Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Currency Risk, More Then Earthquake Risk!

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Agustus 2016 09:30 9:30 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Agustus 2016 10:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

 

Saat ini kita menggunakan Rupiah, Dollar, Euro, Riyal dlsb. dan mengira itulah uang. Apa yang kita kenal sebagai uang ini sesungguhnya hanyalah currency atau alat tukar sesaat. Untuk menjadi uang yang sesungguhnya, sesuatu itu harus bisa memerankan tiga hal sekaligus yaitu medium of exchange, unit of account dan store of value. Rupiah, Dollar, Euro dlsb, tidak bisa memerankan ketiga fungsi tersebut karena nilainya terus menyusut. Sesuatu yang menyusut tidak bisa menjadi unit of account, apalagi store of value. Jadi apa yang bisa berperan menjadi uang yang sesungguhnya?

Bahkan sebagai medium of exchange-pun currency manapun perlu terus diwaspadai karena selalu ada resiko sewaktu-waktu nilainya berubah total, dan ini bisa saja terjadi secara global atau yang dikenal sebagai global currency reset.

Dalam sejarah uang misalnya, berapa lama sih usia Rupiah, Dollar, Deutsche Mark-nya Jerman ? Rupiah keberadaannya kurang lebih seusia republic ini, itupun Rupiah tahun 50-60-an jelas sangat berbeda dengan Rupiah sekarang – karena tahun 1965-1966 rupiah di-reset nilainya dengan menghilangkan tiga angka nol atau saat itu dikenal dengan sanering.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Negeri adidaya teknologi seperti Jerman-pun uangnya terus berubah sejak Perang Dunia 1, Weimer Republic dan Perang Dunia II. Dan uang kebanggaan mereka Deutsche Mark-pun akhirnya berakhir dengan berlakunya Euro sekitar 15 tahun lalu.

Dollar yang perkasa hingga kini keberadaannya baru sekitar seratus tahun dan daya belinya-pun terus berubah. Dollar sekarang jelas berbeda dengan Dollar sebelum 1971 ketika Dollar mulai dilepas dari ikatannya terhadap emas.

Walhasil uang yang kita kenal adalah currency – yang hanya berlaku selama periode tertentu – dan sewaktu-waktu bisa mengalami perubahan, baik yang sifatnya gradual melalui inflasi, maupun yang sifatnya mendadak seperti devaluasi, sanering atau yang lagi ramai dibicarakan secara global sekarang adalah apa yang disebut global currency reset – yaitu resiko dadakan bila sejumlah negara tiba-tiba harus menurunkan atau mengubah daya beli uangnya.

Apa resiko yang bisa menimpa kita bila ini terjadi? Di negeri ini setidaknya kita sudah pernah mengalaminya dua kali. Yaitu ketika terjadi sanering 1965/1966 dan ketika daya beli uang kita turun tinggal ¼-nya terhadap Dollar dan mata uang kuta lainnya pada krisis moneter 1997/1998.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa resiko currency reset secara global memang ada, dan resikonya bahkan lebih besar dari resiko gempa bumi baik dari sisi severity maupun dari sisi frequency –nya.

Di ilmu saya yang lama – ketika saya membuat produk asuransi gempa bumi – misalnya. Produk ini sangat laris dan hampir semua gedung bertingkat di Jakarta dan kota-kota besar pasti membelinya. Bisa karena kesadaran sendiri, atau karena diharuskan oleh bank yang membiayai gedung-gedung tersebut – yang semuanya takut akan resiko gempa bumi.

Bagaimana industri asuransi menyiapkan proteksi-nya agar bila terjadi sesuatu yang sangat besar mereka tetap bisa membayarnya? Mereka bekerjasama dengan berbagai industri asuransi dan reasuransi dalam dan luar negeri untuk menyediakan proteksi dengan nilai yang diperkirakan cukup. Berapa nilai yang dianggap cukup itu?

Mereka membuat skenario berdasarkan frequency  – kemungkinan terjadinya suatu resiko, dan berdasarkan severity – tingkat kerusakan bila resiko itu bener-bener terjadi. Frequency  yang diambil biasanya atas gempa bumi dalam siklus tertentu seperti siklus 100 tahunan dst. Sedangkan severity, biasanya diambil dalam persentase kerusakan tertentu misalnya 15 % -30 %.

