Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

KH. Hasyim Asy’ari: Jangan Ta’ashub, Belalah Islam dan Jangan Terpecah Belah karena Furu’iyah!

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Desember 2021 12:04 12:04 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Desember 2021 18:00
Bagikan
Pesan Larangan ta'ashub dari KH Hasyim Asy'ari: Kitab "Al-Mawaa’izh Sjaich Hasjim Asj’ari” yang diterjemahkan oleh Buya HAMKA
Bagikan

Hidayatullah.com | DALAM majalah Panji Masyarakat No. 5 (Thn. I: 1959) ada artikel menarik tentang nasihat KH. Hasyim Asy’ari dalam bahasa Arab. Artikel ini kemudian dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia dan diberi judul “Al-Mawaa’izh Sjaich Hasjim Asj’ari” yang diterjemahkan oleh Buya HAMKA.

Nasihat-nasihat yang disampaikan KH. Hasyim Asy’ari ini jika diamati secara mendalam, nilainya sangat relevan dipraktikkan dalam era saat ini, khususnya bagi para ulama. Nasehat-nasehat beliau akan penulis bagi pada poin-poin berikut:

Pertama, sebab terjadinya pertentangan dan fitnah di kalangan muslim adalah karena mengganti Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Allah telah menegaskan bahwa sesama orang beriman adalah saudara.

Demikian juga Nabi telah melarang sesama mukmin supaya tak saling mendengki, benci dan seterusnya yang mana mereka adalah hamba Allah dalam satu persaudaraan. Pada kenyataannya, saat nasihat ini diberikan, umat Islam sedang dirundung fitnah internal dan mereka bertentangan satu sama lain hanya karena soal yang tak prinsipil.  Melihat ini, beliau menasihati begini;

“Wahai ulama2 jang telah ta’ashshub kepada setengah madzhab atau setengah qaul! Tinggalkanlah ta’ashshubmu dalam soal2 ‘furu’ (ranting2) itu! Jang ulama sendiri dalam hal demikian mempunjai dua pendapat.” (Panji Masyarakat No. 5, Thn. I: 1959).

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Maksudnya, jika orang berijtihad benar dapat satu pahala, dan jika salah dapat satu pahalah. Tidak seharusnya berfanatik dalam urusan ini yang menimbulkan perpecahan umat Islam.

Kedua, melepaskan diri dari hawa nafsu yang merusak serta membela agama Islam. Di sini, KH. Hasyim Asy’ari memusatkan perhatian umat kepada hal yang lebih esensial yaitu meninggalkan pertentangan yang tak perlu dengan menghindari taasub dan fokus berijtihad dan membela Islam terhadap rang yang menghina Al-Qur`an dan sifat-sifat Tuhan.

“Tinggalkanlah ta’ashshub itu dan lepaskanlah diri daripada hawa-nafsu jang merusak itu. Dan belalah Agama Islam, beridjtihadla menolak orang2 jang menghina Al-Qur`an dan sifat2 Tuhan. Berjuanglah menolak orang jang menda’wahkan ilmu jang sesat jang kepertjajaan jang merusak.” (Panji Masyarakat No. 5, Thn. I: 1959).

Berjihad menghadapi orang demikian, bagi KH. Hasyim Asy’ari adalah wajib. Maka alangkah baiknya jika tenaga umat Islam diarahkan ke arah ini.

Ketiga, masih banyak orang kafir, siapa yang berusaha berdakwah menuntun mereka. Oleh kerena itu, daripada energi habis karena perdebatan internal umat, lebih baik tenaga diarahkan untuk mendakwahkan Islam ke luar karena masih banyak yang membutuhkan hidayah.

Karena itulah beliau menghimbau, “Wahai sekalian ulama! Kedjurusan inilah pergunakan idjtihadmu, dan dalam lapangan inilah kalau kamu hendak berta’ashshub!”

Kiai Hasyim mengatakan ini, karena kala itu, melihat umat Islam masih ribut dengan masalah furu’iyah. Sementara itu masih banyak orang di luar sana yang meninggalkan shalat.

Perhatikan kata-kata beliau ini;

“Bagaimanalah perasaanmu! Kamu berkeras membitjarakan perkara furu’, jang dipertikaikan oleh ulama, tetapi tidak kamu engkari perbuatan haram jang dilakukan orang, jang idjma’ sekalian ulama atas haramnja, sebagai zina (pelatjuran), riba (rente), minum2man keras dan lain2. Tidak ada tjemburumu melihat jang demikian itu. Kamu hanja tjemburu untuk Sjafi’i dan Ibnu Hajar.” (Panji Masyarakat No. 5, Thn. I: 1959).

