Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Kereta Hijaz Utsmaniyah, Jadwal Berangkat Sesuaikan Waktu Shalat

Thoriq
Terakhir diupdate: 3 Juni 2020 22:36 10:36 pm
Thoriq
Dipublikasikan 3 Juni 2020 22:36
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–SULTAN ABDUL HAMID II diangkat manjadi khalifah dimana Daulah Utsmaniyah dalam kondisi genting, baik karena ada gejolak politik dari dalam maupun serangan musuh dari luar. Sultan Abdul Hamid II dengan kekuatan yang ada memulai langkah untuk menyatukan wilayah Muslim dengan proyek yang amat besar, yakni membangun rel kereta api untuk menyambungkan Istanbul menuju Madinah. Pembangunan rel itu disamping untuk menjaga tanah-tanah suci dari serangan musuh, juga untuk mempermudah perjalanan jama’ah haji menuju Al Haramain. (Madzahir Hadhariyah min Ats Tsaqafah Al Utsmaniyah, hal. 18)

Pembangunan jalur kereta api menuju Madinah dimulai pada tahun 1900. Pada tahun 1902, pembangunan jalur kereta api sampai di Amman. Sedangkan pada tahun 1906, rel dibangun sampai di Madain. Pada tahun 1908, pembangunan rel sampai kota Madinah. (Madzahir Hadhariyah min Ats Tsaqafah Al Utsmaniyah, hal. 151)

Selama delapan tahun, panjang jalur kereta api yang berhasil dibangun mencapai 1464 km, dengan ditambah jalur-jalur cabang yang mencapai 1900 km. (Madzahir Hadhariyah min Ats Tsaqafah Al Utsmaniyah, hal. 152)

Pengorbanan Besar

Pembangunan jalur kereta itu selesai dengan pengorbanan yang tidak kecil, terutama bagi pasukan Daulah Utsmaniyah yang memiliki peran besar dalam proses pembangunan proyek tersebut. Banyak dari pasukan Utsmaniyah yang gugur selama proses pembangunan, baik karena kehausan, kelaparan, kecelakaan kerja atau serangan dari badui Arab. Tercatat tahun 1908, terjadi lebih dari 126 kali serangan dari kaum badui. Mereka yang gugur pun dimakamkan sepanjang jalur kereta api hingga menuju kota Madinah. (Madzahir Hadhariyah min Ats Tsaqafah Al Utsmaniyah, hal. 153, 154)

Baca Juga

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

Disamping banyaknya korban yang berjatuhan, pembangunan jalur kereta ini juga memakan biaya yang cukup besar, yakni 8 juta lira. Sedangkan pada waktu itu, Daulah Utsmaniyah mengalami krisis dengan banyaknya hutang, baik dalam negeri maupun luar negeri. Akhirnya, untuk pertama kalinya, Daulah Utsmaniyah menjadikan sumbangan sebagai sumber utama proyek pembangunan. Sultan Abdul Hamid II pun memulai dengan memberikan sumbangan sebesar 50 ribu lira. Akhirnya umat Islam dari seluruh penjuru dunia pun memberikan sumbangan untuk Daulah Utsmaniyah, demi terwujudnya proyek ini. Dari sumbangan itu terkumpullah uang yang cukup untuk membangun sepertiga dari proyek. Selebihnya Daulah Utsmaniyah memotong gaji para pegawainya untuk menutupi kekurangan itu. Meski demikian, tidak ada keluhan dari warga Turki karena besarnya biaya proyek tersebut. (Madzahir Hadhariyah min Ats Tsaqafah Al Utsmaniyah, hal. 156-158)

Non-Muslim Tidak Bisa Melanjutkan Perjalanan Memasuki Madinah

Akhirnya, setelah berhasil melalui masa-masa sulit dalam mewujudkan jalur kereta Hijaz, pada September 1908, dilakukan perayaan atas pemberangkatan kereta pertama menuju Madinah. Sebagaimana para pekerja proyek non Muslim hanya bisa melakukan tugas sampai Madain Shalih sedangkan proyek jalur menuju Madinah dikerjakan oleh para insinyur Muslim, para penumpang non Muslim pun tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju kota Madinah, karena wilayah Al Haramain hanya untuk kaum Muslim. (Madzahir Hadhariyah min Ats Tsaqafah Al Utsmaniyah, hal. 159)

