Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Asaduddin Syirkuh; Pahlawan Pemusnah Daulah Syiah Fathimiyah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Oktober 2017 16:59 4:59 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Oktober 2017 16:59
Bagikan
Ilustrasi: Dinasti Fatimiyah
Bagikan

SINGA GUNUNG Begitulah arti dari Syirkuh (W. 1169 M) dalam bahasa Persi-Urdu (Tabrîzî, 2003: 52). Julukannya, di kemudian hari, dalam bahasa Arab, tak jauh dari itu: “Asaduddin” yang berarti: Singa Agama. Panglima militer kawakan di era Bani Zanki ini terlahir di Duwin, Armenia (Usamah, 1998: 25) sekitar 500 hijriah. Bersama saudaranya; Nadmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin), menghabiskan masa kecilnya di Tikrit. Kala itu, Syadzi, sang ayah, menjadi penanggung jawab benteng Tikrit.

Dengan demikian, baik Asaduddudin dan Najmuddin, sejak kecil merasakansecara langsung nuansa militer (Muhammad Syafi’i, 1962: 31). Hanya saja, meski sama-sama memiliki keberanian mumpuni, antara keduanya ada perbedaan mendasar: kalau Najmuddin lebih defensif (menonjol dalam bidang intilektual, kebijaksanaan dan lebih hati-hati). Sedangkan Syirkuh lebih ofensif dan tidak tahan dengan kezaliman orang. Dengan keberanian dan kepiawaiannya dalam militer, maka siapa pun orang yang lalim akan dilawan, walau nyawa harus melayang.

Melihat pertumbuhannya di lingkungan yang akrab dengan dunia militer, pantas jika di kemudian hari, dia diangkat menjadi panglima perang sekaligus mendapat gelar “Asaduddin” dari keluarga Zanki (Imaduddin dan Nuruddin Mahmud). Bersama saudara kandungnya (Najmuddin), ia mengabdi kepada Dinasti Zankiyah (Shalahuddin, 2000:31).

Sepanjang kiprahnya dalam dunia militer, salah satu karya prestisius Syirkuh yang patut dibanggakan adalah keberhasilannya dalam melenyapkan dan memusnahkan Daulah Syiah Fathimiyah Mesir. Bersama keponakannya (Shalahuddin Al-Ayyubi), dirinya berjuang gigih melenyapkan virus Syiah dari Bumi Kinanah.

Baca: Ketika Syiah Menguasai Mesir

Sebelumnya, atas instruksi Nuruddin Mahmud Zanki, Syirkuh mengemban misi besar berupa: mengalahkan Pasukan Salib. Obsesi ini tidak akan berhasil, sebelum Syam dan Mesir disatukan kekuatannya. Sementara itu, yang menjadi aral bagi ekspedisi ini adalah Dinasti Fatimiyah, Mesir. Suatu saat Syirkuh meminta Izin Nuruddin untuk menaklukkan Mesir, namun tak dibolehkan karena belum ada momentum.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Saat momentum tiba, ditandai dengan pergolakan internal perebutan kekuasaan antara Syawar dan Dhorgom atas kekuasaan Khalifah Al-‘Adhid, maka Nuruddin memberi “lampu hijau” untuk misi luhur ini.

Alkisah, pasca kekalahannya dari Dhorgom, Syawur meminta bantuan kepada Nuruddin agar menolongnya menghabisi rivalnya, Dhorgom. Tak tanggung-tanggung, jika berhasil, Syawur berjanji akan memberikan sepertiga penghasilan Mesir kepada Nuruddin. Bagi Nuruddin, ini adalah kesempatan berharga yang tidak boleh disia-siakan jika ingin cita-citanya berhasil.

Untuk mengemban misi besar ini, diutuslah Asaduddin Syirkuh, bersama keponakannya, Shalahuddin Al-Ayyubi. Saat bala bantuan 1000 pasukan dari Nuruddin yang dikomandoi Syirkuh bersama Shalahuddin sukses mematahkan perlawanan Dhorgom bin Tsa’labah (yang bekerjasama dengan Raja Amauri I) di kota Bilbeis (wilayah bagian Muhafadhah Syarqiyah), Syawar berkhianat. Saat janji ditagih, ia tak peduli, bahkan mengusirnya.  “Lain di bibir, lain di hati.” Demikianlah pribahasa yang paling pas menggambarkan sosoknya. Mulutnya seakan memihak dan menjanjikan sesuatu, sedang hatinya menolak dan menganggapnya musuh.

Tak cukup sampai di situ, ia juga memperlakukan tentara dengan tidak baik, bahkan mengusir Asaduddin dan Shalahuddin beserta rombongannya. Seperti inilah sikap Syiah di sepanjang sejarah. Ketika mereka lemah, akan menjilat dan pura-pura bersahabat, namun ketika kuat, mereka akan bertindak semena-mena terhadap orang yang bersebrangan.

Baca: Sikap Panglima Shalāhuddin Al-Ayyubi Terhadap Syiah

Ironisnya, yang lebih menyakitkan, ia bersekongkol dengan tentara Salib untuk mengusir dan menghabisi pasukan pimpinan Syirkuh. Selama tiga bulan Syirkuh mengepung Beilbis meski hanya dengan seribu pasukan. Ia tidak akan angkat kaki dari bumi Kinanah sebelum meringkus Syawar dan penyokongnya. Meski dalam misi ini belum menuai hasil berarti, setidaknya Pasukan Salib mau melakukan gencatan senjata karena tentara Salib di Syam diserang oleh pasukan Nuruddin Mahmud.

Dengan hati geram, Syirkuh kembali ke Syam. Dia bertekad untuk menghabisi penghianat durjana ini. Pada tahun 562 H, ekspedisi ke Dinasti Fatimiyah digencarkan kembali dengan dua ribu tentara. Seperti sebelumnya, Syawar meminta bala bantuan kepada tentara Salib. Syirkuh bersama Shalahuddin baru sukses menumbangkan Syawar pada ekspedisi militer ketiga (564H/1169M).

Akhirnya, dengan perjuangan yang luar biasa, tentara Salib bisa dikalahkan, bahkan Syawur dihukum mati. Setelah itu, diangkatlah Asaduddin menjadi pemimpin. Tak lama kemudian (2 bulan 15 hari), ia pun meninggal dan digantikan oleh Shalahuddin al Ayyubi.

Dari perjalanan sejarah Syirkuh memberantas Daulah Syiah Fathimiyah, kita bisa belajar: Pertama, waspadalah terhadap Syiah. Apa yang ditampakkan, seringkali bertolak belakang dengan yang dibatin. Kedua, ciri khas orang Syiah –sepenjang sejarah- adalah berkhianat dan bersekongkol dengan musuh Islam. Ketiga, sebelum Syiah berkuasa, maka harus ada upaya pencegahan baik dalam bidang pendidikan atau bidang lain agar pengaruhnya tidak dominan. Sejarah adalah guru terbaik agar kita tidak jatuh pada lubang yang sama. */Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AsaduddinAsaduddin SyirkuhBumi KinanahBumi SyamDaulah FathimiyahDinasti ZankiyahMesirNadmuddin AyyubNegeri Syampasukan SalibShalahuddin al AyyubiSinga AgamasyiahSyirkuh
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Keluarga Yasir Teladan Umat dalam Dakwah Islamiyah
Tulisan selanjutnya WHO Berpikir Ulang Jadikan Robert Mugabe Duta Persahabatan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Berita
4 Juni 2026 21:20
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?