Hidayatullah.com–Satu tantangan nyata yang dihadapi umat Islam adalah bidang ekonomi. Umat Islam masih menjadi pasar bangsa lain, akibatnya ketergantungan dalam banyak hal tidak bisa dihindari.
Sementara itu, di sisi lain, sebagian dari umat Islam yang bergerak di bidang ekonomi belum berorientasi pada hidupnya syiar Islam.
Demikian salah satu poin penting yang disampaikan oleh Pimpinan Umum Hidayatullah Abdurrahman Muhammad dalam acara Silaturrahim Kader Muda Hidayatullah Se-Jabodetabek Ahad (29/11/2015) kemarin.
“Ekonomi itu tantangan tersendiri. Tetapi yang penting adalah bagaimana kita memiliki etos kerja tinggi, sehingga kita memiliki sumber daya ma’isyah yang dengan itu etos kita dalam berinfaq di jalan Allah bisa terus terlatih,” ungkapnya.
Lebih jauh, Abdurrahman menegaskan bahwa hal ini tidak mudah untuk dilakukan jika tidak diyakini dan terus dilatih diamalkan.
“Infaq itu perintah. Dan, meyakini Islam ini salah satunya dengan meyakini amalan-amalan yang Allah perintahkan, sehingga terus terjaga ketajaman iman ini. Oleh karena itu, kita harus menghidupkan budaya berinfak dan mendoakan mereka yang berifaq di jalan Allah agar Allah kuatkan keimanannya. Insya Allah doa itu Allah terima,” imbuhnya.
Namun, diingatkan Abdurrahman, lembaga-lembaga keumatan harus benar-benar kredibel (dapat dipercaya), sehingga umat yang ingin berinfaq dalam program-program fi sabilillah tidak ragu-ragu.
“Zaman Nabi itu tidak ada bank. Tapi ada Nabi Muhammad yang amanah, sehingga orang-orang merasa aman dan nyaman jika menitipkan uang mereka kepada Nabi Muhammad. Sama dengan sekarang, lembaga-lembaga umat harus kredibel, sehingga umat Islam bisa lega dan percaya bahwa infaqnya memang tepat guna,” ucapnya.
Paparan itu disampaikan kala memberikan jawaban atas pertanyaan peserta silaturrahim yang sudah terjun di dunia usaha, kaitannya terhadap perlunya kaum muda memahami ekonomi sebagai bagian penting dari menghidupkan agama.*