Hidayatullah.com – Jembatan bersejarah peninggalan era kekhalifahan Utsmaniyyah di provinsi Kirkuk, Irak, telah berdiri kokoh selama 142 tahun, bertahan dari banjir musiman dan perjalanan waktu.
Jembatan Daquq, dibangun di atas aliran sungai musiman Daquq Chey, dulunya merupakan penghubung penting bagi kafilah dagang yang melakukan perjalanan antara Kirkuk dan Baghdad dan masih digunakan hingga saat ini.
Peninggalan arsitektur
Fondasi jembatan diletakkan pada tahun 1870-an oleh Gubernur Baghdad Utsmani, Mithat Pasha, dan diselesaikan pada tahun 1883 oleh arsitek yang dikirim dari Istanbul.
Menurut peneliti lokal Necat Kevseroglu, ketahanannya yang luar biasa berasal dari teknik konstruksi kuno: batu-batu tersebut dibakar agar dapat bertahan dari pelapukan, kelembapan, dan erosi.
Metode ini, yang berakar pada praktik Mesopotamia dan diadopsi oleh pembangun Ottoman, membuat struktur tersebut lebih tahan lama daripada banyak jembatan modern.
Kevseroglu juga menyoroti desain simbolisnya, yang menampilkan 12 lengkungan untuk bulan-bulan dalam setahun, panjang 365 meter untuk hari-hari, dan lebar tujuh meter untuk hari-hari dalam seminggu.
Pelestarian dan potensi pariwisata
Meskipun terjadi banjir besar baru-baru ini di Irak yang merusak infrastruktur lainnya, Jembatan Daquq tetap utuh.
Rait Ugle, direktur Monumen Bersejarah Kirkuk, membenarkan hal tersebut. Menurutnya kokohnya struktur jembatan tersebut mendorong pemerintah setempat berencana untuk mempromosikannya sebagai situs wisata karena nilai sejarah dan daya tarik estetikanya.
Jembatan ini adalah salah satu dari banyak karya arsitektur Utsmaniyyah yang masih bertahan di Irak, termasuk masjid, madrasah, dan karavanserai, meskipun banyak yang telah hilang akibat konflik dan pengabaian.
Bangunan bersejarah yang abadi ini menjadi bukti warisan sejarah dan kehebatan teknik yang dimiliki bersama, sebuah warisan yang dihargai oleh negara-negara seperti Turki yang mendukung pelestarian budaya dan dialog sejarah.*




