Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Ilmu dan Kaderisasi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 November 2019 08:37 8:37 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 November 2019 08:37
Bagikan
[Ilustrasi] Pendidikan
Bagikan

RATA-rata usia petani di Indonesia berumur 47 tahun sekarang. Diperkirakan 10-15 tahun mendatang terjadi krisis petani Indonesia. Demikian kata Arif Satria, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam kesempatan silaturahim dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan (11/11/2019).

Menurut Arif, seperti dikutip media, salah satu penyebabnya ditengarai tidak adanya alih generasi yang berjalan. Kaum milenial dianggap tidak lagi punya kecenderungan untuk mewarisi peran petani sekarang. Boleh jadi meski terlahir dari keluarga petani, namun belum tentu anak itu tertarik jadi petani pula di masa mendatang.

Kabar ini sempat viral sesaat beberapa waktu lalu. Banyak pihak seolah tersentak. Tak menyangka, yang dulu dikenal sebagai bangsa agraris justru diprediksi mengalami krisis petani. Layaknya kata peribahasa Indonesia. Ayam mati di lumbung padi. Petani sebagai faktor utama pada dunia pertanian malah jadi titik lemah yang mengkhawatirkan di masyarakat.

Di lain pihak, hendaknya ini juga menyadarkan pentingnya alih generasi atau kaderisasi tersebut. Bahwa apapun ternyata ada masanya. Kehidupan itu ada awal dan akhirnya. Dan itu butuh generasi pelanjut setelahnya. Sampai pada urusan yang secara logika pun terlihat mudah. Profesi petani, misalnya. Ternyata, pewarisan pekerjaan itu juga tak selamanya bisa berjalan alami begitu saja. Dibutuhkan kesungguhan berpikir dan tindakan hingga masa yang jauh ke depan.

Baca: Takaran Ilmu

Lalu kira-kira bagaimana dengan peran para guru, dosen, dai, dan semacam pendidik atau pendakwah lainnya? Secara notabene mereka mengemban tugas dan tanggung jawab yang lebih besar dan lebih rumit lagi. Sebab mereka tak hanya dituntut sekadar mengatur sawah, kelas, masjid atau mengelola benda mati lainnya. Ia juga tidak cuma berhubungan dengan urusan profesi atau pembelajaran skill dan kompetensi manusia.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Lebih dari itu, mereka dituntut sebagai khalifatullah (wakil Allah di muka bumi). Menegakkan keadilan, menciptakan kemakmuran, menyempurnakan akhlak masyarakat, menjadikan manusia punya prinsip hidup dan cara pandang yang benar, serta taat dan patuh beribadah kepada Allah.

Sebagai pendidik yang mewarisi risalah kenabian, misi utama guru atau dosen bukan saja sekadar menjadikan murid-muridnya menjadi pintar dengan pengetahuan yang luas. Mengubah yang bodoh menjadi pintar. Dari murid yang tidak tahu menjadi tahu. Sebab hakikat ilmu dan pendidikan adalah penanaman nilai-nilai kebaikan menjadi sebuah karakter pada diri seorang anak.

Pendidikan yang benar niscaya menguatkan ilmu yang dipelajari menjadi ilmu yang bermanfaat. Mendorong pemiliknya sebagai Mukmin yang produktif dengan amal shalehnya. Serta menjadikan orang-orang berilmu tersebut berada di garda terdepan dalam urusan takut kepada Allah. Firman Allah: “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama saja…” (Fathir [35]: 28).

Senada, tokoh pendidikan berdarah Melayu, Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan prinsip pendidikan pengkaderan tersebut. Ia berkata: “The aim of education in Islam therefore to produce a goodman… the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab.”

Lebih jauh dipahami, ukuran pendidikan pengkaderan tersebut adalah lahirnya generasi yang tak hanya mampu memahami secara konsep keilmuan (knowledge) saja. Namun juga memastikan transformasi nilai (value) juga berjalan. Bahwa ilmu saja tak cukup tanpa adab. Karena adab adalah ruh dari ilmu tersebut. Sedang amal shaleh dan ibadah yang menjadi ukuran evaluasi dalam kesehariannya.

Untuk itu, inilah tugas berat sekaligus tanggung jawab mulia seorang pendidik. Jika seorang Menteri Pertanian dijangkiti kekhawatiran akan regenerasi petani di masa mendatang. Maka kegelisahan seorang guru dan dosen lebih dari itu. Mereka dituntut bukan sekadar mencetak petani saja. Tapi bagaimana agar petani itu selain memiliki skill hebat, juga bersikap jujur, punya integritas, dan tetap taat menghamba kepada Allah. Itulah pendidikan dan pengkaderan Islam.* Masykur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabgenerasiguruilmukaderisasipendidikPendidikanpertanianpetani
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Politikus PDIP: Indonesia Tak akan Besar Jika Jiplak bangsa Arab, Amerika, atau China
Tulisan selanjutnya 107 Tahun Muhammadiyah Didorong Terus Mencerdaskan Bangsa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Berita
18 Juli 2026 09:30
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?