Hidayatullah.com – Berbicara tentang sahur, bisa jadi masing-masing negara −di berbagai wilayah dan masa− punya cara tersendiri dalam membangunkan orang untuk menjalankan sunnah yang mengandung berkah ini. Jika sekarang kita terbiasa dengan pengeras suara masjid atau rombongan pemuda yang berkeliling membawa rebana, di masa lalu, peran ini sepenuhnya berada di tangan seorang muazin.
Di Kota Homs, Suriah, terdapat seorang muazin bernama Sa’id bin Sinan al-Mahdi yang memiliki gaya komunikasi sangat berbeda dari muazin pada umumnya. Kisah ini bisa dibaca dalam buku “Mukhtārāt min al-Nawādir wa al-Tharā’if” (2016: 136) karya ‘Abd al-Qādir al-Nadwī al-Mi’awī.
Sa’id bin Sinan bukannya menggunakan kalimat-kalimat puitis atau zikir yang mendayu-dayu untuk membelah kesunyian malam, justru memilih pendekatan yang blak-blakan. Beliau adalah sosok yang saleh namun dikenal memiliki selera humor yang sarkas. Baginya, memastikan warga bangun dan sempat makan adalah misi utama yang harus disampaikan dengan pesan yang istilah sehari-harinya: “ngena” di telinga.
Setiap malam di bulan Ramadan, saat waktu sahur tiba, Sa’id akan berseru dengan lantang, “Ayo, siapkan panci-panci kecil kalian!” Seruan ini bukan sekadar ajakan biasa, melainkan instruksi agar para ibu dan kepala keluarga segera menyalakan api di dapur. Ia ingin memastikan bahwa seluruh perangkat memasak sudah siap sedia sebelum waktu yang tersisa benar-benar habis.
Tak berhenti di situ, Sa’id seringkali membumbui seruannya dengan peringatan yang mengundang senyum. Ia akan berteriak, “Cepatlah makan sebelum aku mengumandangkan adzan!” Kalimat ini merupakan peringatan bawah sadar bagi warga bahwa kontrol waktu sepenuhnya ada di tangannya. Siapa yang lambat mempersiapkan sahur, maka mereka harus siap menghadapi konsekuensi saat suara “Allahu Akbar” darinya menggema.
Puncak dari kejenakaan Sa’id adalah saat ia menutup seruannya dengan “ancaman” kasih sayang. Ia sering berkata bahwa jika warga sampai kesiangan karena malas bangun, maka Allah akan membuat wajah mereka terlihat hitam (muram) dan mereka akan menjalani hari dengan rasa lapar sekaligus amarah. Sa’id menggambarkan rasa menyesal seseorang yang terbangun tepat saat adzan Subuh sebagai kondisi yang sangat tidak menyenangkan.
Dalam Al-Qur’an ada diksi serupa yang menggambarkan orang yang berwajah murung menahan marah: wajhuhu muswaddan wahuwa kazhīm (QS. An-Nahl [16]: 58 dan QS. Az-Zukhruf [43]: 17). Dalam kitab “Mausū‘at al-Tafsīr al-Ma’thūr” (12/564) dijelaskan bahwa diksi “dhalla wajhuhu muswaddan” ditafsirkan oleh para ulama sebagai wajah yang berubah menjadi gelap atau muram karena marah dan sedih; Ismā‘īl al-Suddī menafsirkannya dengan “tetap gelap”, sementara Muqātil bin Sulaimān dan Yahyā bin Sallām menafsirkannya sebagai “berubah” dan “muram”.
Adapun kata “wa huwa kazhīm” ditafsirkan oleh Ibn ‘Abbas sebagai “sedih” dan “diam menahan perasaan”, bahkan beliau mengaitkannya dengan syair Arab yang menunjukkan makna menahan kesedihan. Muqātil menafsirkannya sebagai “terhimpit” dan Yahyā bin Sallām menegaskan bahwa ia menahan amarah dan kesedihan. Intinya, diksi ini menggambarkan kondisi batin seseorang yang wajahnya muram dan hatinya penuh kesedihan, namun tetap menahan diri tanpa meluapkan emosi.
