Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Masjid ar-Riyadh, “Taman Surga” di Puncak Gunung Tembak

Bambang S
Terakhir diupdate: 23 Februari 2021 15:00 3:00 pm
Bambang S
Dipublikasikan 23 Februari 2021 13:52
Bagikan
masjid ar-riyadh
Masjid ar Riyadh di Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan
Bagikan

Hidayatullah.com—Dulu kawasan ini dikenal sebagai daerah yang gelap dan terkesan menakutkan. Lokasinya sekitar 33 kilometer di ujung timur Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara.

Namanya saja, Gunung Tembak. Kabarnya, itu disematkan karena merupakan kawasan pembuangan sekaligus lokasi penjagalan manusia. Mereka yang bernasib naas dibunuh di tempat dan dibuang begitu saja.

Namun itu cerita 47 tahun lalu. Kini Gunung Tembak telah menjadi perkampungan Islami. Di sinilah Pesantren Hidayatullah hadir. Semuanya ditata dengan rapi dan teratur dalam suatu sistem masyarakat. Islam coba diperagakan. Masjid ar-Riyadh menjadi pilar dalam membangun masyarakat tersebut.

“Sejak dulu pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, mengajarkan istilah lingkungan yang dibangun adalah mencerminkan ajaran Islami, alamiah, dan ilmiah,” jelas Hamzah Akbar, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, dalam suatu kesempatan.

Baca juga: Ustadz Abdullah Said Gagas “E-Commerce dan Marketplace” Sejak 90-an: Menjual Terasi hingga Helikopter, Sistem Pesan Antar

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Kedermawanan H Darman

Tepat di puncak Gunung Tembak, Masjid ar-Riyadh berdiri megah. Dari kejauhan, dua kubah kembarnya sudah terlihat sejak di kelokan Jalan Mulawarman, poros Balikpapan-Kutai Kartanegara. Jika malam hari, masjid yang mulai dipasangi lantai marmer itu tampak indah bertabur cahaya.

Setiap saat, ratusan santri dan masyarakat sekitar rukuk dan sujud secara berjamaah. Suara lantunan adzan tak putus setiap shalat lima waktu. Berbagai kegiatan keagamaan juga tak pernah henti dilakukan.

Di sekitar masjid, berdiri beberapa bangunan pesantren. Ada ruang kantor, asrama dan madrasah santri, serta lapangan dan perumahan warga pesantren. “Di dalam kampus ada dua RT yang dihuni ratusan guru pesantren,” ucap Hamzah lagi.

Dikutip dari buku Mencetak Kader, nama Masjid ar-Riyadh ternyata ada ceritanya. Berawal dari kunjungan seorang Duta Besar Arab Saudi ke Gunung Tembak, beberapa waktu lalu. Selain silaturahim, syaikh tersebut berkenan menamai masjid sekaligus memberikan bantuan untuk pembangunannya. Riyadh adalah nama ibukota Arab Saudi, yang juga bermakna taman-taman (surga).

Masjid ar-Riyadh juga menyimpan cerita tentang kedermawanan seorang bernama Haji Darman Rahimahullah. Ialah yang menghibahkan tanah untuk lokasi masjid sekaligus beberapa bangunan utama di lokasi Pesantren Hidayatullah.

Tercatat, tanah yang dihibahkan seluas 5,4 hektar dan diserahkan secara resmi pada hari Sabtu, 5 Maret 1976. Walikota Balikpapan saat itu, Asnawie Arbain, meminta Kepala Agraria Balikpapan, Abdul Muin, agar terlebih dahulu meninjau lokasi tersebut.

Dulu tanah bersejarah itu bekas tempat pembakaran batu bata. Begitu Walikota memberitahu bahwa di lokasi akan dibangun pesantren, Haji Darman yang saat itu menjadi Ketua RT tiba-tiba menangis.

