Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Muhasabah, Riangkan Hati Ringankan Ibadah

Ahmad
Terakhir diupdate: 13 Desember 2018 12:28 12:28 pm
Ahmad
Dipublikasikan 13 Desember 2018 12:25
Bagikan
membaca al fatihah berdoa
Ilustrasi.
Bagikan

TERKADANG hadir kesadaran di dalam hati bahwa ada banyak kewajiban yang telah lama diabaikan. Misalnya perihal sholat. Kita yang pernah menjalani sholat secara tekun, kemudian meninggalkan, dalam hati pasti ada bisikan, ayo sholat, ayo sholat.

Tetapi karena kecintaan seseorang terhadap sesuatu begitu besar, entah itu tontonan, permainan, atau pun kegiatan, acapkali seruan hati itu diabaikan. Sekalipun hampir setiap saat, suara itu akan terus hadir dan selalu mengingatkan.

Situasi seperti itu, sangat mungkin dialami oleh siapapun. Dan, itu adalah bagian dari fitrah. Oleh karena itu, Islam mendorong kita untuk melakukan yang namanya muhasabah, agar fitrah terjaga, agar hati dalam keriangan dan ringan di dalam menjalankan ketaatan.

Terkait dengan muhasabat ini, Imam Al-Ghazali menjelaskan, “Orang-orang yang memiliki bashirah menyadari bahwa Allah Ta’ala senantiasa mengawasi mereka, sedangkan mereka akan selalu meminta banding atas penghisaban-Nya.

Mereka juga sangat memahami bahwa mereka tidak akan selamat dari kekeliruan ini kecuali dengan melanggengkan muhasabah, muraqabah, dan mengevaluasi diri atas setiap nafas dan gerak.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Maka, barang siapa menghisab dirinya sebelum mengalami penghisaban, kelak pada kiamat hisabnya akan diringankan. Juga akan diberikan jawaban atas setiap ajuan pertanyaan, dan amatlah baik tempat kembalinya.

Dan barangsiapa tidak pernah menghisab dirinya, ia akan sangat menyesal, dan kelak pada hari kiamat akan terus menunggu. Kesalahannya juga akan menyeretnya pada kehinaan dan murka Allah.”

Tidak heran jika Sayyidina Umar pernah berkata, “Hisablah dirimu sebelum dirimu dihisab.”

Secara psikologis, ketika seseorang melakukan evaluasi terhadap amal perbuatannya yang telah berlalu, maka akan timbul rasa malu, menyesal dan merugi, jika yang dilakukan adalah keburukan, kemaksiatan.

Apabila hal itu dilakukan secara terus menerus, kemudian diikuti dengan langkah memperbanyak diri hadir dalam majelis dzikir dan majelis ilmu, sudah tentu, akan hadir keriangan di dalam hati, sehingga bukan lagi perkara sulit bagi diri untuk menjalankan beragam ketaatan yang Allah perintahkan.

Sholat tidak lagi menjadi beban, tetapi kebutuhan hati yang menenangkan dan menyeimbangkan diri di dalam menyikapi segala macam dinamika kehidupan.

Baca: Muslim Sejati Gemar Muhasabah Diri

Kisah Malik bin Dinar

Seorang murid Hasan Al-Bashri, yang bernama Malik bin Dinar yang dikenal sebagai ahli hadits dan sosok kepercayaan para sahabat Nabi, pernah menuturkan sebagian kisah hidupnya.

“Kehidupanku dimulai dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat zalim, memakan hak manusia, memakan riba dan memukuli manusia.

Kulakukan segala kezaliman, dan tidak ada satu maksiat pun melainkan aku telah melakukannya, sungguh sangat jahat diriku, sehingga manusia tidak menghargaiku karena kebejatanku.”

Namun, begitu tersadar dan segera melakukan muhasabah, Malik bin Dinar berubah menjadi sosok yang penuh kecemerlangan di dalam ilmu, ibadah, dan dakwah.

Sejarah mencatat, Malik bin Dinar menjadi bagian dari generasi tabi’in yang sangat dikenal di Basharah. Dengan kata lain, muhasabah bukan saja membuat seseorang bangkit dari keterpurukan, tetapi juga bertransformasi menjadi pribadi yang cerah dan mencerahkan.

Keuntungan Muhasabah

Secara sedehana bisa dipahami sama dengan intropeksi, yaitu seseorang bertanya kepada dirinya sendiri tentang perbuatan yang dia lakukan agar jiwa menjadi tenang, dan memastikan secara gamblang apakah perbuatan yang dilakukan dalam kehidupannya sesuai dengan perintah-perintah Allah Ta’ala.

Lantas apa keuntungan diri kala rutin melakukan muhasabah.

Pertama, berpeluang besar menjadi pribadi yang mendapatkan anugerah sifat-sifat yang baik.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan besar.” (QS: Fushshilat [41]: 35).

Baca:Jangan Lewatkan Hari Tanpa Muhasabah 

Muhasabah mengajarkan kita perihal ketelitian sekaligus kesabaran dalam menilai diri sendiri, sehingga tidak ada lagi waktu dan energi yang digunakan untuk melakukan hal-hal yang tidak berfaedah, apalagi mengorek kesalahan orang lain.

 

Kedua, berpeluang besar menjadi pribadi yang memiliki jiwa yang suci.

Muhasabah akan mendorong seseorang terus membersihkan jiwanya. Dan, orang yang mensucikan jiwa Allah menjanjikan keuntungan. Dengan kata lain, muhasabah akan memastikan hidup kita lebih baik, suci dan tenang jiwa kita, dan pada akhirnya mendapatkan keuntungan dari sisi-Nya.

Ketiga, memiliki antusiasme dalam ibadah. Orang yang selalu melakukan muhasabah akan mendorong dirinya sendiri untuk banyak melakukan perbaikan, yang di antaranya diupayakan dengan bersegera melakukan kebaikan-kebaikan.

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya [21]: 90).*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hatihidupibadahmuhasabahtenang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Salah Kaprah Toleransi
Tulisan selanjutnya Maimon Herawati: Kita Bersama Membantu Ciptakan konten TV Sesuai Nilai Kita

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?