Gaya unik Sa’id bin Sinan ini pun menjadi legenda tersendiri yang tercatat dalam literatur klasik. Di dalamnya terkandung pelajaran berharga bahwa di balik ketegasan jadwal ibadah, selalu ada sisi manusiawi dan humor yang mempererat hubungan antara orang yang berkhidmat di masjid dengan jamaahnya. Hingga kini, cerita sang muazin dari Homs tetap menjadi pengingat lucu bagi siapa saja yang hobi menunda-nunda waktu sahur.
******
Dalam Islam sahur merupakan ibadah yang mengandung berkah, meskipun tidak diwajibkan. Nabi SAW bersabda:
تَسَحَّرُوا، فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah, karena dalam sahur terdapat berkah.” (HR. Bukhari, Muslim). Para ulama sepakat bahwa sahur adalah sunnah yang dianjurkan, bukan kewajiban, dan tidak berdosa bagi yang meninggalkannya. Namun Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk melakukannya agar menjadi kekuatan dalam berpuasa. (Ibn Baththal, Syarh Shahīḥ al-Bukhārī, IV/45).
Sahur merupakan ibadah yang mengandung banyak keberkahan dari berbagai sisi. Sebagaimana dijelaskan dalam buku “Dalīl al-Wā‘izh ilā Adillati al-Mawā‘izh” (2/293), keberkahan sahur hadir karena mengikuti sunnah Nabi SAW, menjadi pembeda dari Ahli Kitab, serta memberikan kekuatan untuk beribadah dan menambah semangat.
Sahur juga membantu menahan sifat buruk yang muncul akibat lapar, membuka peluang untuk bersedekah kepada orang yang meminta atau berbagi makanan bersama, serta menjadi kesempatan memperbanyak dzikir dan doa pada waktu yang diharapkan terkabul.
Selain itu, sahur memberi kesempatan untuk memperbaiki niat puasa bagi yang lupa meniatkannya sebelum tidur. Dengan demikian, sahur bukan sekadar makan menjelang fajar, melainkan ibadah yang penuh hikmah dan rahmat Allah bagi hamba-Nya.
Ada juga beberapa hadits terkait sahur. Ibn ‘Abbas meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:
اِسْتَعِينُوا بِأَكْلِ السَّحَرِ عَلَى صِيَامِ النَّهَارِ، وَبِقَائِلَةِ النَّهَارِ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ
“Mintalah pertolongan dengan makan sahur untuk puasa siang hari, dan dengan tidur siang untuk qiyāmul-lail.” (HR. Hakim). Bahkan beliau menyebut sahur sebagai “ghadzā’ mubārak” (sarapan yang penuh berkah).
Dalam riwayat ‘Amru bin ‘Ash, Nabi SAW menegaskan:
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR. Ahmad). Hal ini menunjukkan bahwa sahur bukan sekadar makan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas ibadah umat Islam. Di samping itu, sunnah dari nabi terkait sahur adalah dengan mengakhirkannya.
Dengan demikian, sahur adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, memberikan keringanan sekaligus kekuatan dalam menjalankan puasa Ramadan. Ia menjadi pembeda antara umat Islam dengan Ahli Kitab, sekaligus sarana untuk menambah keberkahan dalam ibadah. Sahur mengajarkan bahwa setiap amal kecil yang dilakukan dengan niat ikhlas dapat menjadi sumber kekuatan besar dalam menjalankan ketaatan.
Ketika ada orang yang berusaha membangunkan sahur, sebagaimana yang dilakukan oleh Sa’id bin Sinan al-Mahdi dan tidak menyalahi syariat, yang penuh keakraban dan kehangatan dengan warga sekitar, maka dia telah berbuat kebaikan. Mungkin ada yang memandangnya remeh, tapi ini lahir dari suatu kepedulian kepada orang lain agar bisa sama-sama merasakan kebaikan dan manfaat dari keberkahan sunnah sahur. (MBS)




