Hidayatullah.com | BUKAN tanpa alasan jika bulan suci Ramadhan selalu dirindukan kehadirannya setiap tahun. Keistimewaan Ramadhan diikuti anak-anak hingga tua, yang begitu antusias menyongsong kedatangannya.
Ini tidak mengherankan karena memang di dalamnya banyak terdapat keistimewaan. Paling tidak, ada beberapa poin keistimewaan Ramadhan yang bisa diungkap dalam tulisan ini.
Pertama, sebagai bulan yang dipilih Allah . Bulan Ramadhan adalah momentum yang dipilih Allah untuk melaksanakan kewajiban puasa sebulan penuh (QS. Al-Baqarah [2]: 183). Ketika bulan atau masa dipilih langsung oleh Allah untuk menunaikan ibadah, maka bulan itu tentu istimewa dan Allah memang mempunya kuasa untuk memilihnya. Mengenai hal ini, Allah berfirman:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ
“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (QS. Qashash [28]: 68). Termasuk bulan Ramadhan merupaan bagian dari pilihan Allah .
Kedua, sebagai momentum penurunan al-Qur`an. Bulan suci ini tidak saja dipilih untuk menunaikan ibadah puasa, tapi juga menjadi momentum penting penurunan al-Qur`an. Terkait hal ini Allah berfirman: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).
Pada bulan ini umat Islam dari berbagai penjuru dengan penuh semarak meramaikan masjid dan rumah mereka dengan bacaan al-Qur`an yang biasa disebut tadarusan. Nuansa yang indah ini tentu begitu mengesankan sehingga memantik kerinduan di setiap tahunnya.
Ketiga, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Keistimewaan ini masih terkait dengan yang kedua. Dalam penurunan al-Qur`an ada momen yang disebut lailatul qadar (malam kemuliaan) yang terdapat pada 10 akhir bulan Ramadhan. Di dalam surah Al-Qadar ayat 1-3 diterangkan, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan [1] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu [2] Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan [3]”
Dalam banyak haditsnya, Nabi Muhammad ﷺ begitu mendorong umatnya untuk memanfaatkan sebaik-baiknya momentum ini agar mendapat kemuliaannya. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha meriwayatkan sabda Nabi ﷺ: “Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadlan.” (HR. Bukhari) Masih dalam riwayat Bukhari juga disebutkan sabda Nabi, barangsiapa yang beribadah menghidupkan malam kemuliaan ini (lailatul qadar), maka dosa-dosa pada masa lalu akan diampuni.
Keempat, merupakan syiar Allah yang perlu diagungkan. Ada banyak syiar-syiar Allah yang perlu diagungkan, di antaranya adalah puasa pada bulan Ramadhan. Mengenai kemuliaan pengagungan syiar ini, Allah berfirman: “Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Haj [22]: 32) Ternyata, mengagungkan syiar Allah adalah salah satu indikator ketakwaan hati. Dan kalau kita melihat tujuan inti dari puasa, juga agar membentuk insan yang bertakwa (QS. Al-Baqarah [2]: 183).
Kelima, orang yang sungguh-sungguh menjalankan ibadah pada bulan ini dengan penuh keikhlasan dan harapan, maka dia akan dibersihkan dari dosa sebagaimana bayi yang baru dilahirkan. Dalam Sunan-nya, Imam Nasa’i meriwayatkan sabda Nabi:
إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ عَلَيْكُمْ وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ، فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Sesungguhnya Allah Tabaaraka Wata’ala telah mewajibkan kepada kalian puasa di bulan Ramadlan, dan aku mensunnahkan shalat malamnya. Barang siapa berpuasa dibulan tersebut dan shalat di malamnya karena iman dan mengaharap pahala dariNya, maka dosa-dosanya akan keluar darinya sebagaimana hari dimana ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Nas`i).
Baca: Jihad Ilmu dan Puasa
Keenam sampai kesembilan, merupakan bulan yang mana Nabi Muhammad ﷺ beserta sahabat-sahabatnya sangat antusias dalam menyambutnya, bulan penuh berkah, pintu langit dibuka dan pintu neraka ditutup, serta setan-setan dibelenggu. Simak ungkapan Rasulullah ﷺ saat bulan agung ini datang, “Ramadhan telah datang kepada kalian, -ia adalah- bulan berkah, Allah -Azza wa Jalla- telah mewajibkan kepada kalian berpuasa. Di buan itu pintu langit dibuka, dan pintu neraka Jahim ditutup dan syetan pembangkang dibelenggu. Demi Allah di bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapat kebaikannya, maka sungguh ia tidak mendapatkannya.” (HR. Nasa`i)
Kesepuluh, merupakan bulan di mana bacaan al-Qur`an Nabi Muhammad ﷺ secara langsung disimak oleh malaikat Jibri. Imam Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan: “Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadlan ketika malaikat Jibril menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadlan, dimana Jibril mengajarkan beliau Al Qur’an. Sungguh Rasulullah ﷺ jauh lebih lembut dari pada angin yang berhembus.”
Pada bulan mulia ini Jibril langsung memeriksa bacaan Rasulullah ﷺ. Bahkan, ketika padah Ramadhan akhir hayat Nabi, beliau disimak jibril sebanyak 2 kali. Kebiasaan-kebiasaan baik seperti tadarusan di malam hari di negeri ini, salah satunya adalah terinspirasi dari hadits ini. Dari hadits ini juga kita menemukan fakta penting bahwa pada bulan Ramadhan, kedermawanan Nabi semakin berlipat yang digambarkan dengan sangat indah bagaikan angin yang berhembus.
Melihat banyaknya keistimewaan pada bulan Ramadhan, maka sudah seharusnya umat Islam menyiapkan sedemikian rupa untuk menyambut bulan ini. Apalagi, di tengah suasana pandemi seperti ini, maka semangat kita tentu juga perlu ditingkatkan, sebab di antara kita tidak ada yang tahu siapa terlebih dahulu yang akan dijemput maut. Oleh karena itu, selagi sempat dan sebelum terlamba, mari kita manfaatkan momen istimewa itu.
Kita tentu tidak ingin termasuk orang rugi yang digambarkan Nabi ﷺ pada hadits berikut:
وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“…dan celakalah seseorang, Bulan Ramadhan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan,” (HR. Tirmidzi) Na’ūdzu billāh min dzālil. Semoga kita tidak termasuk orang yang celaka. */Mahmud Budi Setiawan, LC