Hidayatullah.com– Abu Hurairah bersama teman-temannya sedang bersiap menunggu waktu berbuka puasa. Tiba-tiba, dari kejauhan tampak dinding debu raksasa bergerak bergulung-gulung mendekat ke arah mereka. Sejurus kemudian, langit yang tadinya terang benderang berubah menjadi gelap kemerah-merahan.
Badai debu sedang menerjang para mahasiswa tersebut. Kejadian ini menjadi salah satu kesan yang dirasakan Abu Hurairah, 21 tahun, selama menjalani Ramadhan 1438 H di Khartoum, ibukota Sudan. Banyak memang kesan yang ia rasakan, apalagi ini kali pertama ia berpuasa di luar negeri.
“Alhamdulillah salah satu kesan yang baik ketika menjalani Ramadhan di Sudan adalah rasa sabar dalam menjalaninya,” tuturnya di Sudan kepada hidayatullah.com, Jumat, 14 Ramadhan 1438 H (09/06/2017).
Kesan pertama yang ia rasakan adalah panasnya suhu di sini, yang ia sebut sebagai bentuk tarbiyah. “Suhu panas mencapai 45-47 ° celsius, yang sebelumnya mungkin ana (saya) tidak dapatkan di Indonesia,” tutur lajang kelahiran Aceh Tengah, 14 Mei 1997 ini.
Awak media ini pernah merasakan langsung, betapa negeri di timur laut benua Afrika ini memang punya cuaca yang begitu panas. Sebagai contoh, di Khartoum pada sore hari saja, sinar matahari yang akan terbenam terasa begitu menyengat, serasa terik matahari pada siang bolong di Indonesia.
Selain cuaca panas, kesan lain yang dirasakan Abu Hurairah adalah kedermawanan umat Islam di Sudan, khususnya Khartoum tempatnya belajar, pada bulan Ramadhan.
Kedermawanan itu, misalnya, banyak warga Sudan berbagai usia yang berbagi menu berbuka puasa. Bahkan, banyak yang mencegat warga lainnya saat melintas di jalan raya untuk diajak berbuka puasa bersama. Tradisi ini yang masyhur disebut dengan istilah “begal ala Sudan”.
“‘Begal ala Sudan’ maksudnya ialah orang-orang Sudan mulai dari anak-anak sampai orangtua menyetop kendaraan yang masih beroperasi untuk berbuka bersama dengan mereka,” jelas Abu Hurairah, warga negara Indonesia (WNI) yang kuliah di Universitas Internasional Afrika (UIA).
“Ana lihat sendiri bagaimana dermawannya orang-orang Sudan ketika memasuki satu Ramadhan, walaupun ekonomi mereka bisa dikatakan rata-rata menengah ke bawah,” Abu Hurairah mengungkapkan ketakjubannya akan penduduk Negeri Dua Nil tersebut.
Bahkan, cerita dari teman-temannya, terkadang jika tidak sempat berbuka puasa di kampus, mereka dipaksa dan ditarik untuk berbuka puasa oleh warga setempat. “Dan biasanya mereka itu menyiapkan iftor-nya di samping-samping jalan,” ungkap mahasiswa yang menginjakkan kaki di Sudan pada 26 Agustus 2016 lalu ini.
Sayang, Abu Hurairah hingga saat diwawancarai belum sempat mengabadikan gambar tradisi unik tersebut. “Ana kurang berani ngambil foto kalau di luar jamiah (universitas) karena biasanya dimarahi, hehehe…” jelasnya.
Ghubar
Yang tidak kalah serunya, tuturnya, terjadinya ghubar atau badai debu. Saat itu, hari keenam puasa Ramadhan 1438 H, menjelang buka puasa bersama mahasiswa yang diadakan di lapangan samping tempat kuliahnya.
Karena para mahasiswa terutama yang sudah lama, telah terbiasa dengan keadaan itu, acara bukber pun dilanjutkan setelah ghubar-nya berlalu, tuturnya.
Loh, memangnya makanan dan minuman yang terhidang tidak terkena debu?
“Hehehee… Kalau lagi haus, Bang, biar debu enggak kehiraukan,” selorohnya. Selain itu, syukurnya badai tersebut berlangsung tidak begitu lama.
Yang jelas, tutur alumnus Ma’had Tahfizhul Qur’an Ahlus Shuffah, Balikpapan, Kalimantan Timur ini, saat itu ketika waktu berbuka puasa tiba, badai sudah berlalu tinggal sisanya. “Asrama penuh dengan debu.”
Baca: Dikenal Lembut, Putra Indonesia Laris jadi Imam Tarawih di Sudan
Puasa Ramadhan di Sudan dijalani sekitar 14 jam. Dimulai dengan bangun sahur sekitar pukul 04.40 waktu setempat dan berbuka puasa sekitar pukul 07.18.
Selama menjalani Ramadhan di negeri Arab-Afrika ini pun, ada kesan positif lainnya yang dirasakan Abu Hurairah. “Alhamdulillah, kita terkhususnya mahasiswa Indonesia yang tinggal di asrama sangat kompak dalam menjalani Ramadhan.”
Di antara kekompakan itu, mereka membentuk piket masak sahur dan berbuka puasa. Serta menggelar agenda lain seperti penyampaian tausiyah singkat dari senior-senior mereka sebelum makan malam dimulai.
“Bahkan di antara teman-teman lain, selain fokus untuk menghafal dan membaca al-Qur’an, ada juga yang mengadakan daurah Tafsir Ibnu Katsir selama sebulan penuh,” tutur mahasiswa jurusan Syariah wal Qonun ini.
Rencananya Abu Hurairah akan menempuh kuliah selama 4 tahun. Jika ini -tentu atas kehendak Allah- akan tercapai, berarti ia berpeluang setidaknya tiga tahun lagi merasakan keistimewaan Ramadhan di Sudan.
Bahkan bisa jadi lebih dari itu. Sebab ia mengaku akan lanjut kuliah di Sudan setelah 4 tahun pertama kelar. “Lanjut bila ada kemudahan,” pungkas pria ramah ini berharap dalam obrolan jarak jauh dengan hidayatullah.com.*