Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Soekarno, Durian Kontra Revolusi dan Budaya Penilaian Dini

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 November 2020 15:56 3:56 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 November 2020 18:30
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | ANTARA tahun 1957-1960, ada kejadian menarik  mengenai Soekarno dan durian yang diabadikan Guntur dalam bukunya yang berjudul “Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku” (1977: 191-193).

Biasanya Bung Karno kalau anak-anak sedang liburan sekolah, suka mengajak mereka keliling Jakarta pada malam hari. Daerah-daerah seperti Glodok, Kebayoran Lama, Condet, Grogol pun tak luput dari destinasinya.

Pada suatu malam, diputuskanlah perjalanan menuju restoran tepi laut “Layar Terkembang” dekat Cilincing untuk makan sate. Sambil menunggu sate masak, rupanya Bung Karno keliling di sekitar warung untuk jalan-jalan santai.

Dalam jalan santai itu, beliau bertemu dengan abang penjual durian. Kemudian terjadi obrolan hangat dan transaksi antara keduanya. Di sela-sela itu, Guntur dipanggil Bung Karno. Beliau ingin mengajarinya memilih durian yang top.

Durian yang mantap kata Bung Karno memiliki beberapa ciri, di antaranya: tangkainya kering segar, bentuk ujungnya halus, ujung duri-durinya runcing berbentuk kerucut, ketika dicium baunya dari ujung pantat durian baunya segar tidak sengak. Kalau ketiga ciri itu terpenuhi, kata Bung Karno, “Itu tandanya durennya jempolan.”

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Durian yang sudah dipilih tidak langsung dimakan di tempat tapi dibawa ke rumah. Sesampainya di rumah, Soekarno memanggil Pak Tamin untuk membelah durian-durian tadi yang dipilih berdasarkan teori Bung Karno.

“Ya Pak!” kata Pak Tamin, “Kok durennya bosooook” (artinya: busuk). Yang satu dibuka rasanya hambar. Ternyata, durennya butut semua dan penilaian Bung Karno seketika keliru. “Teori Bapak ga laku kalau gitu!” timpalnya.

Dengan penuh humor Bung Karno berkata pada Pak Tamin, “Ini duren barangkali jenis baru..” “Emangnya jenis apa Pak?” tanya Pak Tamin penasaran. “Jenis duren….Kontra Revolusi. Hehehehe.”

***

Kisah ini meski terbaca sederhana dan lucu, namun di dalamnya mengandung pelajaran yang cukup penting untuk diambil. Bayangkan, Bung Karno yang sudah punya banyak pengalaman memilih durian, ternyata tak selamanya kriteria berdasarkan pengalamannya itu mesti benar dan bisa digunakan untuk mengeneralisir semua durian.

Perhatikan! Orang yang berpengalaman saja bisa salah dalam menilai kulit durian, apalagi yang tidak berpengalaman. Maka perlu lebih berhati-hati dalam menilainya. Apalagi jika yang kita nilai adalah manusia, maka perlu lebih super hati-hati lagi karena banyak sekali orang salah nilai hanya melihat orang dari kulitnya saja.

Bila diperhatikan dalam fakta sosial, melihat orang hanya dari kulit, chasing, penampilan luar ternyata sudah menjadi budaya. Terlebih di era digital seperti saat ini, gampang sekali menilai orang hanya dari penampilan luaranya kemudian menyebarkan penilaiannya di media sosial. Padahal, bisa jadi penilaiannya itu sama sekali jauh dari kebenaran aslinya.

Ini bukan berarti menafikan pengalaman. Seluas dan sebanyak apapun pengalaman, perlu tetap diiringi dengan kehati-hatian dalam menilai seseorang. Buah durian saja –sebagaimana pengalaman Bung Karno tadi– bisa salah tebak, apalagi kalau yang kita nilai itu adalah manusia yang sangat dinamis. Dalam hal ini, ada kata bijak Inggris yang menarik untuk direnungi: “Don’t judge a book by its Cover!” (Jangan menilai buku dari sampulnya) Maksudnya, jangan menilai bobot sesuatu hanya dari penampilan luarnya saja.

Dalam khazanah Islam, hadits Nabi berikut juga berkaitan dengan kata bijak tersebut:

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad dan rupa kalian, akan tetapi melihat pada hati kalian dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Dengan kata lain, dalam Islam orang tidak sekadar dinilai dari ukuran wadak kekayaan, kedudukan, kerupawanan dan berbagai macam standar duniawi lainnya, tapi yang dilihat adalah hati (ketakwaan) dan kinerja atau kontribusinya. Maka dari itu, sebelum menilai seseorang, perlu hati-hati dan tida gegabah dengan penilaian sederhana, agar tidak terjerumus pada penilaian salah yang justru malah merugikan orang lain.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bung KarnoDurianGunturKontra RevolusiSoekarno
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bagaimana Jika Anak Anda Lambat Bicara?
Tulisan selanjutnya Abaikan Imbauan, Jutaan Orang Amerika Bepergian dan Berkumpul Rayakan Thanksgiving

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Berita
14 Juli 2026 14:52
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?