Muhammad Harist Pradana, anak berkebutuhan khusus (ABK), ditemani orangtuanya di gedung SDIT Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu (28/04/2018).
Bagikan
PELAJAR sekolah dasar yang satu ini patut jadi contoh bagi para penuntut ilmu lainnya. Adalah Muhammad Harist Pradana. Murid SD kelas 6 ini tergolong anak berkebutuhan khusus (ABK).
Sehari-hari ia harus menggunakan alat bantu khusus demi menopang tubuhnya agar bisa berjalan. Atau digendong oleh orang lain.
Namun, kondisi itu tidak menyurutkan langkah putra dari Dedi Wibisono ini untuk menuntut ilmu.
Pada Sabtu, 28 April 2018, Harist ikut sebagai salah satu peserta Khataman dan Imtihan Al-Qur’an Metode ‘Ummi’ Kategori Tartil dan Tahfidz Jus 30 Angkatan III SD Integral Hidayatullah Depok di Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat.
Harist Pradana membaca al-Qur’an bersama teman-temannya di aula SDIT Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu (28/04/2018). [Foto: Muh. Abdus Syakur/hidayatullah.com]Pengamatan hidayatullah.com, penyandang tuna daksa itu tampak bersemangat mengikuti kegiatan belajar di sekolah tersebut. Tak terlihat sikap minder terhadap teman-temannya.
Demi menguatkan dan mendukung tekad Harist dalam menuntut ilmu, para guru bahkan kepala sekolahnya pun kerap membantu Harist melakukan berbagai kegiatan di sekolah.
Acara Khataman dan Imtihan di aula SDIT Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu (28/04/2018). [Foto: Muh. Abdus Syakur/hidayatullah.com]Harist bisa dibilang sosok yang istimewa. Di balik kekurangan fisiknya, ia mampu membaca, mempelajari bacaan, dan menghafal al-Qur’an. “(Harist) hafal juz 30,” ujar salah seorang gurunya kepada media ini.
Harist Pradana menerima sertifikat nilai dari Kepala SDIT Hidayatullah Depok Abdul Rohim pada acara Khataman dan Imtihan. [Foto: Muh. Abdus Syakur/hidayatullah.com]Abdul Rohim, Kepala SDIT tersebut, mengaku bangga atas prestasi dan pencapaian Harist dan para muridnya yang lain selama ini.
“Ustadz sangat bangga sekali dengan apa yang telah kalian raih,” ujarnya dalam sambutannya pada acara yang dihadiri orang tua/wali murid para santri tersebut.
Harist datang ke tempat acara di lantai dua gedung sekolah itu didampingi oleh ibunya.
[Foto: Muh. Abdus Syakur/hidayatullah.com]Suatu waktu media ini pernah mendapati Harist harus merangkak layaknya seorang bayi untuk menuju ruang kelas meskipun seringkali orang lain banyak membantunya.*