Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Surat Pembaca

Ironi Pesawat Kepresidenan Kita

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 April 2014 09:36 9:36 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 April 2014 09:36
Bagikan
"Air Force One" RI seharga hampir I Trilyun
Bagikan

SEJAK hari Kamis (10/04/2014),  Pesawat kepresidenan Republik Indonesia /‘Air Force One’ RI mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia memiliki pesawat kepresidenan.

Hanya saja, Pesawat RI 1 jenis Boeing Bussiness Jet 2 Green Aircraft (BBJ2) tersebut dibeli Indonesia seharga US$91,2 juta atau sekitar Rp820 miliar (hampir 1 Trilyun), dengan rincian US$58,6 juta untuk badan pesawat, US$27 juta untuk interior kabin, US$4,5 juta untuk sistem keamanan, dan US$1,1 juta untuk biaya administrasi.
Sudah begitu, pesawat ini dibeli dari perusahaan Boeing Amerika. Sudah begitu, pemerintah masih mengatakan biaya sebesar itu masih efisiensi anggaran, sebab menyewa pesawat dari maskapai Garuda Indonesia ongkosnya lebih mahal.

Yang lebih ironis, Indonesia memiliki PT Dirgantara Indonesia (DI) yang telah memproduksi banyak pesawat, termasuk  CN-235 dna N 250. Di mana produknya justru digunakan Malaysia, Korea Selatan, dan Pakistan.

Direktur Aircraft Service PT DI Rudi Wuraskito belum lama ini mengatakan, Malaysia dan Korea Selatan menggunakan 2 unit CN-235 sebagai pesawat kepresidenan. Sedangkan Pakistan hanya 1 unit.

Baca Juga

22 Tahun Wahdah Eksis jadi Ormas
Harga Telur Melambung Tinggi, Bagaimana Islam Mengatasi?
Lemahnya Agama, Penyebab Munculnya Pergaulan Bebas
Uang Kripto sebagai ‘People Money’
Hari HAM Sedunia, Muslim Thailand Selatan Masih dalam Tekanan dan Diskriminasi

Sama dengan pesawat Boeing yang baru dibeli Sekretariat Negara untuk Presiden Republik Indonesia, CN-235 tersebut juga memiliki interior dan keamanan khusus.

Menurut Rudi, alasan 3 negara tersebut membeli CN-235 karena luas daerahnya yang kecil. Sehingga tidak perlu pesawat besar untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain. Lama terbang pesawat tersebut sekitar 8-9 jam dan dapat mendarat di bandara yang mempunyai landasan hanya 1.200 meter.

Lagi-lagi menurut  Rudi, ada sekitar 15 negara telah menggunakan pesawat CN-235. Di antaranya Amerika Serikat, Prancis, Spanyol, Malaysia, Thailand, Turki, Brunei Darussalam, Pakistan, dan Arab Saudi. Total sudah ada 315 pesawat yang dibuat. Negara yang paling banyak menggunakan adalah Turki dengan 70 unit.

Kebanyakan pesawat-pesawat tersebut dipakai untuk transportasi militer seperti membawa barang dan orang.
Kita seharusnya bangga dengan produk anak-anak bangsa yang telah lama disiapkan oleh BJ Habibie. Sayang, kita sendiri tidak bangga dengan itu. Seharusnya presiden dan Negara bangga dan produk sendiri.

Saya ingat 1996 silam, ketika Presiden RI yang kedua, Soeharto, memutuskan menukar dua pesawat buatan Industri Pesawat Terbang Nusantara, CN-235, dengan beras ketan Thailand. Kebijakan itu kemudian menjadi olok-olok, salah satu yang paling berhasrat “menjatuhkan” jika tak boleh disebut nyinyir produk anak bangsa ini adalah Majalah Tempo. Akibat liputannya, seolah kita (bangsa Indonesia) merasa terhina gara-gara ditukar beras-ketan.

Dalam buku “Pak Harto, The Untold Stories” mengisahkan dibalik barter itu terungkap. “Sebenarnya saya meniru Indira Gandhi yang ketika menjual bus Damri kepada kita, ia tidak mau dibayar dengan dolar. Indira minta bus-bus itu dibarter saja dengan beras yang di negara kita saat itu surplus.”

Sama saja, jika barang kita dibarter dengan nilai yang sama, seharusnya tidak perlu ada yang merasa terhina. Namun begitulah cara kerja media-massa. Kini, orang sebaik BJ Habibie “disingkirkan” bahkan para pemuda-pemudinya yang bersama IPTN dan PT Dirgantara banyak lari ke perusahaan-perusahaan asing. Di saat yang sama, kita justru membeli dari orang asing. Innalillahi.

Mengapa jika ada produk kebanggaan milik negeri dan anak bangsa kita cela, tetapi kita justru bangga menggunakan buatan luar negeri? Sampai kapan pemerintah kita (termasuk media) bisa menjadi cerdas?*

Wassallam
Abdul Wahid-Malang

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:produk dalam negeri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kemenag – Turki Beri Beasiswa Tahfidz Al-Quran
Tulisan selanjutnya Suryadharma Ali Terancam Sanksi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Berita
18 Juli 2026 10:26
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Surat Pembaca

Racun LGBT Makin Meluas, Jaga Ketahanan Keluarga Indonesia

28 Mei 2022 12:30
cerita
Surat Pembaca

Pentingnya Memilih Cerita Sebagai Hiburan

26 November 2021 13:37
Surat Pembaca

Tanggapan atas Pernyataan Bahwa Semua Agama itu Benar

22 September 2021 15:00
Surat Pembaca

Nasyid untuk Wahdah Islamiyah

8 September 2021 07:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?