Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Meminang Surga

Mitos Krisis Identitas Remaja

Ahmad
Terakhir diupdate: 17 Juni 2021 22:29 10:29 pm
Ahmad
Dipublikasikan 18 Juni 2021 08:15
Bagikan
krisis identitas
Bagikan

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Hidayatullah.com | Justru seharusnya, anak-anak memasuki masa remaja tanpa krisis identitas. Tidak perlu mengalami badai dan guncangan sebagaimana diyakini oleh sebagian psikolog.

Penelitian psikologi sendiri sebagaimana –misalnya– ditunjukkan oleh Offer D and Schonert-Reichl KA (1992) dalam laporan bertajuk Debunking the Myths of Adolescence: Findings from Recent Research menegaskan bahwa hanya 20% remaja yang mengalami krisis identitas. Mayoritas memasuki masa remaja dan melewatinya tanpa mengalami krisis.

Hasil riset yang dimuat dalam Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry (Desember 1992) ini menegaskan kembali pendapat maupun hasil-hasil penelitian terdahulu bahwa krisis identitas sebagai fase yang harus dilalui oleh para remaja merupakan mitos belaka. Tetapi akibat meyakini mitos ini, begitu banyak pendidik yang melonggarkan nilai-nilai (loosening values). Padahal tidak adanya keyakinan yang kuat terhadap nilai-nilai itulah justru penyebab krisis. Semakin kuat pegangan seorang remaja kepada nilai keimanan sehingga membangkitkan idealisme dalam dirinya, maka semakin jauh dari krisis identitas.

Masalah krisis identitas yang seolah wajib dialami para remaja ini semakin tidak menemukan tempatnya apabila kita menyandarkan diri pada tuntunan Islam. Tidak kita temukan nash yang tegas menyatakan remaja sebagai masa keguncangan dan kekacauan identitas diri. Tidak pula kita temukan contohnya pada generasi Sahabat, tabi’in, tabi’ut-tabi’in, hingga generasi sesudahnya.

Baca Juga

teman
Membebaskan Anak dari Label Negatif
Lembut Itu Tak Berkata Kasar
Diistimewakan Allah Bersebab Niat Jujur Orangtua
Tanpa Ta`dib dan Pendidikan Adab, Boarding School Ibarat Rumah Kost Belaka
Kreatif Tanpa Musik

Sebaliknya, mereka justru menjadi para pemuda generasi terbaik. Usia masih sangat muda, tetapi telah matang kepribadiannya, sehat mentalnya, dan memiliki kemampuan berpikir yang mendalam dengan berpijak pada tuntunan agama yang sempurna.

Mitos krisis identitas pada remaja bermula dari buku tulisan Granville Stanley Hall berjudul Adolescence: Its Psychology and Its Relations to Physiology, Anthropology, Sex, Crime, Religion, and Education (1904). Psikolog Zionis sekaligus pendiri APA (American Psychological Association) ini menyatakan bahwa keguncangan dan badai (storm and stress) merupakan ciri khas yang pasti dialami oleh setiap remaja. Mereka sedang mengalami krisis identitas. Inilah masa ketika remaja meragukan agamanya. Meninggalkan agama (murtad) merupakan hal yang normatif alias sangat wajar terjadi.

Hall menyarankan agar remaja tidak disibukkan dengan tanggung jawab pekerjaan. Remaja sebaiknya diarahkan agar hanya sibuk belajar di bangku sekolah. Anehnya, saran Hall ini justru bertentangan dengan hasil risetnya sendiri.

Hasil riset Hall menunjukkan bahwa remaja yang mengalami krisis kurang dari 20%. Hanya saja, Hall menguasai publikasi sehingga asumsi-asumsinya diterima sebagai teori psikologi yang dianggap 100% benar.

Apa yang terjadi jika kita mempercayai asumsi Hall? Menganggap wajar tingkah laku buruk remaja dan tidak mencegahnya karena merupakan hal yang lumrah. Mereka masih mencari jatidiri sehingga kenakalan dan tingkah laku yang melanggar norma ditoleransi bahkan dianggap sebagai hal yang seharusnya terjadi untuk mencapai kematangan diri. Seolah tanpa adanya berbagai tingkah laku tersebut mereka tidak akan berkembang menjadi remaja yang unggul, mandiri, dan memiliki sikap yang kokoh.

Begitu besarnya pengaruh Hall sampai-sampai di dunia Arab pun muncul istilah muraahiq. Akar kata ra-ha-qa, jelas Abdul Aziz an-Naghaimsyi, bermakna bodoh, dungu, tergesa-gesa, dan melakukan kejahatan.