Menuru Kiai Hasyim, yang demikian menyebabkan pecahnya persatuan dan terputusnya hubungan kasih sayang di antara umat Islam.

Keempat, jangan mencerca atau mencela orang yang berbeda dalam masalah furu’. Jika tidak setuju dalam perbedaan pendapat, kata beliau, “djanganlah kamu tjertja mereka, tapi beri petundjuklah dengan halus! Dan djika mereka tidak sudi mengikut kamu djanganlah mereka dimusuhi!”

Orang demikian, kata Kiai Hasyim, sama halnya dengan yang membangun istana dengan menghancurkan sebuah kota.

Kelima, bertakwa kepada Allah, kembali kepada Kitab Allah, dan beramal menurut Sunnah Nabi serta mengikuti jejak Salafu Saleh. Beliau menasihati;

“Taqwalah kepada Allah, perbaikilah hubungan diantara kamu, bantu-bantulah atas kebadjikan dan taqwa; djangan berbantu2an diatas dosa dan permusuhan. Semoga Tuhan Allah melimpahkan rahmat-Nja diatas kamu semuanja, dan melimpahi kamu dengan Ihsan anugerahnja. Dan djanganlah kamu menjerupai orang jang berkata, ‘Kami dengan nasehat itu’ padahal tidak didengarnja.” (Panji Masyarakat No. 5, Thn. I: 1959).

Nasihat-nasihat ini disampaikan oleh KH. Hasyim Asy’ari ketika terjadi pertentangan antara umat Islam terkait Kaum Tua dan Muda yang saling menyesatkan. Nasihat ini kemudian disiarkan dalam Kongres Nahdatul-Ulama ke-XI di Banjarmasin 1935.

Dengki dan saling hina, hanya akan menambah perpecahan di kalangan umat. Dalam hal ini, KH Hasyim memberi pertanyaan kepada diri kita masing-masing, yang seolah berupa nada tantangan;

“Atau akan kita ladjutkan djugakah perpetjahan ini; hina menghinakan, petjah memetjah, munafik; pepat diluar pantjung didalam, rasa bentji memenuhi hati, dan dengki merusak kawan, dan sesat pusaka lama! Padahal agama kita hanja satu belaka; Islam!” (Panji Masyarakat No. 5, Thn. I: 1959).

Nasihat yang disampaikan KH. Hasyim Asy’ari ini masih sangat aktual hingga saat ini. Betapa kalau dilihat dari media sosial, umat Islam masih sibuk dengan pertentangan internal, sementara hal-hal yang lebih prinsipil dan bisa merekatkan persatuan, tidak begitu diperhatikan.

Faktanya, kita banyak yang sibuk dengan perbedaan, sementara kita banyak sekali persamaannya.  Melihat kondisi demikian, supaya energi umat tidak habis, maka tidak salah mengikuti nasihat KH. Hasyim Asy’ari agar umat tidak ta’ashub, terus berdakwah amar ma’ruf nahi munkar, membela agama Islam, saling toleran dalam hal furu’iyah, tidak saling mencela hanya karena berbeda pendapat dan menggalakkan semangat persatuan.

Ta’ashub adalah istilah dalam Islam yang artinya fanatik buta atau semangat membela golongan/kelompok. Ta’ashub adalah segala perbuatan yang berbentuk pengingkaran, perendahan dan pemutusan hubungan dengan penganut madzhab lain.

Semoga nasehat Mbah Hasyim bisa membawa Indonesia bisa bersatu mambangun peradaban luhur di masa depan.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Buya Hamkafuru'iyahgolongankelompokKH Hasyim As'ariperbedaan pendapatta’ashub
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Islam Pelopori Toleransi, Pertemukan Perbedaan Ras dan Persatuan Bangsa
Tulisan selanjutnya Anies Luncurkan Kapal Ambulans Prof Abdulrachman Saleh untuk Warga Kepulauan Seribu

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Berita
15 Oktober 2026 14:10
Pilot Berkewarganegaraan Indonesia, Pesawat Ethiopian Airlines Dilarang Mendarat di ‘Israel’
Zionis Sebut Belanda Sarang Anti-Semit usai Suporter ‘Israel’ Dilarang Tandang
PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak
Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?