Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ramadhan di Mancanegara

Puasa di Sudan: “Dimanjakan Begal”, Ditemani Badai Debu dan Suhu Panas

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 13 Juni 2017 09:14 9:14 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 13 Juni 2017 09:00
Bagikan
Badai debu (ghubar) di Sudan, Ramadhan 1438 H.
Bagikan

Hidayatullah.com– Abu Hurairah bersama teman-temannya sedang bersiap menunggu waktu berbuka puasa. Tiba-tiba, dari kejauhan tampak dinding debu raksasa bergerak bergulung-gulung mendekat ke arah mereka. Sejurus kemudian, langit yang tadinya terang benderang berubah menjadi gelap kemerah-merahan.

Badai debu sedang menerjang para mahasiswa tersebut. Kejadian ini menjadi salah satu kesan yang dirasakan Abu Hurairah, 21 tahun, selama menjalani Ramadhan 1438 H di Khartoum, ibukota Sudan. Banyak memang kesan yang ia rasakan, apalagi ini kali pertama ia berpuasa di luar negeri.

“Alhamdulillah salah satu kesan yang baik ketika menjalani Ramadhan di Sudan adalah rasa sabar dalam menjalaninya,” tuturnya di Sudan kepada hidayatullah.com, Jumat, 14 Ramadhan 1438 H (09/06/2017).

Kesan pertama yang ia rasakan adalah panasnya suhu di sini, yang ia sebut sebagai bentuk tarbiyah. “Suhu panas mencapai 45-47 ° celsius, yang sebelumnya mungkin ana (saya) tidak dapatkan di Indonesia,” tutur lajang kelahiran Aceh Tengah, 14 Mei 1997 ini.

Awak media ini pernah merasakan langsung, betapa negeri di timur laut benua Afrika ini memang punya cuaca yang begitu panas. Sebagai contoh, di Khartoum pada sore hari saja, sinar matahari yang akan terbenam terasa begitu menyengat, serasa terik matahari pada siang bolong di Indonesia.

Baca Juga

Gadis Timor Leste Masuk Islam, Direstui Kedua Orang Tuanya yang Katolik
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Di Pasar Amal Kiswa Warga Saudi Dapat Baju Lebaran Gratis
Seluruh Sopir Taksi Dubai Diberi Uang Bonus Ramadhan

Baca: Fisik Dikuras Panas, Pikiran Diperas Universitas

Selain cuaca panas, kesan lain yang dirasakan Abu Hurairah adalah kedermawanan umat Islam di Sudan, khususnya Khartoum tempatnya belajar, pada bulan Ramadhan.

Kedermawanan itu, misalnya, banyak warga Sudan berbagai usia yang berbagi menu berbuka puasa. Bahkan, banyak yang mencegat warga lainnya saat melintas di jalan raya untuk diajak berbuka puasa bersama. Tradisi ini yang masyhur disebut dengan istilah “begal ala Sudan”.

“‘Begal ala Sudan’ maksudnya ialah orang-orang Sudan mulai dari anak-anak sampai orangtua menyetop kendaraan yang masih beroperasi untuk berbuka bersama dengan mereka,” jelas Abu Hurairah, warga negara Indonesia (WNI) yang kuliah di Universitas Internasional Afrika (UIA).

Pintu gerang Universitas Internasional Afrika (UIA) di Khartoum, Sudan. [Foto: Syakur/hidayatullah.com]
Bila terkadang orang yang “dibegal” enggan untuk turun dari kendaraannya, tuturnya, anak-anak Sudan itu memberikan sebotol air minum dan sepotong roti kepadanya sambil mengatakan “Ramadhan karim, ya Akhi!” tentu dalam bahasa Arab “رمضان كريم يا أخي”. Ini dia rasakan langsung.

“Ana lihat sendiri bagaimana dermawannya orang-orang Sudan ketika memasuki satu Ramadhan, walaupun ekonomi mereka bisa dikatakan rata-rata menengah ke bawah,” Abu Hurairah mengungkapkan ketakjubannya akan penduduk Negeri Dua Nil tersebut.

Bahkan, cerita dari teman-temannya, terkadang jika tidak sempat berbuka puasa di kampus, mereka dipaksa dan ditarik untuk berbuka puasa oleh warga setempat. “Dan biasanya mereka itu menyiapkan iftor-nya di samping-samping jalan,” ungkap mahasiswa yang menginjakkan kaki di Sudan pada 26 Agustus 2016 lalu ini.

