Ustadz Abdullah Said, Pendiri Hidayatullah bukan saja dikenal secara lisan melalui dakwah-dakwah konkretnya di pedalaman, tapi juga tercatat dengan baik dalam berbagai media cetak; termasuk dalam majalah Panji Masyarakat yang didirikan Buya Hamka dan dilanjutkan anaknya: Rusdji Hamka.
Hidayatullah.com | MAJALAH Panji Masyarakat, sebagai salah satu media Islam yang paling berpengaruh di Indonesia pada paruh kedua abad ke-20, memiliki peran penting dalam merekam dinamika keagamaan, sosial, dan intelektual umat Islam.
Di antara sekian banyak figur ulama, tokoh pembaharu, dan aktivis dakwah yang mendapat sorotan mendalam dari majalah ini, nama Ustadz Abdullah Said, pendiri dan pemimpin Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur, menempati posisi yang sangat istimewa.
Liputan-liputan Panji Masyarakat mengenai sosok dan lembaganya pada dekade 1980-an bukan sekadar laporan jurnalistik biasa, melainkan sebuah dokumentasi historis tentang bagaimana sebuah gerakan dakwah lokal mampu bertransformasi menjadi mercusuar peradaban Islam di Nusantara.
Wajah Islam yang Penuh Pesona
Salah satu potret paling komprehensif mengenai Ustadz Abdullah Said direkam oleh Panji Masyarakat dalam rubrik “Profil” dan “Laporan Utama” edisi-edisi tahun 1984 (seperti edisi No. 435 dan No. 447). Dalam edisi tersebut, majalah yang diasuh oleh tokoh-tokoh pers nasional ini mengangkat kisah sukses Ustadz Abdullah Said meraih penghargaan Kalpataru pada tahun 1984 untuk kategori pembina lingkungan hidup.

Bagi Panji Masyarakat, penghargaan Kalpataru yang diterima oleh seorang pemimpin pesantren adalah sebuah peristiwa monumental. Selama ini, isu lingkungan sering kali didekati dengan kerangka teknokratis atau birokratis negara.
Menariknya, melalui tangan dingin Abdullah Said, pelestarian lingkungan diintegrasikan secara organik dengan nilai-nilai tauhid dan etika Islam. Gunung Tembak di Balikpapan —yang awalnya dikenal sebagai kawasan hutan belantara yang penuh semak belukar, sarang penyakit, dan tempat buangan para tahanan— disulap menjadi kawasan pemukiman santri yang hijau, asri, produktif, dan bernilai ekologis tinggi.
Majalah tersebut menggambarkan bagaimana Ustadz Abdullah Said menggunakan “pesona agama” (da’wah bil hal atau dakwah melalui perbuatan) untuk mendekati masyarakat Kalimantan Timur yang majemuk. Beliau tidak hanya berdakwah melalui ceramah lisan, tetapi membuktikannya lewat kerja nyata: membangun infrastruktur, mengelola lahan pertanian, memelihara lingkungan, menyantuni anak yatim, dan memberdayakan kaum dhuafa.
Pendekatan ini berhasil mengubah citra Islam di mata masyarakat luas, menunjukkan bahwa ajaran Islam sangat relevan dalam menjawab persoalan-persoalan konkret kemanusiaan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan.
Dakwah Pembangunan dan Integrasi Sosial
Dalam liputan-liputannya, Panji Masyarakat juga menyoroti strategi dakwah Hidayatullah yang menekankan pentingnya kemandirian. Di tengah gelombang industrialisasi dan modernisasi di Kalimantan Timur pada era 1980-an yang sering kali memunculkan benturan budaya serta marginalisasi penduduk lokal, Pesantren Hidayatullah hadir sebagai alternatif penyeimbang. Ustadz Abdullah Said memimpin para santrinya untuk merambah desa-desa terpencil, membina masyarakat transmigrasi, serta mendirikan kantong-kantong pendidikan dan sosial.

Gaya kepemimpinan Abdullah Said digambarkan sebagai sosok informal leader yang memiliki visi besar, keteguhan hati, dan orientasi kerja keras yang luar biasa. Meskipun mengelola lembaga pendidikan yang besar dengan ratusan santri, beliau selalu menekankan bahwa kekuatan utama gerakan ini bersandar pada keikhlasan, tawakal, dan pertolongan Allah, bukan pada ketergantungan finansial yang berlebihan kepada pihak luar.
Majalah Panji Masyarakat menangkap ketulusan ini melalui bahasa jurnalistik yang menggugah, memperlihatkan bagaimana seorang ustadz muda dari Sulawesi Selatan mampu merajut ukhuwah dan menggerakkan partisipasi umat secara masif.
Pengakuan Nasional dan Kunjungan Tokoh Dunia
Eksistensi Ustadz Abdullah Said dan Pesantren Hidayatullah semakin mendapatkan pengakuan luas tatkala berbagai tokoh penting nasional maupun internasional datang berkunjung. Dalam edisi 1 Juni 1985 (No. 469), Panji Masyarakat melaporkan kunjungan delegasi WCED (World Commission on Environment and Development atau Komisi Dunia untuk Lingkungan Hidup dan Pembangunan); termasuk di dalamnya Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup saat itu, Prof. Dr. Emil Salim.

Para tokoh penting tersebut melihat secara langsung denyut kehidupan pesantren, mulai dari sistem pendidikan, pengelolaan lingkungan hidup, hingga interaksi sosial para santri dengan masyarakat sekitar. Kehadiran delegasi internasional ini membuktikan bahwa apa yang dirintis oleh Ustadz Abdullah Said di Gunung Tembak telah menjadi model percontohan pembangunan berwawasan lingkungan yang mendapat perhatian dunia global.
Panji Masyarakat merangkum momen tersebut sebagai bukti nyata bahwa Islam dapat tampil sebagai solusi atas krisis ekologis global melalui amal nyata di tingkat akar rumput.
Warisan Intelektual dan Spiritual
Melalui arsip pemberitaan Panji Masyarakat, kita dapat memahami bahwa Ustadz Abdullah Said bukanlah tipikal ulama yang hanya duduk di menara gading. Beliau adalah seorang mujahid dakwah yang membaca realitas zamannya dengan mata hati yang tajam dan pikiran yang jernih.

Kegemarannya membaca literatur keagamaan, sosial, hukum, dan sastra —seperti karya-karya Buya Hamka dan ulama besar lainnya— memberikan landasan intelektual yang kuat bagi corak pemikiran dakwah Hidayatullah.
Liputan Panji Masyarakat tentang Ustadz Abdullah Said merupakan sebuah cermin moral bagi generasi masa kini dan mendatang. Catatan-catatan tersebut mengingatkan kita bahwa dakwah yang efektif adalah dakwah yang menyentuh kebutuhan riil umat, memuliakan manusia, menjaga alam, dan dibangun atas dasar integritas serta keikhlasan yang mendalam.
Sosok Ustadz Abdullah Said yang diabadikan oleh Panji Masyarakat akan terus dikenang sebagai teladan agung tentang bagaimana iman dan amal saleh mampu mengubah wajah peradaban. (MBS)