Semakin tinggi frequency  (semakin dekat dari satu kejadian ke kejadian lainnya) dan semakin tinggi severity – akan melonjakkan biaya asuransi atau yang dikenal sebagai premi.

Nah sekarang dengan teori resiko tersebut, bagaimana kalau kita terapkan terhadap resiko yang kita hadapi berupa currency reset, devaluasi, sanering atau apapun namanya?

Dalam 50 tahun terakhir kita mengalami dua kali kejadian yaitu sanering 1965/1966 dan krismon 1997/1998. Artinya frequency  rata-rata kita sekitar 25 tahun-an  atau jauh lebih cepat dari frequency  gempa bumi yang digunakan dasar perhitungan di industri asuransi !

Dari sisi severity, tidak terhitung kerugian kita ketika uang Rp 1,000 kita menjadi uang Rp 1,- seperti tahun 1965/1966. Yang lebih mudah dihitung adalah ketika properti gedung-gedung di Jakarta dan di Indonesia pada umumnya, nilainya dalam Dollar turun menjadi sekitar ¼-nya pada tahun 1997/1998.

Artinya kerugian dalam Dollar yang dialami para pemilik gedung tersebut adalah 75% saat itu ! lagi-lagi jauh lebih tinggi dari PML (Possible Maximum Loss)-nya gempa bumi dasyat yang diperkirakan di kisaran 15% – 30 % tingkat kerusakan!

Gedung-gedung tersebut memang akhirnya masih tegak berdiri, tetapi pemilik gedung atau pemilik usahanya bahkan telah begitu banyak yang pindah ke tangan-tangan asing yang uangnya tidak ter-devaluasi seperti yang kita alami tahun 1997/1998.

Para pemilik gedung atau bangunan bisa membeli produk asuransi untuk memproteksi resiko gempa bumi. Tetapi apakah mereka bisa memproteksi terhadap resiko yang lebih dasyat dari gempa bumi tersebut?

Ternyata mayoritas kita tidak aware masalah resiko yang sangat besar berupa potensi hilangnya daya beli kita sewaktu-waktu ini. Padahal bila mengambil frequency  resiko kita yang berulang di kisaran angka 25 tahun tersebut, kini kita sudah berjalan mendekati  20 tahun sejak 1997  – artinya resiko besar itu bisa saja mengancam kita dalam kisaran lima tahun lagi!

So what? What we can do? Beli asuransi ? – tidak ada yang mampu menyediakan proteksi untuk currency risk ini. Tetapi Alhamdulillah kita diberi solusi olehNya langsung.

Yaitu uang kita namanya disebutkan di Al-Qur’an yaitu Dinar emas di surat Ali Imron ayat 75,  dan Dirham perak yang disebut di dua ayat yaitu di Surat Yusuf ayat 20 dan tepat di tengah-tengah Al-Qur’an di surat Al-Kahfi ayat 19. Tidak hanya emas dan perak, uang kita bisa berupa benda-benda riil yang kita butuhkan sehari-hari. Perhatikan hadits berikut :
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim)

Jadi kita tidak perlu membeli asuransi untuk menghadapi currency risk yang lebih dasyat dari gempa bumi, ayat dan hadits tersebut di atas adalah solusinya. Solusi itu ada di Dinar emas, Dirham perak, bahan pangan kita, bibit-bibit tanaman kita dan segala kebutuhan kita lainnya yang memang membawa nilai intrinsic-nya masing-masing – true value yang tidak akan terpengaruh oleh nilai currency.

Dan ini juga terbukti di jaman ini, ketika terjadi krisis financial hebat di Argentina tahun 2001 masyarakatnya mengembangkan kearifan lokal dengan menanam apa saja di halaman rumahnya.

Hasilnya kemudian bisa di-barter dengan kebutuhan lain dengan masyarakat lainnya. Ketika tahun 2014 krisis yang sama berulang di negeri tersebut, masyarakat sudah pengalaman dalam mensikapinya.

Apakah kita siap bila krisis yang sama tahun 1997/1998 berulang di kita? Dengan membaca tulisan inipun dan kemudian menindak lanjutinya dengan langkah konkrit di sini dan saat ini juga, maka insyaAllah kita juga siap!

 Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Dinardirhamemas
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Muslimah Inggris Susah Mencari Pekerjaan karena Agama Mereka
Tulisan selanjutnya Pemerintah Berhadap Indonesia Jadi Pusat Produk Halal Bersertifikat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?