Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Mendekatkan Hati Saat Membaca Al-Quran (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Agustus 2017 10:29 10:29 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Agustus 2017 10:15
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

RASULULLAH Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Ibadah umatku yang paling utama adalah membaca Al-Quran.”

Sabdanya lagi: “Andaikata Al-Quran berada dalam sebuah wadah kulit, niscaya ia tidak disentuh api.”

Rasulullah juga bersabda: “Tiada juru penolong yang lebih utama kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat daripada Al-Quran, tidak juga seorang nabi atau malaikat atau yang lain.”

Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa disibukkan oleh pembacaan Al-Quran hingga ia tidak berdoa dan tidak meminta (apapun) kepada-Ku, maka Kuberi dia pahala yang paling utama bagi orang-orang yang bersyukur.”

Ketahuilah bahwa pembacaan Al-Quran mempunyai tata krama lahiriah dan batiniah. Tata krama lahiriah terdiri dari tiga hal, yaitu: pertama, Anda membaca Al-Quran dengan penghormatan dan pengagungan. Penghormatan itu tidak akan memasuki hati Anda selama bentuk penghormatan itu tidak ditunjukkan oleh sikap lahir Anda. Anda telah mengetahui bagaimana hubungan hati dengan anggota tubuh dan bagaimana memancarnya cahaya dari anggota tubuh ke dalam hati.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Bentuk penghormatan itu dapat ditunjukkan dengan cara duduk dalam keadaan suci, bersikap tenang sambil menundukkan kepala dan menghadap kiblat tanpa bersandar maupun berbaring sebagaimana Anda duduk di hadapan guru ngaji. Anda membaca Al-Quran dengan tartil (pelan dan memperhatikan semua kaidah bacaan Al-Quran), penuh rasa hormat, pelan, membaca huruf demi huruf, tidak terburu-buru.

Ibnu Abbas r.a. berkata, “Aku lebih suka membaca surah ‘Idza zulzilat’ dan ‘Al-Qaari’ah’ dan merenungkannya daripada membaca ‘Al-Baqarah’ dan ‘Ali Imran’ dengan terburu-buru.”

Kedua, gunakanlah waktu-waktu tertentu untuk mencapai tingkat keutamaan tertinggi di dalam pembacaan Al-Quran, misalnya dengan membacanya pada saat berdiri dalam shalat, terutama shalat yang dilakukan di dalam masjid dan di waktu malam, karena di waktu malam hati lebih jernih lantaran tidak ada aktivitas. Pada siang hari, meskipun Anda sudah mencoba menyendiri, mobilitas dan aktivitas orang-orang akan mengusik batin Anda dan mengganggu konsentrasi Anda. Apalagi jika Anda berharap untuk mendapatkan suatu kesibukan dan pekerjaan.

Meskipun begitu, selama Anda membacanya, meski sambil berbaring dan tanpa bersuci, tidak berarti sama sekali tanpa keutamaan. Karena Allah Ta’ala memuji semuanya. Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang mengingat Allah sanbil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191)

Akan tetapi tata krama yang kami paparkan itu sebagai tambahan keutamaan. Jika Anda lebih menginginkan akhirat, maka hendaknya Anda tidak begitu saja meninggalkan keutamaan.

Ali r.a. berkata, “Barangsiapa membaca Al-Quran sambil berdiri dalam shalat, maka dengan setiap hurufnya ia mendapat seratus kebaikan. Barangsiapa yang membaca Al-Quran di luar shalat dalam keadaan suci, maka ia mendapat dua puluh lima kebaikan. Barangsiapa yang membaca Al-Quran tanpa berwudhu, maka ia hanya mendapat sepuluh kebaikan.”

Ketiga, kuantitas (jumlah) bacaan yang dalam hal ini dibagi atas tiga tingkatan: (1) Tingkatan yang terendah, adalah bila Anda mengkhatamkannya sebulan sekali, (2) Tingkatan menengah, adalah bila Anda mengkhatamkannya seminggu sekali, dan (3) Tingkatan paling tinggi tertinggi adalah bila Anda mengkhatamkannya tiga hari sekali.

Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca Al-Quran kurang dari tiga hari, berarti ia tidak mengerti agama.”

Ada pun mengkhatamkannya setiap hari sekali bukanlah sesuatu yang dianjurkan agama. Jangan Anda berpikir bahwa sesuatu yang baik dan bermanfaat akan semakin bermanfaat bila dilakukan dengan frekuensi yang lebih banyak. Karena rasio Anda tidak dapat menyelami semua rahasia atau misteri urusan Allah. Yang dapat menyelaminya hanyalah potensi kenabian. Maka Anda hanya perlu mengikuti. Karena urusan Ilahi yang spesifik tidak dapat dijangkau dengan kias atau analogi.

Tidakkah Anda menganalisa bagaimana Anda diseru untuk menunaikan shalat, tetapi Anda dilarang mengerjakannya sepanjang siang. Anda juga disuruh untuk tidak melakukan shalat sesudah shalat Subuh, sesudah shalat Ashar, ketika matahari terbit, ketika matahari terbenam dan ketika matahari mulai bergeser (dari titik kulmini) hingga sepertiga siang.

Bagaimana Anda bisa melakukan analogi di sini? Sementara implikasi negatif dari analogi Anda sudah jelas. Sama halnya dengan ucapan seseorang, “Obat itu berguna bagi orang sakit. Maka semakin banyak obatnya semakin berguna.” Padahal Anda tahu bahwa obat yang berlebihan (over dosis) barangkali malah bisa membunuh.*/Imam Al-Ghazali, dikutip dari bukunya 40 Prinsip Dasar Agama. [Selanjutnya]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:membaca al-Qur'anmembaca tartilmengingat Allah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 72 Tahun RI, Meneguhkan Komitmen Bersama Membangun Bangsa
Tulisan selanjutnya Mendekatkan Hati Saat Membaca Al-Quran (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?