Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Lima Fase Hidup Nabi yang Perlu Kita Teladani [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Desember 2015 09:40 9:40 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Desember 2015 09:40
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

Oleh: Shalih Hasyim

IBARAT menanam tumbuhan, lahannya harus dipersiapkan terlebih dahulu. Tumbuhan akan tumbuh dengan baik apabila lahannya baik. Sebaliknya, tumbuhan akan kerdil bila tanahnya kering, bahkan tidak mustahil akan mati.

Al-Quran hanya bisa tumbuh dengan subur pada hati yang bersih dan suci. Tidak dapat menyentuh Al-Quran kecuali orang-orang yang suci. Pada hati yang suci Al-Quran akan hidup dengan kokoh dan membuahkan akhlak yang agung. Karena itu di dalam menerima nilai-nilai wahyu dibutuhkan proses, persiapan-persiapan ruhaniyah (mujahadah dan riyadhah). Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dapat menerima Al-Quran secara paripurna karena jiwa beliau sudah terantar sedemikian rupa, sehingga klop  (connect) dengan nilai Al-Quran. Beliau telah diberi kemampun mengaktualisasikan secara pribadi maupun sosial.

Ada syarat yang harus dipenuhi agar seseorang dapat berquran dengan baik, antara lain ; menjauhi sifat sombong (thagha’), tidak cinta dunia, menahan hawa nafsu dan takut kepada Tuhan. Thagha akan menolak kebenaran yang datang karena merasa paling benar, cinta dunia akan mengalahkan imannya, hawa nafsu akan menghalangi hati dari petunjuk, dan orang yang tidak takut kepada  Allah Subhanahu Wata’ala.

Sifat-sifat mulia yang dimiliki Rosul tidak lepas dari perjalanan hidupnya sebelum menerima wahyu. Ada proses manusiawi di samping proses Ilahiah, sehingga beliau mampu tertempa menjadi manusia yang siap mengemban Al-Quran. Beliau memiliki sifat-sifat yang sangat kondusif terhadap masuknya nilai-nilai Al-Quran. Seperti yang kita ketahui, yaitu shiddiq (jujur), amanah (bertanggung jawab), tabligh (menyampaikan wahyu), dan fathanah (cerdas), serta sifat-sifat terpuji lainnya.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Periode kehidupan yang mengantarkan Muhammad ke jenjang kenabian ini selayaknya dicermati untuk diambil hikmahnya, mengingat tetap berlakunya sunnatulloh berupa hukum sebab-akibat dari proses kehidupan tersebut terhadap hasil berikutnya. Output (hasil), tidak dapat dilepaskan dari rangkaian proses dan input.

Hasil dari proses pendidikan sejak lahir tersebut menjadi salah satu prasyarat kelayakan dan kepatutan Muhammad untuk menerima wahyu dan mengemban amanah   Allah Subhanahu Wata’ala di muka bumi ini. Bila disimpulkan, episode panjang selama 40 tahun itu telah mencakup segala aspek yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Diawali pada penekanan aspek spiritual,  psikologis, ketrampilan berkomunikasi, aspek sosial, ekonomi, hukum dan diakhiri dengan pendalaman aspek falsafi. Kelima bidang ini tepat dengan pembagian secara garis besar fase-fase kehidupan Muhammad yang terbagi dalam lima tahap, yaitu; fase yatim, fase mengembala, fase berdagang, fase berkeluarga dan fase ber-gua Hira.

Berikut diantara hikmah-hikmah dari proses pra-wahyu :

Fase Yatim

Nabi Muhammad saw dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 570 Masehi di Makkah.

Ayah beliau Abdullah dan ibu beliau Aminah. Sebelum beliau lahir, ayah beliau telah meninggal dunia dan dimakamkan di Madinah. Kemudian beliau diasuh oleh kakek beliau, Abdul Muthalib, seorang pembesar Quraisy, yang sangat mencintai Muhammad. Ia pernah berkata: “Putraku Muhammad memiliki masa depan yang cemerlang.”

Menginjak usia enam tahun, ibu beliau meninggal dunia. Pada usia sembilan tahun, kakek beliau pun meninggal dunia. Sebelum wafat,  Abdul Muthalib menitipkan cucunya ini (saw) kepada putranya, Abu Thalib agar menjaga dan merawatnya.

