Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Ahmad Husnan, Membendung Arus Liberal

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 18 April 2020 10:30 10:30 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 18 April 2020 10:30
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | SELAIN Dr. H.M Rasjidi, tokoh generasi awal yang mengeritik pemikiran Dr. Nurchlolis Madjid dan Dr. Harun Nasution dalam tulisan-tulisannya adalah Ahmad Husnan, Lc.

Ia lahir di Klaten, Jawa Tengah pada tahun 1940. Pada usia muda, ia pernah ikut bergerilya di hutan Sumatera Barat bersama Moh. Natsir, Burhanuddin Harahap, Sjafrudin Prawiranegara dan tokoh lainnya dalam gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Ini bukan gerakan separatis, karena masih menggunakan kata “Republik Indonesia”. Dan yang paling penting, tujuan PRRI adalah mengoreksi rezim Soekarno yang saat itu mulai berada dalam lingkaran kelompok Komunis.

Bahkan, sebagaimana diceritakan oleh Sjafrudin Prawiranegara, ia dan tokoh-tokoh Masjumi yang ada di Jakarta terancam dibunuh oleh gerombolan aktivis komunis. Karenanya, mereka memilih berhijrah ke hutan di Sumatera.

Ahmad Husnan masih berusia kurang lebih 17 tahun, saat ia menjadi “asisten” para tokoh Masjumi yang ikut dalam PRRI pada tahun 1957. Ia dekat dengan Mohammad Natsir, tokoh yang kemudian merekomendasikannya untuk belajar agama di Pesantren Persatuan Islam (Persis Bangil), Jawa Timur, pada tahun 1962-1967. Teman-teman satu angkatannya, diantaranya adalah Muhammad Thalib (Amir Majelis Mujahidin Indonesia) dan Abdul Wahid Alwi (tokoh senior Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia/DDII).

Atas rekomendasi Moh. Natsir pula, Husnan kemudian melanjutkan ke Universitas Islam Madinah pada tahun 1968-1973. Setamat dari Madinah, ia melanjutkan S2 di Mesir, namun tidak selesai karena sakit. “Saya pulang ke Indonesia karena sakit. Setelah sembuh malah nggak balik lagi ke Mesir, karena menikah,” ujarnya pada penulis saat berkunjung ke rumahnya beberapa tahun silam.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Sepulang dari Mesir, Husnan mengajar di Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo. Pesantren yang digagas oleh Ust Abu Bakar Ba’asyir dan Ust Abdullah Sungkar. Selain itu, ia juga aktif sebagai Da’i Rabithah Alam Islami (Liga Dunia Islam) dan pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Jawa Tengah.

Kiprah selanjutnya, Husnan terlibat aktif dalam mengkonter paham sekular-liberal yang banyak dipropagandakan oleh para cendekiawan seperti Nurcholis Madjid dan Harun Nasution. Bantahan-bantahannya dinilai tajam dan bernas. Atas saran Moh.Natsir, Husnan pernah mengkonter pemikiran Nurcholis Madjid (Cak Nur) dengan menulis buku “Jangan Terjemahkan Al-Qur’an Menurut Versi Injil dan Orientalis”.

Diantara pemikiran Cak Nur yang dibantah oleh Husnan adalah tentang terjemah kalimat ” لا اله الا الله”, yang diterjemahkan oleh Cak Nur menjadi “Tiada tuhan selain Tuhan.” Ini sama dengan terjemahan dalam bahasa Inggris, “there is no any god, but the God”.

Menurut Cak Nur, Allah sama artinya dengan “Ilah”, yang artinya Tuhan. Kata Allah (الله), kata Cak Nur, menggunakan huruf alif lam ma’rifah (definite article), yang asal katanya adalah ilah (Ilah). Huruf Alif lam itu, terangnya, sama dengan “the” dalam bahasa Inggris. Jadi kata “Allah” itu bukan asli begitu, tetapi berasal dari kata “Ilah” yang ditambahi huruf Alif lam.

Pemikiran ini dibantah oleh Husnan. Pertama, Husnan mengutip pendapat Syaikh Abul A’la Al-Maududi yang menyatakan bentuk ma’rifah dari اله adalah الإله، bukan الله.

Husnan lalu menjelaskan, kata Allah dalam Al-Qur’an disebut ulang oleh Allah sebanyak 2679 kali, dan semuanya dalam bentuk mufrad (tunggal), karena memang tidak memiliki tatsniyah (bentuk kedua) dan jama’ (plural), sesuai dengan firman-Nya “Allahu Ahad,” yang berarti Allah Maha Tunggal/Esa.

Ini berbeda dengan kata “Ilah (اله)” yang disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 111 kali dalam bentuk mufrad/tunggal, 2 kali dalam bentuk tatsniyah (الهين), dan 34 kali dalam bentuk jama’ /plural (آلهة).

Sementara kata “Allah” tidak ditemukan satu pun bentuk tatsniyah dan jama’-nya. “Sebagai akibat adanya terjemah yang hanya memperhatikan dari etimologinya dan adanya kesalahan Allah diartikan yang sama dengan ilah yang berarti tuhan, maka nilai tauhid menjadi kabur dan hancur. Karena Allah Yang Maha Esa dengan terjemah tersebut menjadi tidak diakui keesaannya,” tegas Husnan.

Husnan menambahkan, “semua kelemahan mendasar yang menunjukkan kesalahan terjemah dalam persoalan mendasar pada kalimah tauhid tersebut, memberi indikasi adanya kesamaan dengan cara berpikirnya Islam Liberal bahwa dalam persoalan ilaahiyyat masih dapat diijtihadi.”

Dalam hal ini, Husnan juga pernah mengkonter pemikiran Harun Nasution yang menjadikan akal sebagai sumber hukum Islam ketiga setelah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalil-dalil yg diajukan oleh Harun Nasution dikuliti oleh Husnan dengan bantahan yang ilmiah. Kepada Harun Nasution, Husnan mengatakan, “Ijtihad memang menggunakan kegiatan berpikir dengan akal. Tetapi tidak semua akal mampu berijtihad…”

Demikianlah kiprah Al-Ustadz Ahmad Husnan, yang sampai akhir hayatnya hidup sederhana dan terus melakukan telaah-telaah ilmiah. Buku “Meluruskan Pakar Muslim” adalah satu dari sekian buku yang ia tulis untuk mengkonter pemikiran para tokoh liberal.* Artawijaya

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ahmad Husnanliberal
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya shalat dhuha Hadapi Covid-19, Tingkatkan Imunitas dengan Shalat Tahajud
Tulisan selanjutnya Putra Mahkota Arab Saudi Beli Klub Bola Newcastle Seharga 5,7 Triliun

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?