Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Rahasia 10 Keindahan Sastra Kitab Suci Al-Qur’an

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Mei 2015 09:45 9:45 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 Mei 2015 08:34
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Bagi orang beriman, setiap yang terdapat dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an adalah mukjizat secara mutlak. Mulai dari kandungan makna sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta (shalih li kulli zaman wa makan).

Pun berbagai mukjizat tersebut ada dalam setiap pemilihan kalimat, kata, bahkan pada setiap huruf al-Qur’an sekalipun.

Untuk itu, Abu al-Hayyan al-Andalusi, penulis Tafsir al-Bahru al-Muhith fi at-Tafsir, sebagaimana dinukil oleh Mufassir Muhammad Ali ash-Shabuni, secara khusus menerangkan keindahan sastra kitab suci al-Qur’an dari sisi ilmu Bayan. Berikut penjelasannya:

Kesatu : Pembukaan dan awal yang indah (husnu al-iftitah wa bara’ah al-mathla’). Tak lain karena surah al-Fatihah diawali oleh lafadz “bismillah”. Nama Allah yang agung yang setiap Muslim patut memohon berkah nama tersebut dengan senantiasa melafadzkan nama-Nya

Kedua : Pujian yang sempurna kepada Allah (al-mubalaghah fi ats-tsana). Hal itu tampak dari penggunaaan huruf alim lam (makrifah) pada kata “al-hamdu”. Oleh Abu al-Hayyan, pujian tersebut dengan sendirinya meredupkan bahkan melenyapkan seluruh yang lain di luar Sang Khaliq.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Ketiga : Variasi khithab (talwin al-khithab). Sepintas redaksi kalimat “al-hamdu lillahi” adalah uslub khabar (pernyataan) yang berarti segala puji bagi Allah. Namun, dengan kehalusan bahasa al-Qur’an, justru ia sejatinya dimaknai sebagai perintah dan kewajiban atas setiap hamba untuk memperbanyak pujian dan syukur kepada Allah.

Keempat : Makna al-ikhtishash (pengkhususan). Hal itu ditandai dengan adanya huruf alim lam pada kata “lillahi” yang bermakna seluruh pujian itu hanya bisa dipunyai oleh Allah dan tak ada yang berhak memilikinya selain Allah.

Kelima : Adanya al-hazf (penghapusan sebagian kata). Dalam hal ini terdapat pada kata “shirath” dalam firman Allah “ghairi al-maghdhubi alaihim wa la adh-dhallin”. Sebenarnya secara asal, kalimat itu berbunyi begini: “ghairi shirath al-maghdhubi alaihim” bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan “ghairi shirath adh-dhallin” bukan jalan orang-orang yang tersesat (tetap menyebutkan kata shirath (jalan) itu).

Keenam : Terdapat taqdim (mengedepankan) dan ta’khir (mengakhirkan). Hal ini terjadi dalam ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. Sebab asalnya kalimat itu bisa disederhanakan seperti ini saja, “na’budu iyyaka wa nasta’inu iyyaka.”. Keindahan bahasa yang sama terjadi di ayat “ghairi al-maghdhubi alaihim wa la adh-dhallin”.

Ketujuh : Menjelaskan apa yang sebelumnya tersamar (at-tashrih ba’da al-ibham). Kehalusan bahasa tersebut bisa dinikmati dalam ayat “ihdina ash-shirath al-mustaqim, shirath al-ladzina an’amta alaihim”. Di mana makna jalan yang lurus itu (ash-shirath al-mustaqim) dijelaskan dengan kalimat berikutnya, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat (shirath al-ladzina an’amta alaihim)

Kedelapan : Menarik fokus dan perhatian (al-iltifat). Sensasi bahasa yang sangat halus ini bisa dirasakan pada ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. Bahwa (benar-benar) hanya kepada-Mu kami menyembah dan (benar-benar) hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.

Kesembilan : Meminta sesuatu tanpa bermaksud untuk mendapatkannya, tetapi semata memohon kelanjutan dan eksistensi hal tersebut. Contohnya terdapat dalam ayat “ihdina ash-shirath al-mustaqim”. Bahwa ketika seorang hamba memohon dalam doa tersebut, bukan berarti ia belum memiliki hidayah dan tidak mengetahui jalan lurus tersebut. Tapi ia berdoa agar hidayah tersebut senantiasa bersemi dalam hatinya dan ia mampu menapaki jalan lurus yang telah membentang di hadapannya itu.

Kesepuluh : Adanya keselarasan yang indah pada setiap akhir kata. Hal tersebut bisa dinikmati dalam kalimat “ar-rahman ar-rahim” dengan “ash-shirath al-mustaqim”. Bisa dikata kedua kalimat tersebut sama-sama berakhiran bunyi “im”.*/Masykur Abu Jaulah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 200 Pemuda LDII Ikuti Latihan Fisik Bela Negara
Tulisan selanjutnya Jalaluddin Rakhmat: Kelompok Radikal Islam Bikinan Kerajaan Inggris

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Berita
31 Mei 2026 04:41
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?