Hidayatullah.com | MESKI tidak semua tokoh Masyumi menulis puisi, namun setidaknya jejak beberapa tokohnya dalam penulisan puisi lumayan banyak bisa diungkap. Dalam hayat perjuangan mereka, puisi bukan saja digunakan sebatas ekspresi estetik, namun juga digunakan dalam membela kebenaran yang mereka cita-citakan dan lain sebagainya.
Berikut ini akan dikemukakan beberapa contoh.
Buya Moh. Natsir
Pada tanggal 13 November 1957, setelah turun dari mimbar sidang konstituante, Hamka menyisipkan sajak ke dalam saku Natsir. Di antara potongan bait terakhirnya seperti berikut:
Ke mana lagi Natsir, ke mana kita pergi
Ini berjuta kawan sefaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut ridha Ilahi
Dan akupun masukkan
Dalam daftarmu….
(Muhammad Natsir 70 Tahun, Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, 1978: 218-224)
Sajak itu baru dibalas Natsir pada malam hari 23 Mei 1959, yang keesokan harinya disiarkan di radio PRRI. Berikut ini potongan sajak terakhirnya:
Pancangkan!
Pancangkan olehmu, wahai Bilal!
Pancangkan Panji-panji Kalimah Tauhid
walau karihal kaafirun…
Berjuta kawan sefaham, bersiap masuk
ke dalam “daftarmu”….
Ketika pada tahun 1962, dalam momen karantina politik, Natsir dikirimi puisi oleh AR. Baswedan dengan judul “O Benih!” Sebagai harapan agar tumbuh benih-benih muda yang bisa menggantikan yang tua. Maka Natsir pun membalasnya dengan sajak yang tak kalah indah:
Wahai pelepah!
Dengarkan daku, wahai pelepah
Jangan kau tetap melekat jua,
Ingin abadi bermain angin,
Tak kau tahu, tampuk tua-mu,
Kering gersing, rintang menyempit
Si umbut hijau mengurai kelopak
Jauh sebelum itu, sewaktu di MULO Padang, Natsir juga pernah berinteraksi dengan puisi. Saat ada lomba deklamasi puisi, beliau turut serta dan membacakan puisi Multatuli yang berjudul “De Bandjir” dan waktu itu menjadi juara pertama. Ini menunjukkan bahwa kedekatan Natsir dengan sajak atau puisi sudah sejak muda, meski tidak menulis buku khusus tentang pusi tapi kadang-kadang menulis puisi dalam momentum perjuangan.
Buya Hamka
Buya Hamka dikenal luas bukan saja sebagai ulama, tapi juga sastrawan. Beberapa novelnya menunjukkan peran kesastrawanan beliau. Dalam majalah-majalah yang dipimpinnya tak jarang diberikan rubrik tentang puisi.
Dalam buku Kenang-kenangan Hidup, beliau bercerita sejak kecil sudah banyak sajak-sajak yang dihafal di kampungnya. Ini menunjukkan betapa cintanya Hamka pada sajak dan puisi.
Sama seperti Natsir, meski tidak menulis secara khusus tentang buku sajak atau puisi, Hamka pun juga menulis sajak dan puisi. Bisa dibaca dalam buku Kenangan Hidup, dan berbagai buku Hamka yang kadang disisipkan beliau.
Berikut ini salah satu contoh puisi yang penulis dapatkan dari majalah Gema Islam (1961) dalam momentum pernikahan anaknya, beliau dengan menggunakan nama pena Abu Zaki, menulis sebuah puisi, yang bait akhirnya seperti ini:
Berlajarlah, berlajarlah; Kami mengantar hanja hingga ini,
Pada sedjuk malam di bulan Januari…
Isa Anshary
Ulama yang dikenal luas sebagai penentang gigih komunisme dan dikenal sebagai “Napolen Masyumi” ini, di balik ketegasan dan retorika yang berapi-api, juga suka menulis puisi. Bila pembaca menulis buku “Mujahid Da’wah” atau beberapa buku anggitannya, diksi-diksi puitis kerap kali dipakai beliu.
Puisi beliau penulis temukan dari berberapa majalah. Di antaranya majalah Hikmah yang berjudul “Kepada Anggia Murni”. Di antara potongan puisinya sebegai berikut:
Djika jasad binasa umur sampai kebatas, ruh ini meninggalkan sarangnja
tinggalkan pesan kami kepada teman : teruskan perdjuangan kami, perlawanan ini
djangan menjerah atau mengalah, itulah noda dalam sedjarah
alam fana kami tinggalkan , untuk menempuh perdjalanan djauh
dari dunia sana kami akan tahu, achir kesudahan kehidupan ini
djalan kebaikan jang penuh duri dan derita
dibalik hidup jang pertama, kita akan datang kesana membina hidup abadi
mempersembahkan segenap karya, kepada Ilahi Rabbi.
