Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ramadhan di Mancanegara

Fisik Dikuras Panas, Pikiran Diperas Universitas

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 20 Juni 2016 13:33 1:33 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 20 Juni 2016 13:30
Bagikan
Suatu senja di Sudan, dipotret dari kawasan Laffa Juba, Kota Khartoum.
Bagikan

MATAHARI sebentar lagi terbenam. Tapi di Khartoum, Ibukota Republik Sudan, senja itu cuaca masih terik laksana siang.

Negara di timur laut benua Afrika ini memang sangat panas. Saat hidayatullah.com menyambanginya awal Maret lalu, suhu di Khartoum sempat mencapai 43 derajat celsius pada malam hari.

Tak heran, konsumsi air minum masyarakatnya sangat tinggi. Bagaimana rasanya berpuasa di negeri dua Sungai Nil ini?

“Berat sekali. Apalagi bagi orang Asia yang fisiknya berbeda dengan orang Afrika,” ungkap Faiz Ahmad Kholis, mahasiswa asal Indonesia di Universitas Afrika Internasional (UAI), Khartoum.

Mahasiswa semester 6 asal Dumai (Riau) ini merasakan betul betapa beratnya berpuasa di Sudan. Cuaca sangat panas membuatnya sering berkeringat. Tubuh mengalami dehidrasi. Apalagi kalau harus beraktivitas di luar ruangan.

Baca Juga

Gadis Timor Leste Masuk Islam, Direstui Kedua Orang Tuanya yang Katolik
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Di Pasar Amal Kiswa Warga Saudi Dapat Baju Lebaran Gratis
Seluruh Sopir Taksi Dubai Diberi Uang Bonus Ramadhan

Kawan Faiz, Abdurrahman, juga merasakan hal yang sama. “Ramadhan kali ini datang di saat musim panas pada puncaknya. Bisa sampai 50 derajat celcius,” ujar mahasiswa semester 4 asal Makassar (Sulawesi Selatan) ini.

Itu pula yang dirasa oleh Abdullah Qohar, mahasiswa UAI semester 2. Kata pria kelahiran Ternate (Maluku Utara) ini, cuaca panas jadi lebih ekstrem saat listrik padam di siang hari.

“Mayoritas dari kami dan orang-orang di sini mendinginkan diri di masjid-masjid. Selain bisa baca al-Qur’an, AC-nya juga kencang,” kisahnya.

Untuk mengatasi panas, selain berlindung di masjid, mereka kerap membasahi kepala terutama jika mau keluar ruangan. Bahkan ada yang membasahi kasur agar tidak kepanasan ketika tidur.

Namun mereka yang sudah lama tinggal di Sudan akan terbiasa dengan kondisi itu. “Cukup mengatasinya dengan mengurangi jam keluar,” kata Abdurrahman yang sudah 4 tahun di Khartoum.

Salah satu sudut kampus Universitas Afrika Internasional, Khartoum. [Foto: Syakur]
Salah satu sudut kampus Universitas Afrika Internasional, Khartoum. [Foto: Syakur]
Batalkan Puasa

Lebih berat lagi jika puasa Ramadhan bersamaan dengan ujian akhir semester. Fisik dan pikiran semua terkuras. Aktivitas ibadah mahdhah pun mau tak mau harus berkurang.

Abdurrahman sudah mengalami 3 kali Ramadhan sambil ujian di kampus. Begitulah memang yang sering dilakukan sebagian kampus dan universitas di Sudan. “Tahun kemarin ujiannya saat Syawal,” imbuhnya kepada hidayatullah.com.

Supaya nilai ujiannya optimal, sebelum bulan puasa, mahasiswa akan berusaha mempelajari semua mata kuliah. Pas Ramadhan tinggal baca sebagian materi ujian.

Ketika buka puasa pun diperlukan kesabaran ekstra. Habis Ashar para mahasiswa sudah harus antri di dapur. Kadang terjadi keributan kecil dengan mahasiswa asal Afrika yang memang berbeda kultur.

Agar tak ribut, selain bersabar, Faiz dan kawan-kawan berusaha selalu datang ke dapur lebih awal. Atau menaruh piring antrian sebelum shalat Ashar.

Menu buka puasa di asrama cukup beragam. Saat sahur biasanya makan roti dan minum teh. Buka puasanya sirup dan nasi. Makan malam roti dan kacang khas Sudan. Kadang ada pembagian ruthab (kurma muda). “Kalau sahur, usahakan banyak minum,” kata Faiz.

Jika ingin menu yang lain, maka mahasiswa harus masak sendiri. Kadang memang kangen masakan Indonesia. Pernah karena kebanyakan makan sambal pecel saat sahur, mereka jadi muntah dan mencret. “Sekitar 5 orang yang puasanya batal,” tuturnya.

Meski penuh tantangan, para mahasiswa asal Indonesia di Sudan berusaha sabar dan terus bertahan. Mereka bayangkan, apa yang dialami ini masih jauh lebih ringan daripada perjuangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

“Ketika Perang Badar, Rasulullah dan para sahabat dalam kondisi puasa malah diperintahkan untuk berperang,” ujarnya.* Kisah ini dan yang lainnya silakan baca di majalah Suara Hidayatullah edisi Ramadhan 1437/Juni 2016, rubrik Reportase Khusus Ramadhan.

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:KhartoumMahasiswa Indonesia di SudanPendidikanPuasaRamadhan di MancanegaraSudanSyiar RamadhanWNI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sejarah Puasa Sebelum dan Pada Masa Nabi
Tulisan selanjutnya Senator DPD RI: Perkataan Mendagri Soal Perda Syariat Hanya Permainan Kata

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Berita
17 Juli 2026 14:04
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ramadhan di Mancanegara

70.000 Jamaah Berkumpul di Masjid Al-Aqsha untuk Shalat Jumat Terakhir di Bulan Ramadhan

9 Mei 2021 11:22
Ramadhan di Mancanegara

Hadapi Gelombong Kedua Covid-19, Mesir Melakukan Penguncian jelang Hari Raya Idul Fitri

6 Mei 2021 14:00
Ramadhan di Mancanegara

Usia 72 Tahun Tak Halangi Nenek Ini Khatam Al-Quran Meski Gunakan Kaca Pembesar

30 April 2021 10:59
Ramadhan di Mancanegara

Bek Leicester City Berterima Kasih pada Lawan Main setelah Diizinkannya Berbuka Puasa

28 April 2021 13:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?