datang hari Kiamat hingga kalian memerangi bangsa Khuzdan bangsa Karman dari kalangan Bangsa ‘‘Ajam (non Arab), bermuka merah, berhidung hidung pesek, bermata sipit, wajah-wajah mereka bagaikan tameng yang dilapisi kulit dan terompah-terompah mereka terbuat dari bulu.” [HR Bukhari]

Baca: Mantan Ketua MK: Pidato Anies Tidak Berdampak Hukum

Nabi sendiri tidak mempermasalahkan, selama tidak menjadi fanatisme buta, tidak menjadi pemecah belah, sebagaimana masyarakat jahiliah yang dapat mengoyak persatuan.

Perbedaan yang ada justru diharmonikan supaya menjadi kekuatan besar untuk menciptakan kemaslahatan sosial.

Sebagai penutup, potongan khutbah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pada waktu Haji Wada’ ini bisa dijadikan renungan:

أيها الناس أكرمكم عند الله أتقاكم، ليس لعربي فضل على عجمي إلّا بالتقوى.

“Wahai sekalian manusia! Yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.  Orang Arab tidak lebih muliah daripada orang non-Arab, melainkan dengan ketakwaan (yang dimilikinya.” (Al-Khudari, Nur al-Yaqîn, 229)*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:‘Ajam‘AjamiAnsharhijrahislamkaum muhajirinmadinahmuhajirinnon ArabpribumiQahtanQuraidhahSirah NabiSuku ArabSuku AusSuku KhazrajSuku NadhirSuku Yahudi QainuqayahudiYatsrib
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ketua Rabithah ‘Alam Islami dan Presiden Singapura Bahas Toleransi
Tulisan selanjutnya Raja Salman Perintahkan Pendirian Kompleks Raja Salman untuk Hadits Nabi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Feature
13 Juli 2026 06:38
Trump Bilang 1.000 Rudal akan Memusnahkan Iran Apabila Presiden AS Dibunuh
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia

Terbaru

  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
  • Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
  • Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?