Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Berilmu = Takut pada Allah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Desember 2019 09:18 9:18 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Desember 2019 09:18
Bagikan
Bagikan

ORANG berilmu dan tidak berilmu itu berbeda. Keduanya tidak sama. Antara orang yang mengetahui dan tidak mengetahui. Itu sudah pasti. Secara ketetapan teori ataupun realitas dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang tahu dan mengerti dianggap bisa mengerjakan sesuatu dengan baik dan benar. Sedangkan orang yang tidak tahu jika bekerja biasanya akan asal-asalan. Paling tidak hasil kerjanya kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Firman Allah: “Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang bisa mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar [39]: 9). Dalam ayat lain, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama,” (QS. Al-Fathir [35]: 28).

Mukjizatnya, al-Qur’an menyebut perbedaan itu dengan uslub istifham inkari (redaksinya bertanya tapi sesungguhnya mengingkari). Apakah keduanya sama? Ya jelas tidak. Itu tak mungkin sama. Barangkali begitu nada dan kalimat ayat tersebut jika diterjemahkan kembali. Bagi orang beriman, sekadar berbeda rupanya belum cukup. Sebab masalahnya bukan asal tidak sama. Lalu selesai begitu saja.

Tapi bagaimana perbedaan itu sesungguhnya? Kalau sudah berilmu, apa setelahnya? Paling utama tentu saja mengembalikan segala sesuatu yang dipunyai manusia kepada iman. Termasuk ilmu. Patokan awal ilmu bermanfaat jika terkait dengan hidayah. Iman itu sumber kebahagiaan. Untuk itu, ilmu yang menjauhi hidayah hanyalah awal dari bencana. Ilmu tanpa hidayah berarti yang didapat bukan berkah dan merasa bahagia. Tapi bisa celaka yang berujung sengsara. Dunia dan Akhirat kelak.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Inilah pentingnya orientasi ilmu. Tak heran para ulama sejak dulu tak bosan mengingatkan. Mengulang-ulang kembali terkait niat belajar atau motivasi menuntut ilmu. Bahwa kewajiban yang digariskan dalam menuntut ilmu bukan sekadar tanpa tujuan. Perintah bersungguh-sungguh mencari ilmu tak lain beririsan dengan tujuan hidup itu sendiri. Sebab orientasi ilmu yang benar hakikatnya sama dengan kewajiban menghambakan diri kepada Sang Pencipta.

Dengan pemahaman di atas, maka orang berilmu seharusnya menjadi orang-orang yang paling takut ketika disebut nama Tuhannya.

Sebab, dengan ilmu yang dimiliki, mereka adalah kumpulan manusia yang paling paham hakikat hidup ini. Mereka dianggap sangat mengerti hukum-hukum agama dan kewajiban menegakkan syariat. Mereka juga berada di garda terdepan dalam urusan santun dan meninggikan adab ketika bermuamalah kepada sesama manusia. Serta banyak lagi manfaat positif dari ilmu tersebut.

Orang berilmu berarti punya keyakinan akan ke-MahaKuasa-an Allah Ta’ala. Imannya menjadi kuat. Ibadahnya lagi terjaga. Allah menjadi satu-satunya sandaran hidupnya. Bukan lagi bersandar kepada manusia atau ciptaan lainnya yang biasa dipertuhankan oleh manusia-manusia lalai dan tidak berilmu. Dengan bersandar keyakinan kepada-Nya, cara pandang orang berilmu niscaya ikut berubah. Jika orang-orang bekerja hanya untuk dunianya saja. Maka orang beriman mengejar nasibnya di akhirat melalui kehidupan dunianya saat ini.

Kisah tukang sihir di zaman Fir’aun layak jadi renungan sebagai penutup. Tatkala akalnya tercelup hidayah iman. Ilmu dan amalnya seketika berubah. Kalau dulu mereka adalah penyokong segala tindak tanduk dan ketetapan Fir’aun. Kini sikap itu berubah 180 derajat. Gagah ‎berani mereka mendeklarasikan keimanan di tengah lapangan terbuka. Tepat di hadapan wajah Fir’aun. Tanpa secuil rasa takut sedikitpun. Mereka sadar dan penuh yakin dengan ucapan tauhid tersebut.

Firman Allah, “Mereka berkata: Tidak masalah, sesungguhnya kepada Tuhan kamilah, kami akan kembali. ‎Sesungguhnya kami sudah sangat berharap Allah mengampuni dosa-dosa dan ‎kesalahan-kesalahan kami, dan kami betul-betul berharap menjadi orang-orang awal ‎beriman.” (QS. Asy-Syuara [26]: 50-51).* Masykur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AllahfiraunilmuImantaqwa
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Indonesia – UEA Akan Tingkatkan Kerja Sama Bidang Keagamaan
Tulisan selanjutnya Pemulihan Ekonomi Nelayan Korban Tsunami Selat Sunda

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset

Berita
28 Agustus 2026 12:20
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul

Terbaru

  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?