Hidayatullah.com—Sebanyak 20 penduduk ilegal ‘Israel’ menyerang seorang gembala Palestina di desa Maghayir al‑Abeed (di wilayah Masafer Yatta, Hebron). Mereka juga mengejar domba para penduduk dengan kendaraan off-road (ATV).
Laporan media sosial Palestina juga melaporkan para pemukim Israel melakukan serangan terkoordinasi di Masafer Yatta — menyerbu desa-desa, menyerang penduduk, dan menjarah ternak. Tujuan mereka melakukan teror dan mengusir warga Palestina dari tanah mereka melalui kekerasan dan ketakutan.
“Serangan teror lainnya. Hari ini, pemukim dari pos terdepan Maon turun ke al-Tuwani, Masafer Yatta. Para pemukim, yang dilindungi oleh tentara, melukai dua orang & melarikan diri tanpa dimintai pertanggungjawaban.
Serangan itu sistematis dan jelas didukung oleh pemerintah pendudukan,” tulis akun aktivis Palestina, Mohammad Hesham di akun X @M7mdHuraini.
Eye on Palestine @EyeonPalestine 5 Nov 2025 mengunggah video Pemukim Israel menyerang warga Palestina di Masafer Yatta, Hebron selatan.
Menurut Eye on Palestine, seorang ibu Palestina terluka parah setelah diserang oleh pemukim Israel saat fajar di Masafer Yatta, selatan Hebron. Keluarga tersebut mendokumentasikan serangan tersebut dalam video.
Seorang pengguna media sosial Palestina, Basel Adra juga melaporkan, para pemukim Israel menyerbu kebun zaitun Palestina di desa Susiya/Masafer Yatta dan mulai menebang pohon zaitun. “Mereka bertindak tanpa hukuman, dilindungi oleh pemerintah yang juga memiliki kekebalan dari Barat,” tulisnya di akun @basel_adra, 7 Nov 2025.
Pencurian ternak
Selama 12 bulan terakhir, komunitas penggembala dan peternak Palestina di beberapa kawasan Tepi Barat — khususnya Lembah Yordan (Ein al-Auja) dan perbukitan selatan Hebron (Masafer Yatta) — melaporkan gelombang serangan, intimidasi dan pencurian ternak yang semakin sering dan berskala besar.
Kasus-kasus itu termasuk perampasan ratusan hingga ribuan ekor domba/kambing dalam satu insiden, pelecehan dan pengusiran paksa, serta serangan fisik terhadap gembala, kutip Reuters.
Reuter mencatat, pada 7–11 Maret 2025 di sekitar komunitas Ras Ein al-Auja (Lembah Yordan), ketika penduduk setempat melaporkan bahwa ratusan hingga sekitar 1.500 ekor domba dan kambing digiring keluar dari perkampungan oleh sekelompok pemukim bersenjata — menurut kesaksian warga, beberapa petugas keamanan terlihat berada di lokasi saat kejadian dan warga kesulitan mendapatkan perlindungan.
Korban menggambarkan kehilangan ternak sebagai “kehilangan mata pencaharian” dan menyatakan ketidakpercayaan pada respons aparat.
Di wilayah selatan Hebron, khususnya Masafer Yatta dan desa-desa seperti Maghayir al-’Abid, sejumlah laporan organisasi hak asasi dan wartawan mendokumentasikan serangan berulang terhadap gembala: pengusiran dari lahan penggembalaan, perusakan fasilitas, pengejaran ternak dengan ATV, serta tindakan intimidasi yang membuat keluarga terpaksa menahan ternak di kandang atau meninggalkan lahan.
Lembaga pemantau HAM Israel B’Tselem dan organisasi internasional mencatat pola berulang ini sebagai bagian dari peningkatan kekerasan pemukim selama periode yang lebih luas.
Laporan organisasi kemanusiaan PBB dan OCHA juga memberikan konteks statistik: sejak Januari 2024 beberapa komunitas mengalami lonjakan insiden — termasuk pencurian ternak, pembakaran properti, dan serangan fisik — yang mengakibatkan kerugian ekonomi besar bagi keluarga bergantung pada penggembalaan.
OCHA mendokumentasikan ratusan insiden di beberapa lokasi yang sama dalam laporan situasi mereka.
“Ini yang terbesar yang pernah terjadi,” kata Hani Zayed, salah seorang warga di Ein al-Auja yang kehilangan puluhan ekor; “Anak-anak ketakutan — polisi tak banyak membantu,” ujar Nayfeh Salameh, seorang ibu, dalam wawancara Reuters.*