Sejak lahir, Muhammad tidak dikenalkan secara akrab dengan ayah, ibu dan kakeknya. Padahal orang tua merupakan orang terdekat yang membentuk pola pikir dan kepribadian anak. Hal ini menjadikan kepribadian Muhammad tidak terwarnai dan tetap fitrah dari pengaruh lingkungan keluarga dan masyarakat jahiliah pada saat itu. Fakta ini didukung dengan peristiwa pengasuhan Muhammad kecil di pegunungan Bani Sa’diyah, sebuah dusun yang jauh dari keramaian kota. Hal ini juga pembebasan dari pengaruh idiologi orang-orang kuat di sekitarnya yang akan menjadi jaminan akan kemurnian risalah kelak. Sebab, bagaimanapun, kakek beliau, Abdul Muthalib merupakan orang berpengaruh di tengah kaumnya. Tumbuhnya Muhammad sebagai anak yatim ini juga menjaganya dari tangan-tangan yang memanjakannya, baik harta maupun kemudahan lain. Otomatis hal ini mencetak kepribadiannya untuk tidak tergatung terhadap keduniaan dan kedudukan. Fase ini juga mendidik Muhammad untuk tidak memiliki sifat sombong, merasa benar ( ‘ujub) dan mau menang sendiri (ananiyah).

Al Quran telah mengisyaratkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam adalah seorang anak yatim:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيماً فَآوَى

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.” (QS: Ad Dhuha : 6).

Fase Menggembala

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam masih remaja beliau mengembala kambing untuk penduduk Makkah dengan mengambil beberapa upah dari kerjanya tersebut.

Diceritakan oleh Imam Malik, bahwasanya di sampaikan kepadanya bahwasanya Rasulullah telah bersabda: “Bahwa tidak seorangpun dari seorang nabi kecuali ia telah mengembala kambing, kemudian beliau (Nabi) ditanya: dan Anda bagaimana wahai Rasulullah? beliau saw. menjawab: saya juga.” (Muwattha’ oleh Imam Malik).

Mengembala kambing, sesuai denga situasi saat itu, memaksa seseorang untuk menjauh dari hiruk-pikuk keduniawian. Menjadi pengembala juga memaksa seseorang untuk peduli secara detail terhadap sesuatu, utamanya terhadap yang di gembalakannya (tanggungjawab dan kepekaan).

Pendekatan semacam ini mutlak penting bagi siapapun yang yang hendak menempatkan diri sebagai pemimpin. Jiwa sosial Muhammad tertempa dengan aktivitas seperti ini. Hal ini juga memberikan penekanan bahwa sebaik-baik harta adalah yang didapat dari hasil usaha sendiri. Untuk hidup mulia, seorang harus sanggup memeras keringat dan membanting tulang secara wajar dan bermartabat. Mengembala juga bukan pekerjaan terhormat, sehingga lagi-lagi Muhammad tertempa menjadi manusia rendah hati. Selain itu, aktivitas ini menyatu dengan alam, cinta alam, alam tidak pernah berdusta, sehingga akan membantu mempertajam sifat shiddiq.* (BERSAMBUNG)

 Penulis tinggal di Kudus, Jawa Tengah 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:al-Quranfase hidupkenabian
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Erdogan: Turki Menolak Gabung Kwartet Anti ISIS Bersama Rusia, karena Ada Assad
Tulisan selanjutnya Hamas: 2016 Perlawanan Tepi Barat Akan Meningkat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace

Artikel
13 Agustus 2026 11:04
MUI Kecam Promosi Miras Pakai Tantangan Hafalan Surat Ad-Dhuha
Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah, Dorong Media Tetap Cepat, Akurat dan Harus Benar di Era Digital
Kecam Pengakuan Kolombia atas Kedaulatan ‘Israel’ di Golan, Oman: Melanggar Hukum Internasional
PM Anwar Ibrahim Upayakan Pencabutan UU yang Membatasi Kegiatan Politik Mahasiswa

Terbaru

  • 19 Kota di Dunia Gelar Aksi Demo, Desak Blokade Gaza Segera Dibuka
  • Data Korban Gempa NTT: 68 Meninggal Dunia, 213 Luka-Luka
  • Makin Banyak Warga ‘Israel’ Pergi, Hanya Sedikit yang Kembali
  • 7.968 Rumah dan 744 Fasum Rusak Akibat Gempa di NTT
  • ‘Israel’ dan Board of Peace Bentuk Dua Komite Gaza, Apa Tujuannya?
  • Usia Belum Tua, tapi Sering Merasa Tua? Hati-Hati Bisa Sebabkan Imsonia dan Gangguan Kesehatan
  • Nasib Pengungsi Rohingya, Mau Pulang Harus Minta Izin Pemerintah Myanmar
  • Sebut Orang Palestina Bukan Manusia, Menteri ‘Israel’ Serukan Pembunuhan Massal
  • Takuti Warga ‘Israel’, Netanyahu Pajang Wajah Para Pemimpin Muslim di Baliho Pemilu
  • Raja Yordania akan Melawat ke China

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?