Oleh: Kholili Hasib
Hidayatullah.com | DALAM pandangan Islam, sebelum seorang ilmuan mencapai tahapan tinggi dalam ilmu, mereka telah “menyelesaikan” problem diri mereka sendiri. Itulah yang disebut jihad nafsu.
Mereka berupaya membersihkan hati agar sukses dalam meraih ilmu. Kekeliruan dan kerancuan dalam pemikiran sejatinya berpangkal dari problem hati dan jiwa. Oleh sebab itu, tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) dapat disebut juga proses tazkiyatu al-fikr (pembersihan pemikiran) sekaligus pembersihan iman. Maka, langkah yang diutamakan adalah riyadlah al-nafs (melatih jiwa melawan hawa nafsu).
Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin, di samping mengritisi faham-faham yang keliru, ia memberi solusi dengan riyadhah al-nafs. Misalnya mengkritik keyakinan-keyakinan materialistik (madiyyah) yang masuk ke dalam hati.
Imam al-Ghazali mengatakan, banyak orang mengaku mengenali dirinya, padahal sejatinya masih buta dengan jiwanya (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Kimiya’ as-Sa’adah, 124). Karena itu, banyak manusia menjadi jahat. Tetapi tidak mau mengakui kejahatannya. Atau tidak mengenal mana pikiran jahat dan mana pikiran sehat. Ternyata, mengenali diri itu sungguh tidak mudah. Karena itu, para ulama taﷺuf menawarkan konsep mujahadah atau jihad an-nafs. Yaitu berperang mengusir potensi-potensi (quwwah) jahat, dan hewani yang bercokol dalam dirinya, sebagai jalan untuk mengenali diri secara benar, menyeluruh dan pasti.
Usaha ini disebut jihad, karena memerlukan keseriusan, upaya besar, dan energi yang tidak sedikit. Bahkan disebut jihad besar. Sebab, dalam diri manusia ada dua energi yang saling bermusuhan. Yaitu an-nafs al-aqliyyah (jiwa rasional) dan an-nafs al-hayawaniyyah (jiwa hewani). Jiwa rasional merupakan potensi dalam diri manusia yang berasal dari sifat malaikat. Sedangkan jiwa hewani merupakan potensi dalam diri manusia yang berasal dari sifat-sifat tidak baik (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam, 43).
Secara khusus, imam al-Ghazali menyebut dalam jiwa manusia ada sifat bahaim (binatang ternak), siba (binatang buas), dan sifat malaikat. Ketika manusia cenderung senang mengingkari peraturan agama dengan hubungan seks tanpa nikah, baik sejenis atau lain jenis, maka dalam dirinya sedang dikuasai sifat siba’ dan bahaim. Sifat bahaim itu antara lain makan, minum, seks, tidur. Sifat siba’ yaitu marah, seks, menyerang lawan, menipu, membunuh, dan lain-lain.
Jihad nafsu itu adalah mengendalikan semua sifat-sifat ini, agar yang memiliki kendali adalah sifat malaikat. Sebelum mengendalikan semua sifat ini, maka harus dikenali karakteristiknya. Asal usul sifat bahaim dan siba’ adalah dari makanan, minuman, tidur, hubungan seks.
Imam al-Sya’rani pernah memberi nasihat, bahwa jihad nafsu itu fardhu ‘ain yang harus dilakukan setiap hari. Ia mengatakan, mujahadah itu kewajiban yang tak terputus, sepanjang masa seorang muslim wajib berjihad melawan hawa nafsunya. Sebab, nafsu secara terus-menerus menggoda manusia agar meninggalkan syariat Allah Swt Subhanahu wa ta’ala. Maqam (kedudukan tinggi seorang hamba di sisi Allah Swt ) tidak mungkin diraih tanpa jihad nafsu. Ia mengatakan: “Barang siapa yang menyangka dirinya telah mencapai derajat tanpa mengerahkan usaha melawan nafsu dalam beribadah, maka sungguh itu mustahil” (Tanbih al-Mughtarin, hal. 111).
Jika jihad nafsu telah “selesai” maka, seseorang akan dengan mudah mendapatkan bimbingan Allah dalam mencari ilmu. Pertama-tama adalah niat. Segala aktifitas keilmuan adalah semata demi mendapatkan kebahagiaan (sa’adah) akhirat. Apapun niat dan semulya apapun ilmunya jika ditempuh dengan korupsi, menipu atau dengan cara ritual-ritual yang sesat, tetap akan menjauhkan dari Allah Swt.
Imam syafi’i juga pernah mengatakan: ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah Swt tidak akan masuk kedalam hati orang-orang yang selalu bermaksiat.
Imam al-Bukhari belajar selalu dalam keadaan suci, bahkan ketika akan menulispun ia ambil wudlu dan shalat sunnah terlebih dahulu. Shalat malam (qiyamullail) bagi para pelajar salaf shalih dahulu seperti menjadi aktifitas wajib. Demi menjaga diri agar selalu dibawah petunjuk-Nya. Bahkan, belajar di sepertiga malam itu menjadi kebiasaan.
Ketika belajar, seseorang diajarkan untuk melakukan jihad nafsu, yaitu ada dua; Ada dua cara dalam jihad nafsu ini yaitu takhalli dan tahalli . Takhalli adalah mengosongkan jiwa dari sifat-sifat jahat. Tahalli adalah menghiasi jiwa dengan sifat-sifat yang terpuji. Jadi terapi penyakit pemikiran tidak cukup dengan takhalli, tetapi juga harus dilengkapi dengan tahalli.
Tahalli yang paling penting untuk penyakit feminisme adalah di dahului dengan melatih sifat ar-ridha. Hakikat ridha ini lahir dari sifat mahabbah (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin jilid 4, 366). Jika seseorang itu benar-benar cinta kepada Allah Swt, maka dia ridha dengan keputusan, aturan dan segala ajaran-ajarannya. Maka ia akan menjaga tatanan yang dibuat Allah Swt.
Ada cara untuk menumbuhkan ridha, yaitu menyibukkan dan memfokuskan hati dan fikiran hanya untuk Allah Swt. Jika hati manusia isinya hanya Allah Swt, maka sakit dan luka pun tidak bisa dirasakan. Bagaikan seorang tentara pemberani yang berperang yang fokusnya adalah menyerang musuh, maka luka di tubuhnya tidak ia rasakan. Ia akan merasakan sakit setelah ia selesai melakukan serangan pada musuh.
Usaha demikian merupakan jihad dalam menuntut ilmu. Jihad seperti ini semuanya ada latihannya pada bulan puasa Ramadhan. Maka, bulan puasa itu sejatinya anugerah Allah berupa kesempatan agar seorang muslim sukes dalam menuntut ilmu. Ilmu yang bermanfaat bermula dari model usaha seperti ini.*
Penulis pengajar di Darul Lughah Wadda’wah