Istilah yang berkonotasi buruk tersebut pada gilirannya menggantikan istilah syabab (pemuda) yang dipergunakan dalam hadits Nabi SAW. Padahal kata syabab lebih bermakna positif. Di dalamnya terkandung pengertian tawaqqud (menyala-nyala) untuk menunjukkan semangat yang berkobar-kobar dalam memperjuangkan idealisme dan meraih apa yang menjadi cita-citanya.

Bermula dari pergeseran istilah syabab menjadi muraahiq, banyak perubahan sikap terjadi dalam menghadapi masa yang sangat strategis ini. Para guru maupun orangtua yang seharusnya sigap jika menjumpai keanehan cara berpikir maupun keyakinan anak, menjadi kendor karena menganggap sebagai tahap perkembangan yang wajar. Gejolak anak, dan bukannya semangat yang meluap untuk bersungguh-sungguh (hirsh), ditanggapi sebagai kewajaran yang sudah seharusnya terjadi.

Kita menjadi lalai menyiapkan anak untuk segera meraih masa dewasa, siap bertanggung jawab di usianya yang belia. Padahal semestinya, jikapun kita masih terus membantu mereka, anak-anak itu sudah memiliki kesadaran tentang tanggung jawab dan mampu mengelola dirinya.

‘Aqil Baligh Itu Proses’

Salah tugas penting yang perlu direnungkan adalah mempersiapkan anak-anak kita mampu menjadi mukallaf begitu mereka mendapati tanda-tandanya. Salah satu yang seharusnya melekat pada setiap mukallaf adalah akalnya telah sampai (‘aqil balligh). Yakni mereka memiliki kecakapan berpikir yang matang berdasarkan acuan shahih dalam agama ini.

Kecakapan untuk menakar menimbang itu beriring dengan kematangan mental. Sesungguhnya akal bukan hanya berkait dengan rasio. Jauh lebih dari itu. Dan ini seharusnya terjadi beriringan dengan datangnya kemasakan seksual yang ditandai dengan haid untuk pertama kali bagi perempuan dan ihtilam (mimpi basah) bagi laki-laki.

Salah satu tanda tercapainya ‘aqil baligh adalah adanya sifat rasyid yang dicirikan oleh kemampuan membelanjakan harta (tasharruf) dengan baik dan bertanggung jawab. Ini semua memerlukan proses pendidikan dan pendampingan. Tidak datang dengan tiba-tiba.

Anak akan belajar meraih kematangan berpikir melalui proses latihan dan terus-menerus mengilmui disertai latihan. Sekadar berpengetahuan banyak tidak menjadikan anak mampu berpikir secara terarah dan tertata.

Sebelum datangnya kemasakan seksual, seharusnya anak kita telah menjadi mumayyiz di usia 6 atau 7 tahun. Inilah masa ketika anak-anak mulai kita kenalkan dan ajari bebanan ibadah. Tetapi sebagaimana ‘aqil baligh, kemampuan untuk membedakan baik dan buruk serta benar dan salah dengan akalnya atau dikenal dengan istilah tamyiz perlu ditumbuhkan dan dibangun dengan sungguh-sungguh oleh orangtua maupun pendidik. Usia ini merupakan masa ketika anak memiliki potensi kuat untuk memiliki kemampuan tamyiz, tetapi ini semua perlu kita persiapkan.

Cukupkah itu? Tidak. Arah hidup mereka perlu kita bangun. Anak-anak harus memiliki idealisme, yakni seperangkat keyakinan yang membangkitkan keinginan untuk mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika anak hanya memiliki banyak pengetahuan, maka krisis identitas di masa remaja masih mungkin akan terjadi.

Nah, sudahkah anak-anak kita siap mencapai ‘aqil baligh?*

Penulis buku ‘Mencari ketenangan di tengah kesibukan’ dan pengajar Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu’.

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Fauzil AdhimKrisis Identitas Remajapsikologiremaja
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kunjungan Menteri China Turki China Dituding Memanipulasi Catatan Angka Populasi untuk Mengelak dari Kecaman Genosida terhadap Muslim Uighur
Tulisan selanjutnya AS Kucurkan Miliaran Dolar Untuk Pengembangan Obat Covid-19

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

perjuangan
Meminang Surga

Matinya Perjuangan

17 Januari 2022 14:00
Meminang Surga

Lembut Itu Ada Takarannya

30 November 2021 15:00
Za'faran Herbal
Meminang Surga

Tiap Obat Ada Dosisnya ⁣

8 Oktober 2021 07:33
Jepang, Negeri Yang menua
Meminang Surga

Keengganan Mengurusi Anak Dan Masa Depan Demografis Jepang. ⁣⁣

13 September 2021 17:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?