Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Asal Usul Kitab “Al-Masa’il Ats-Tshalats” Karya Syeikh Ahmad As-Surkati

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Juli 2021 12:53 12:53 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Juli 2021 12:53
Bagikan
Syeikh Ahmad As-Surkati
Bagikan

 

Hidayatullah.com | DI antara tokoh reformis Islam di Indonesia yang sangat terkenal dan menjadi guru bagi para tokoh nasional, adalah Syeikh Ahmad As-Surkati. Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad As-Surkati Al-Anshari As-Sudani.

Syeikh As-Surkati lahir di desa Dongula, Sudan, pada tahun 1875 M/1292 H. Nasabnya tersambung kepada sahabat yang mulia, Jabir bin Abdullah Al-Anshari Radhiyallahu Anhu. Sebutan As-Surkati berasal dari bahasa Dongula lama, yang berarti “Orang yang Memiliki Banyak Buku”.

Syeikh As-Surkati lahir dari keluarga ulama. Ayahnya, Syeikh Muhammad, adalah alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Sejak kecil, Syeikh As-Surkati dididik oleh ayahnya, selain belajar juga pada guru-guru di luar rumah.

Syeikh As-Surkati kemudian melanjutkan belajar 15 tahun di Saudi Arabia. Empat tahun masa belajarnya dihabiskan di Kota Madinah Al-Munawwarah, dan sebelas tahun di Kota Makkah Al-Mukarramah. Di kedua Kota Suci itu, ia banyak belajar tentang Madzhab Syafi’i.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Di antara guru Syeikh As-Surkati di Kota Madinah Al-Munawwarah adalah; Syeikh Umar Hamdan, Syeikh Muhammad Al-Khuyari Al-Maghribi, Syeikh Mubarak An-Nismat, Syeikh Muhammad, Al-Barjanzi, dan lain-lain. Sedangkan guru-gurunya di Kota Makkah Al-Mukarramah adalah; Syeikh Al-‘Allamah Muhammad bin Yusuf Al-Khayath, Syeikh Syuaib bin Musa Al-Maghribi, Syeikh As’ad, dan lain-lain. Di Makkah inilah, pada tahun 1326 H, Syeikh As-Surkati, karena kesungguhannya dalam belajar, kemudian dianugerahi gelar “Al-‘Allamah” oleh Majelis Ulama Makkah.

Syeikh As-Surkati banyak menghabiskan waktu untuk mengajar. Karena kesibukannya, tak terlalu banyak buku yang ia tulis. Di antara buku karyanya yang terkenal adalah Kitab Al-Masa’il Ats-Tshalats, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tiga Persoalan Penting. Buku ini membahas tentang ijtihad dan taklid, sunnah dan bid’ah, tawasul dan ziarah kubur.

Kitab Al-Masa’il Ats-Tshalats mulanya adalah paper (makalah) yang ditulis oleh Syeikh Ahmad As-Surkati untuk memenuhi tantangan debat terbuka dari seorang pemuka kaum Alawi, Syeikh Ali Ath-Thayyib. Syeikh Ali Ath-Thayyib menantang debat Syeikh As-Surkati melalui surat yang ia kirimkan ke berbagai penerbitan di Bandung.

Materi perdebatan adalah tiga persoalan penting. Selain tantangan debat, Syeikh Ali Ath-Thayyib juga menuding Syeikh As-Surkati sebagai orang yang tidak paham syariat dan tidak layak dijadikan pedoman. Surat tantangan debat itu kemudian direspon oleh Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) di bawah pimpinan KH Zamzam dan Muhammad Yunus, yang bersedia menjadi fasilitator dan panitia dalam perdebatan itu.

Persis sendiri waktu itu baru dua tahun berdiri, dan memiliki kesamaan pandangan keagamaan dengan Syeikh As-Surkati. Atas kesediaan Persis menjadi fasilitator, maka ditentukanlah acara perdebatan yang berlangsung di Bandung pada 25 Januari 1925/Rajab 1343 H.

Tetapi sayang, di hari yang sudah ditentukan, dimana Syeikh As-Surkati dan para peserta sudah hadir, Syeikh Ath-Thayyib yang saat itu tinggal di Surabaya, tak juga muncul. Syeikh As-Surkati dan hadirin akhirnya kecewa.

Untuk menghilangkan rasa kecewa, kali ini giliran Syeikh As-Surkati yang menantang Syeikh Ath-Thayyib. Maka pada tanggal 21 Sya’ban 1343 H, dikirimkanlah surat tantangan itu kepada Syeikh Ath-Thayyib.

Gayung bersambut, Syeikh Ath-Thayyib bersedia menerima tantangan Syeikh As-Surkati, dan menyediakan lokasi perdebatan di Masjid Ampel, Surabaya.  Sebelum diadakan acara perdebatan, Syeikh Ath-Thayyib mengajukan beberapa syarat.

  1. Masing-masing dipersilakan berbicara selama satu jam, dan tidak ada tanggapan terlebih dahulu.
  2. Masing-masing membuat paper terkait masalah yang diperdebatkan.
  3. Paper dikirimkan ke Surat Kabar Hadhramaut untuk disebarluaskan.

Semua syarat itu dipenuhi oleh Syeikh As-Surkati. Tapi, lagi-lagi Syeikh As-Surkati yang sudah hadir di Masjid Ampel pada hari yang ditentukan kecewa, karena Syeikh Ath-Thayyib tidak hadir. Kemudian beredar kabar, debat diundur keesokan harinya, tetapi itu juga tidak terlaksana.

Atas bantuan orang Arab di Surabaya, Syeikh As-Surkati kemudian dipertemukan dengan Syeikh Ath-Thayyib di rumah seorang Hadhrami di kota itu. Dalam pertemuan itu, Syeikh Ath-Thayyib mendengarkan penjelasan Syeikh As-Surkati dan berterimakasih atas paper yang telah ditulisnya. Paper inilah yang kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul Al-Masa’il Ats-Tshalats.

Dalam pertemuan di rumah seorang Hadhrami di Surabaya itu, Syeikh As-Surkati mengatakan kepada Syeikh Ath-Thayyib, “Saya memaafkan dengan lapang dada semua hal yang terkait dengan pribadi saya, akan tetapi saya meminta kepada Anda dan dari setiap orang yang hadir di tempat ini untuk menunjukan kesalahan yang Anda lihat dari saya, agar saya bisa kembali kepada kebenaran… Karena perdamaian ini tidak selayaknya dengan sikap menyembunyikan kebenaran agama…”

Syeikh Ahmad As-Surkati wafat di Jakarta pada 16 Ramadhan 1362 H/16 September 1943. Jenazahnya dikebumikan di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Semasa hidup, Syeikh As-Surkati adalah guru dari para ulama dan intelektual Islam di negeri ini.*/Artawijaya, penikmat sejarah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al-Masa'il Ats-TshalatskitabSyeikh Ahmad As-SurkatiTiga Persoalan Penting
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Qatar Berikan Kesempatan Kerja Lebih dari 50.000 Warga Palestina
Tulisan selanjutnya ‘Bendera Putih’, Cara Keren Malaysia Bantu Sesama selama Pandemi Covid-19 Patut Ditiru

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?