Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Jejak Intelektual Muslim dan Ulama Membangun Indonesia [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Mei 2017 05:35 5:35 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Mei 2017 07:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Umma Muhammad

 

SEJARAH pendirian negara Indonesia menjadi spirit anak bangsa dalam membangun negeri tercinta, Republik Indonesia. Permasalahanya, kesadaran akan sejarah bangsa masih minim. Di lain pihak, masih menyisakan kontroversi.

Padahal, sejarah bangsa adalah inspirasi generasi terpelajar anak negeri untuk menentukan masa depan. Tentu saja, berdirinya sebuah negara bernama Indonesia tidak bisa terpisahkan dengan prestasi-prestasi umat Islam di Nusantara ini dalam intelektualisme, ekonomi dan politik.

Adanya deislamisasi sejarah Indonesia terhadap prestasi ulama dan santri mengakibatkan sejarah nasionalisme ulama dan santri menjadi tertutup. Sejarah perjuagan aslinya ditiadakan atau tetap ada tetapi dimaknai dengan pengertian yang lain.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Salah satu contohnya, Wali Songo,  tokoh penyebar Islam di bumi Nusantara ini,  diselewengkan sejarahnya dengan penuturan dongeng seperti tokoh yang jauh dari syariat Islam, seperti bertapa, masih menjalankan ajaran Hindu dan lain sebagainya.

Baca:  Ulama dan Kekuasaan: Sejarah Melayu

Padahal, mereka memimpin perang sengit melawan penjajahan Barat yang membawa misi Gospel. Salah satu contohnya seperti Sunan Gunung jati atau Syarif Hidayatullah, memimpin perlawanan bersenjata terhadap Imprealis Kerajaan Katolik Protugis guna merebut kembali pelabuhan niaga Jayakarta bersama Fatahillah.

Karena itulah,  kota tersebut diberi nama  Jayakarta, diangkat dari Al Quran Surat Al Fath (48:1), “inna fattahna laka fathan mubina.” Makna fathan mubina adalah kememnangan paripurna atau Jayakarta. (Ahmad Mansyur Suryanegara,Api Sejarah, viii )

Begitu pula yang terjadi di daerah-daerah lain mulai Aceh, Palembang, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Sejak semula di masa revolusi, perlawanan terhadap penjajah didominasi oleh komunitas kaum pesantren.

Identitas Bangsa

Bangsa yang kini disebut bangsa Indonesia yang tergabung dalam negara bernama NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dahulunya sebelum ada NKRI adalah bangsa yang pernah disatukan oleh satu bahasa, dan budaya.

Bahasa yang menyatukan dulu adalah bahasa Melayu. Khususnya ketika Nusantara berada dalam kerajaan-kerajaan atau kesultanan Islam.

Baca:  Ulama Dalam Kemerdekaan dan Pembangunan

Meski tidak ada catatan konsensus  di antara kerajaan tersebut, namun semua menggunakan bahasa Melayu.

Dai-dai Islam memilih menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa dakwah karena karakter bahasa Melayu pada zaman itu belum tercampur dengan pandangan dan pikiran apapun. Bahasa Melayu bukan saja menjadi bahasa persatuan kepulauan Nusantara, tetapi juga mengangkat derajatnya menjadi bahasa ilmu pengetahuan, komunikasi, perdagangan dan sebagai bahasa yang digunakan dalam penulisan resmi.

Termasuk penulisannya menggunakan huruf-huruf Arab tetapi bahasa dan bunyinya Melayu. Huruf-huruf ini disebut huruf Arab-Melayu atau perso (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Historical Fact and Fiction, hal. xvi). Di Indonesia huruf ini kemudian dikenal dengan nama pegon (pego).

Salah satu kontribusi nyata di Nusantara adalah penggunaan bahasa Melayu, sehingga menjadi bahasa pemersatu Nusantara. Ia menjadi lingua franca penduduk Melayu-Indonesia, bahkan sampai kepada daerah Filipina dan Thailand.

Para pendakwah Islam sengaja memilih bahasa Melayu untuk diislamkan. Banyak sekali istilah-istilah bahasa Melayu yang diambil dari bahasa Arab. Misalnya, kata akal, musyawarah, mukadimah, adil, adab, dan lain-lain.

Baca: Jangan Pertentangkan Islam dan Pancasila

Tulisan pegon (pego)  populer di pesantren tradisional yang diajarkan berabad-abad lamanya, sejak kedatangan Islam. Namun, sayang jenis tulisan ini tidak lagi populer di Indonesia – hanya dikenal oleh anak-anak Pesantren. Tapi di Malaysia masih digunakan dalam tulisan-tulisan di ruang publik.

Pengislaman bahasa ini berlanjut kepada pengislaman konsep-konsep kehidupan masyarakat Melayu-Nusantara. Sehingga sedari dulu, bahasa Melayu identik dengan Islam. Para mubaligh Arab juga mengenalnya sebagai salah satu bahasa dunia Islam waktu itu, bahkan tercatat sebagai bahasa Islam nomor dua terbesar setelah bahasa Arab.

Pengaruh besar itu adalah bahwa ada informasi sejarah yang jarang diketahui publik. Prof. Mansur Suryanegara berpendapat dalam bukunya Api Sejarah bahwa para ulama yang aktif dalam BPUPKI biasa menulis rapat  dalam tulisan pegon.

Oleh karena itu, satu satunya bangsa terjajah di asia tengara  promlamisnya menggunakan teks bahasa sendiri, bukan bahasa penjajah adalah Indonesia.

Dengan kata lain, karena prestasi ulama dan santri bangsa Indonesia memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Baca: Ulama Dalam Kemerdekaan dan Pembangunan

Bahasa Indonesia  merupakan satu rumpun dengan Melayu dan Bahasa Indonesia termasuk dari bahasa Melayu juga.

Sebagian peneliti mengatakan bahasa Indonesia dulu merupakan bahasa Melayu. Pesantren-pesantren yang berdiri di Sumatera dan Jawa menggunakan bahasa ini sebagai pengantar dalam belajar Islam. Tulisan yang digunakan dimodifikasi antara bahaya lokal dengan Arab. Tulisan yang disebut pegon itu adalah bahasa lokal tetapi huruf yang digunakan untuk menuliskannya adalah Arab. Prof. Naquib al-Attas menyatakan para ulama dan santri berhasil mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan di kepulauan Nusantara.

Karena itu ketika penjajah asing masuk Indonesia, maka yang diangkat oleh para pejuang adalah Islam. Karena berabad-abad lamanya, bumi budaya Indonesia dibentuk dan dibina oleh kebudayaan Islam. Pribumi telah merasakan Islam sebagai identitas tepat untuk melawan penjajah.

Tatanan kebudayaan Islam dalam naungan kesultanan Islam telah membentuk tatanan budaya, ekonomi dan politik yang stabil selama berabad-abad.* (bersambung)

Penulis  ibu rumah tangga,  pencinta sejarah dan  kajian pemikiran Islam. Aktif di ITJ Chapter Malang 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bahasa MelayuIntelektual MuslimIslam MelayuIslam Nusantarakesultanan IslamNKRIpenyebaran IslamulamaWali Songo
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Swedia Stop Penyelidikan Kasus Pemerkosaan Julian Assange
Tulisan selanjutnya Penggunaan Dalil dalam Istidlal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?