Sayang, Abu Hurairah hingga saat diwawancarai belum sempat mengabadikan gambar tradisi unik tersebut. “Ana kurang berani ngambil foto kalau di luar jamiah (universitas) karena biasanya dimarahi, hehehe…” jelasnya.

Baca: Inilah “Begal” Paling Dinanti di Sudan

Ghubar

Yang tidak kalah serunya, tuturnya, terjadinya ghubar atau badai debu. Saat itu, hari keenam puasa Ramadhan 1438 H, menjelang buka puasa bersama mahasiswa yang diadakan di lapangan samping tempat kuliahnya.

Karena para mahasiswa terutama yang sudah lama, telah terbiasa dengan keadaan itu, acara bukber pun dilanjutkan setelah ghubar-nya berlalu, tuturnya.

Loh, memangnya makanan dan minuman yang terhidang tidak terkena debu?

“Hehehee… Kalau lagi haus, Bang, biar debu enggak kehiraukan,” selorohnya. Selain itu, syukurnya badai tersebut berlangsung tidak begitu lama.

Yang jelas, tutur alumnus Ma’had Tahfizhul Qur’an Ahlus Shuffah, Balikpapan, Kalimantan Timur ini, saat itu ketika waktu berbuka puasa tiba, badai sudah berlalu tinggal sisanya. “Asrama penuh dengan debu.”

Baca: Dikenal Lembut, Putra Indonesia Laris jadi Imam Tarawih di Sudan

Puasa Ramadhan di Sudan dijalani sekitar 14 jam. Dimulai dengan bangun sahur sekitar pukul 04.40 waktu setempat dan berbuka puasa sekitar pukul 07.18.

Selama menjalani Ramadhan di negeri Arab-Afrika ini pun, ada kesan positif lainnya yang dirasakan Abu Hurairah. “Alhamdulillah, kita terkhususnya mahasiswa Indonesia yang tinggal di asrama sangat kompak dalam menjalani Ramadhan.”

Di antara kekompakan itu, mereka membentuk piket masak sahur dan berbuka puasa. Serta menggelar agenda lain seperti penyampaian tausiyah singkat dari senior-senior mereka sebelum makan malam dimulai.

“Bahkan di antara teman-teman lain, selain fokus untuk menghafal dan membaca al-Qur’an, ada juga yang mengadakan daurah Tafsir Ibnu Katsir selama sebulan penuh,” tutur mahasiswa jurusan Syariah wal Qonun ini.

Rencananya Abu Hurairah akan menempuh kuliah selama 4 tahun. Jika ini -tentu atas kehendak Allah- akan tercapai, berarti ia berpeluang setidaknya tiga tahun lagi merasakan keistimewaan Ramadhan di Sudan.

Bahkan bisa jadi lebih dari itu. Sebab ia mengaku akan lanjut kuliah di Sudan setelah 4 tahun pertama kelar. “Lanjut bila ada kemudahan,” pungkas pria ramah ini berharap dalam obrolan jarak jauh dengan hidayatullah.com.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Afrikabadai debubegalbegal ala Sudanbuka puasabulan kemenanganbulan puasabulan suci RamadhanghubarKhartoumMahasiswa Indonesia di Sudanpuasa di SudanRamadhanRamadhan 1438 HRamadhan 2017Ramadhan bulan kemenanganRamadhan di MancanegaraRamadhan di SudanSyiar RamadhanWNI di Sudan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Merokok di Muka Umum Saat Puasa Pria Tunisia Divonis Satu Bulan Penjara
Tulisan selanjutnya USB Berikan Beasiwa Bagi Lulusan Santri Tahfidz Qur’an Hidayatullah Bandung

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Berita
18 Juli 2026 09:30
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ramadhan di Mancanegara

70.000 Jamaah Berkumpul di Masjid Al-Aqsha untuk Shalat Jumat Terakhir di Bulan Ramadhan

9 Mei 2021 11:22
Ramadhan di Mancanegara

Hadapi Gelombong Kedua Covid-19, Mesir Melakukan Penguncian jelang Hari Raya Idul Fitri

6 Mei 2021 14:00
Ramadhan di Mancanegara

Usia 72 Tahun Tak Halangi Nenek Ini Khatam Al-Quran Meski Gunakan Kaca Pembesar

30 April 2021 10:59
Ramadhan di Mancanegara

Bek Leicester City Berterima Kasih pada Lawan Main setelah Diizinkannya Berbuka Puasa

28 April 2021 13:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?