Berita itu datang di sore hari, Senin, sebelas April Dua ribu enam belas.
Ada imam masjid yang sudah mengabdi selama 30 tahun, 20 tahun, 16 tahun, dan 8 tahun; juga seorang muadzin yang sudah selama 8 tahun memanggil-manggil jamaah lewat suara merdunya. Mereka datang untuk sebuah undangan konsolidasi.
Ahad, tiga April dua ribu enam belas, mereka semua hadir memenuhi undangan konsolidasi. Tak banyak ada bicara, seseorang yang disepuhkan mengucap singkat. “Diperlukan regenerasi, karena itu kami ucapkan terima kasih atas pengabdiannya selama ini.” Mereka diberhentikan tanpa surat, tanpa sebab. Alangkah eloknya jika diberitahu musababnya, agar tidak menduga-nduga dan berujung pada sak wasangka. Sedangkan sebagian sak wasangka itu bisa menyebabkan pelakunya jatuh pada dosa.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS: Al-Hujurat: 12)
Lalu, seorang imam yang selama ini jika bertugas menginap di masjid (karena rumahnya di luar kota), tak lagi boleh leyeh2 yang selama ini ia tempati.
Hati siapa yang tidak remuk-redam mendengar semua ini?
Istighfar adalah senjata untuk meredam kemarahan. Sebab, jika kemarahan diaplikasikan dalam tindakan fisik atau lisan mengumpat-umpat, maka setan akan bertepuk- tepuk, bersorak-sorai pertanda datangnya kemenangan.
Duh Gusti Allah Subhanahu Wata’ala, apa sebenarnya yang terjadi di masjid kami? Sebelumnya kader-kader asli masjid ini satu per satu tak lagi diberi jadwal. Padahal mereka yang selama ini mengawal marwah masjid yang dibangun awal tahun tujuh puluhan, ini.
Apa yang salah di masjid kami? Bukankah masjid adalah rumah Allah Subhanahu Wata’ala dan para takmir adalah para pegawai Allah yang memberi pelayanan dan menjaga kenyamanan para jamaah dan semua yang terlibat di dalamnya?
Manajemen masjid bukan manajemen pemerintahan, bukan manajemen perusahaan, bukan pula manajemen ormas dan orpol. Manajemen masjid berbasis pemakmuran untuk semua, secara berjamaah. Jika masjid dikelola dengan manajemen yang keluar dari prinsip-prinsip kemasjidan, maka ia tak lagi menjadi rumah Allah Subhanahu Wata’ala yang menampung jamaah dengan sejuk dan menentramkan.
Karena itu, wahai orang-orang yang diberi amanah, pegang erat amanah itu dengan tali Allah Subhanahu Wata’ala. Betapa banyak orang yang hafal Qur’an, betapa banyak da’i yang retorikanya mengagumkan, dan betapa banyak profesional yang kerjanya bagus, jika dalam qolbunya ada setitik ketidak-ikhlasan, maka setan akan menggelincirkannya.
Hanya mereka yang ikhlas yang setan tak mampu memperdaya dan menggodanya (QS: Shaad: 83). Dan godaan setan itu ada dimana-mana. Juga di masjid.
Jika itu terjadi, maka robohlah masjid kami. Kalau sudah demikian, tak ada lagi yang bisa kita ucapkan, kecuali, innalillahi wa inna Ilaihi rooji’uun.*
3 Rajab 1437/11 April 2016, Al-Faqir Ilallah
Herry Mohammad
Jakarta Selatan