Mengapa seseorang atau bahkan mungkin diri kita begitu santai mengisi hari-hari dan rata-rata berlalu tanpa antusiasme berlomba-lomba dalam kebaikan?
Akibatnya hidup seperti tanpa makna, kehilangan arah dan disorientasi. Padahal, sebagai Muslim sudah sepatutnya mengerjakan amal-amal baik untuk meningkatkan iman dan taqwa.
Lihatlah sejarah dan perhatikan apa yang menjadi fokus kehidupan mereka. Dalam hal ibadah luar biasa mereka berusaha. Dalam hal bekerja dan berkarya semangatnya juga sangat dahsyat.
Zaid bin Arqam menuturkan, Rasulullah pernah berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada- Mu dari rasa lemah dan malas, dari rasa takut, pikun, dan bakhil. Aku juga berlindung kepada- Mu dari siksa kubur dan fitnah hidup dan kematian.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Ibnul Qayyim dalam kitab Miftah Dar al- Sa’adah mengatakan, kemalasan membuat seseorang menyia-nyiakan waktu, berlebihlebihan, tidak mendapatkan apa pun, dan sangat menyesal.
Bahkan para wanita, kaum Muslimah mesti melihat lekat-lekat kesungguhan Ummul Mukmini dalam belajar, bukan semata soal akhirat tetapi juga keduniaan.
Suatu hari Urwah berkata, “Wahai Ummul Mukminin, saya tak heran atas kepandaianmu dalam soal agama. Sebab, Anda adalah istri Rasulullah dan putri Abu Bakar. Saya pun tidak terkejut atas kemahiranmu tentang syair dan hari-hari orang besar. Sebab Anda adalah putri Abu Bakar yang terkenal cerdas. Tetapi yang saya takjub terhadap diri Anda adalah kepandaian dalam pengobatan, dari mana Anda memperolehnya?”
Aisyah menjawab : “Ya Aba Uraiyah, ketika Rasulullah sakit pada akhir hayatnya, utusan-utusan dari berbagai wilayah negeri Arab datang. Mereka membawa resep yang baik untuk pengobatan beliau sehingga saya mempraktikkannya dalam pengobatan.”
Aisyah benar-benar semangat belajar, hingga Az-Zuhri berkata, “Andaikata semua ilmu yang dimiliki istri-istri Rasulullah dikumpulkan, belum dapat menandingi ilmu yang dimiliki Aisyah.”
Demikian tidak lain karena waktu yang Allah berikan kepadanya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk bisa banyak dan berkualitas dalam kebaikan demi kebaikan.
Terkait hal ini jelas janji-Nya.
مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُ ۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ (١٦٠)
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. al-An’am [6]: 160).
Nabi Muhammad menjelaskan betapa banyak kelebihan yang Allah berikan kepada makhluk-Nya. Di antaranya yaitu orang yang berniat melakukan kebaikan sekalipun belum dilaksanakan mendapatkan satu pahala, sedangkan orang yang berniat berbuat dosa tetapi tidak jadi dikerjakan maka mendapatkan satu pahala, dan bila ia laksanakan mendapatkan satu dosa.
Orang yang berniat baik kemudian melaksanakannya, Allah tetapkan baginya 10 kali pahala. Ini adalah suatu keutamaan yang sangat besar, yaitu dengan melipat gandakan pahala kebaikan, tetapi tidak melipatgandakan siksa atas perbuatan dosa. Allah tetapkan keinginan berbuat baik sebagai suatu kebaikan, karena keinginan berbuat baik itu merupakan perbuatan hati yang ditekadkannya.
Dan, yang luar biasa adalah setiap kebaikan yang diamalkan oleh umat Islam akan berbuah kebaikan pula.
إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡۖ وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ فَلَهَاۚ فَإِذَا جَآءَ وَعۡدُ ٱلۡأَخِرَةِ لِيَسُـۥۤـُٔواْ وُجُوهَڪُمۡ
“Jika kalian berbuat baik (berarti) kalian berbuat Baik untuk dirimu sendiri,Dan jika kalian berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS: Al Isra [17]: 7).
Terkait pentingnya fokus berlomba dalam kebaikan ini Aid Al-Qarny dalam bukunya Hakadza Haddasuna az-Zaman menuliskan bahwa setiap Muslim hendaknya memiliki tempat di dunia ini, memiliki nilai, bukan nomor kosong yang tidak diperhitungkan.
“Ingatlah, bahwa lebah yang terpotong, akan terlempar dari sarangnya, karena dia tidak lagi bernilai. Dan pohon yang kering, akan disingkirkan dari kebun, karena tidak ada manfaatnya lagi,” tulisnya mengilustrasikan pentingnya kebaikan.
Kemudian Al-Qarny memberikan puisi, “Tidak ada kebaikan pada seseorang dalam hidupnya, bila dia termasuk orang-orang yang tak ubahnya seperti barang tak berharga.”
Jadi, mulailah fokus dalm kebaikan. Lumat habis setiap kesempatan kebaikan. Isi lembaran hidup kita dengan kajian ilmu, produktivitas, karya, dan penghimpunan pengetahuan umum, dengan tidak lupa terus beramal sholeh, membantu sesama, memberi kontribusi bagi kemaslahatan hidup bangsa dan negara, insya Allah hidup kita akan penuh warna, bahagia, tenteram dan bermanfaat.
Jika hal ini bisa menjadi mainstream hidup kita, insya Allah tidak ada waktu untuk diri terlibat dalm hal-hal tidak baik, sia-sia, apalagi dosa dan aniaya. Wallahu a’lam.*/Imam Nawawi