“Sudah dua tahun lamanya, saya pernah bermimpi didatangi orang-orang berpakaian putih dengan muka yang bercahaya. Sejak itu saya tidak pernah makan nasi. Saya hanya makan buah-buahan dan minum air putih. Saya juga tidak tahu mengapa saya berbuat demikian. Hanya dalam hati saya ada perasaan bahwa pasti ini kebaikan yang akan muncul di tempat ini,” ujarnya.

Haji Darman sendiri sebenarnya bukanlah sosok yang kaya raya. Tidak pula seorang pejabat atau pemilik warisan yang melimpah. Dia hanya dikenal sebagai seorang pekerja keras yang suka menolong sesama.

Berasal dari Pare, Kediri (Jawa Timur), Haji Darman dan keluarga merantau ke Balikpapan pada tahun 1951 silam. Tak punya modal apa-apa. Karena itu bertahun-tahun ia bekerja serabutan. Apa saja yang penting bisa dikerja dan halal.

Keluarga Haji Darman rela tinggal di gubug kayu hingga berkali-kali pindah tempat. Istrinya, Hj Marliyah, tak sungkan pula bekerja membantu warga di sawah. Mulai dari menyemai, menanam, memanen, hingga menjemur padi.

Anak-anaknya juga demikian. Sejak kecil mereka dididik bekerja keras dan membantu kedua orangtuanya.

“Bapak bukan orang kaya, bahkan bisa dibilang miskin. Tapi dia pekerja keras dan semua anaknya dididik bekerja keras, anak laki-laki maupun perempuan,” ucap Masamah, salah satu putrinya.

Rusani, putra kedua Haji Darman juga memberi kesaksian. Sejak usia 11 tahun, ia mengaku sudah mengurus tiga kerbau milik warga sekaligus.

“Setiap Shubuh dibangunkan shalat. Setelah itu langsung kerja. Begitu setiap hari,” jelasnya.

Berjiwa pemberani, giat bekerja, dan suka menolong, menjadi catatan yang melekat di memori anak-anak Haji Darman. Termasuk rajin ibadah. Ini juga kompak diakui.

“Ibadah bapak seperti ustadz-ustadz itu. Setiap adzan berkumandang, langsung pergi ke masjid untuk shalat berjamaah,” lanjut Masamah.

Kebaikan yang diberkahi. Inilah yang barangkali klop ketika Haji Darman melepas sebagian tanahnya untuk lokasi Pesantren Hidayatullah. Padahal semua itu hasil jerih payah dan peras keringatnya selama bertahun-tahun.

Berawal dari nol, Haji Darman kemudian menjadi tokoh di masyarakat. Keakraban dengan warga menjadi modalnya. Demikian pula ketika menyerahkan tanahnya, tak ada yang diharap kecuali ingin membantu aktivitas kebaikan.

Haji Darman tahu, bukan harta yang dikumpul yang bisa menolong dia dan keluarganya kelak. Namun amal jariyah itulah yang bakal menemani kuburnya dan menyelamatkan di Akhirat.

Haji Darman dan istri meninggalkan enam orang anak: Sayudi, Rusani, Rusmi, Syai’in, Rudian, dan Masamah. Juga telah lahir cucu dan cicit. Mereka tinggal di sekitar Masjid ar-Riyadh dan Pesantren Hidayatullah. Suka duka telah dilewati bersama.

Dermawan itu telah tiada. Haji Darman pergi tak meninggalkan banyak harta, namun mewariskan cita-cita luhur. Selalu ingin bermanfaat dan berbagi kebaikan.

Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan Haji Darman dan melimpahkan keberkahan kepada seluruh anak keturunannya. Amin.

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gutemHidayatullah Gunung Tembakhidayatullah gutemMasjid Ar Riyadh
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya anies baswedan Rasisme, Anies Baswedan, dan Jejak Darah Kepahlawanan
Tulisan selanjutnya vaksin syarat haji Gelar Vaksinasi di Istiqlal, Wujud Nyata Sinergitas Mengatasi Penyebaran Covid-19

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?