Saat Buya Aminudin Yunus meninggal, dalam penutup artikel pada majalah Hikmah 1959, KH. Isa Anshari menulis sajak:
Istirahatlah kawan ditempat sunji
pergilah teman kealam baqa
dunia jang fana tuan lepaskan
pulanglah kawan tinggalkan kami
kenapa kami tidak ‘kan bangga
tuan berdjasa kami lepaskan
Baswedan
Dibanding dengan tokoh di atas, kiprah AR. Baswedan dalam dunia persajakan dan perpuisian jauh lebih besar. Puisi dan sajak beliau banyak sekali ditemukan. Dalam buku “Abdul Rahman Baswedan, Karya dan Pengabdiannya” (1989:159-169) diterangkan bahwa beliau juga sebagai penyair dan sastrawan.
Dalam menulis sajak-sajaknya beliau kerap kali menggunakan nama pena Ibnu Hani Al-Indonesia. Terinspirasi dari penyair Andalusia Ibn Hani.
Di antara sajak dan puisi yang pernah tulis, judul-dujulnya sebagai berikut:
Tawakkal, Nikmat Rokhani, Antar Guru dengan Bekas Muridnya, Digoda Sedih, Mengenang Ibu dan masih banyak yang lainnya termasuk yang dikirimkan dalam sisipan surat kepada Natsir tadi.
Berikut contoh puisi gubahan beliau berjudul “Wanita”.
Dialah, dia tempat harapan
Pengayun bayi pembangun umat
Sadarkanlah dia bawa kedepan
Segeralah, jangan terlambat!
Dari puisi dan sajak anggitan AR. Baswedan, penggunaan puisi selain sebagai ekspresi estetik, beliau juga menggunakan puisi untuk menggambarkan rasa cintanya kepada sang istri dan digunakan pula untuk mendukung perjuangan dan menguatkan teman-teman seperjuangan.
Tokoh-tokoh Masyumi lain mungkin masih banyak juga yang belum diungkap di sini. KH. Wahid Hasyim misalnya, menurut cerita Gus Dur dalam buku biografi yang ditulis Greg Barton (2002: 32), sejak kecil, karena dikarunia hafalan kuat, maka waktu gemar menghafal puisi-puisi klasik Arab. Besar kemungkinan ada tulisan-tulisan puisi beliau yang belum terlacak.
Lebih jauh dari itu, tokoh-tokoh bangsa yang juga menjadi guru dari beberapa tokoh tadi, rupanya juga bersajak dan berpuisi. Contoh-contohnya bisa disebutkan sebagai berikut:
H.O.S. Tjikroaminoto misalnya, pada tahun 1914, untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kesetaraan bangsa, dalam Doenia Bergerak beliau menulis sajak berikut:
Lelap terus, dan kau pun dipuji sebagai bangsa terlembut di dunia
Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap sehingga hanya kulit tersisa
Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau?
Orang dapat menyuruhnya kerja, dan memakan dagingnya
Demikian juga Haji Agus Salim, beliau juga pernah menulis puisi. Asvi Marwan Adam dalam buku “H. Agus Salim (1884-1954) Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme” (2004: 41) menyebut beliau sebagai manusia komplet. Bukan saja sebagai ulama, penerjemah, wartawan dan diplomat, tapi juga sastrawan.
Pada tahun 1930, H. Agus Salim menulis puisi berjudul “Tanah Air Kita”. Berikut bait-baitnya:
Apa keikatan kita?
Menyebuahkan usaha
Menjadi asas utama
Pada tujuan mulia
Tujuan kita yang sama
Meninggikan derajat Indonesia
Hassan pun, tokoh pembaharu Islam Indonesia, Guru Utama Persatuan Islam, dan guru M. Natsir yang dikenal tegas bahkan keras dalam berpendapat, juga menulis sajak. Bahkan, lengkap dalam satu buku yang berjudul “Sja’ir Matjam-Matjam Petundjuk dan Nashiehat” yang terbit pada tahun 1953.
Isinya adalah nasihat dan berbagai pemikiran A. Hassan yang dibahasakan secara puitis. Berikut salah satunya sajak tentang kemerdekaan.
Medeka kita telah terdjapai
Disana sini suaranja ramai
Keadaan kita tetap terkulai
Bahagian kita djadam dan pulai
Apa arti kita merdeka
Djiwa kita di tangan mereka
Terus menerus mereka bersuka
Sepandjang masa kita berduka
Beberapa contoh tersebut menunjukkan bahwa banyak tokoh Masyumi yang dekat dengan dunia sastra puisi dan sajak. Bahkan itu dicontohkan pula oleh guru-guru mereka.
Mereka menggunakan sajak dan puisi bukan sekadar ekspresi estetik atau menikmati keindahan saja, atau hanya untuk romantisme, tetapi puisi dan sajak digunakan juga dalam medan perjuangan dan mendukung teman-teman seperjuangan mereka. Rahimahumullah rahmatan waasi’ah.*/Mahmud Budi Setiawan