Jadwal Pemberangkatan Disesuaikan dengan Waktu Shalat

Kereta Hijaz dijalankan dengan menyesuaikan waktu-waktu shalat. Jika di tengah perjalanan waktu shalat tiba, maka kereta berhenti dan seluruh penumpangnya melaksanakan shalat di gerbong khusus. (Madzahir Hadhariyah min Ats Tsaqafah Al Utsmaniyah, hal. 160)

Kereta Hijaz Membawa “Ash Shurrah Ash Shulthaniyah”

Telah berjalan tradisi, bahwasannya sultan mengirim harta untuk pembiayaan kemakmuran Al Haramain yang biasa disebut “Ash Shurrah Ash Shulthaniyah” melalui jalan darat dalam waktu tiga bulan sekali. Kemudian pada tahun 1864, harta diantar melalui perjalanan laut. Pada tahun 1908 harta itu diantar melalui kereta Hijaz. Dengan kereta, maka waktu tempuh perjalanan menjadi lebih singkat dan tidak melelahkan. (Madzahir Hadhariyah min Ats Tsaqafah Al Utsmaniyah, hal. 160)

Memasuki Madinah, Kereta Berjalan Amat Pelan

Ketika memasuki kota Madinah, kereta berjalan dengan amat lamban, hal ini dilakukan untuk menghormati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Para penumpang pun turun dengan tenang, hingga tidak menimbulkan kegaduhan di kota suci itu. Dan untuk menjaga kesucian bumi kota Madinah, maka rel kereta di Madinah dicuci dan disiram dengan air mawar setiap harinya di waktu-waktu yang telah ditetapkan. (Madzahir Hadhariyah min Ats Tsaqafah Al Utsmaniyah, hal. 18-19)

Redaktur: Thoriq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kemenag: Dana Setoran Awal Jamaah Haji Tak Bisa Dikembalikan
Tulisan selanjutnya Din Sarankan Pemerintah Persuasif Jelaskan Pembatalan Haji

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wantim MUI Serukan Empat Agenda Strategis Umat Menuju Indonesia Emas 2045

Berita
25 Juli 2026 12:53
Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi: Sekolah Tahfidz Harus Melahirkan Manusia Beradab
Zulkifli Hasan Ajak Umat Islam Perkuat Kedaulatan Pangan, Sebut Swasembada Kehormatan Bangsa
Perang Amerika Serikat atas Iran Sejauh Ini Menelan Biaya $37,5 Miliar Kata Pentagon
KUII VIII Hasilkan 12 Rekomendasi Strategis untuk Umat, Bangsa, dan Negara

Terbaru

  • MES Sebut Pertumbuhan Ekonomi Belum Berbanding Lurus dengan Kesejahteraan Masyarakat
  • Menag: Hasil KUII VIII Akan Jadi Program Kerja Kementerian Agama
  • Trump Abaikan Keberatan Netanyahu soal Rencana Penjualan F-35 ke Turki
  • KUII VIII Hasilkan 12 Rekomendasi Strategis untuk Umat, Bangsa, dan Negara
  • Hamid Fahmy Zarkasyi: Krisis Peradaban Berawal dari Hilangnya Adab dalam Pendidikan
  • Prof Masykuri Abdillah: Rekomendasi KUII VIII Harus Dikawal hingga Menjadi Kebijakan Publik
  • Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi: Sekolah Tahfidz Harus Melahirkan Manusia Beradab
  • Komite Teknokrat Palestina Mengaku Siap Mengelola Gaza usai ‘Israel’ Mundur
  • Keluarga Adalah Sekolah Pertama Pembentuk Peradaban
  • Mendikdasmen: KUII VIII Momentum Perkuat Persatuan Umat dan Dukung Pembangunan Nasional

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?