Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Spesialis Mata dalam Budaya Islam [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Juni 2015 08:39 8:39 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Juni 2015 08:38
Bagikan
Uraian medis kerja mata dari abad ke-9 karya Hunayn ibn Ishaq
Bagikan

Oleh: Dr Ibrahim Shaikh

“Aku mengundangmu untuk kembali ke 1000 tahun yang lalu untuk mendalami sejarah yang menakjubkan tentang ophthalmology bangsa Arab yang telah kupelajari selama lima tahun terakhir.” Dengan kata-kata tersebut, Julius Hirschberg mempresentasikan hasil kerjanya mengenai para ahli kedokteran mata Muslim di hadapan Asosiasi Medis Amerika pada Juli 1905. Terinspirasi oleh hasil kerja peneliti Jerman tersebut, Dr. Ibrahim Shaikh mendeskripsikan secara singkat dalam artikel ini mengenai kontribusi Al-Ghafiqi, Ibnu Al-Haytham,Salahuddin Bin Yusuf, Khalifah Aleppo, Zarrindast, dan Ammar Al-Mosuli. Beliau memiliki ketertarikan khusus terhadap deskripsi operasi katarak yang pertama oleh Al-Mosuli dan pengaruhnya terhadap hasil kerja para pengikutnya.

Pada 11 hingga 14 Juli 1905, Profesor Julius Hirschberg (1843 – 1925), ahli optalmology dan sejarah medis asal Jerman, mengadakan presentasi di hadapan Asosiasi Medis Amerika di Kalifornia. Subyek penelitiannya adalah “Ophthalmologist Arab”.

Beliau memulai kuliahnya dengan berkata: “Saya mengundang kalian… untuk kembali ke 1000 tahun yang lalu untuk mendalami sejarah menakjubkan dari ilmu kedokteran mata Arab yang telah kupelajari selama lima tahun terakhir. Dua pertanyaan pertama adalah: Apa yang menjadi rujukan dari solusi yang dihadirkan oleh para ophthalmologist Arab ini? Serta apa yang menjdai kontribusi Bangsa Arab dalam ilmu ophthalmology?”

Salah satu tulisan klasik dalam bidang optik ini adalah Memoar Ophthalmology yang ditulis oleh Ali bin Isa (tahun 1000 masehi) adalah kumpulan dari tulisan peneliti Yunani, sebagian besar berasal dari Sepuluh Risalah Tentang Mata karya Galenus yang kemudian ditambahkan pengetahuan baru.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Seorang spesialis mata dalam Bahasa Arab disebut Al-Kahhal dari kata Kuhl (collyre, yang dalam bahasa Prancis berarti pencuci mata). Hirschberg mempertimbangkan bahwa hasil kerja ini sama pentingnya dengan kontribusi Muslim terhadap Masjid Kordoba di Spanyol.

Buku teks karya Khalifah (ditulis sekitar tahun 1260 masehi) mendata delapan belas penelitian di bidang ophthalmology. Hanya dalam 250 tahun, Muslim membuat delapan belas jurnal tentang ophthalmology, sementara pada jaman Yunani kuno, dari mulai Hippocrates sampai Paulus, yang berjarak seribu tahun, mereka hanya memproduksi lima buku mengenai bidang ini. Secara keseluruhan, ada tiga puluh buku yang ditulis Muslim mengenai ophthalmology. Yang paling penting dari hasil penelitian para spesialis ini adalah 14 diantaranya masih ada hingga hari ini. Hirschberg kemudian mengutip nama-nama penting lainnya beserta hasil kerjanya.

Ali bin Isa

Salah satu ahli mata Islam yang paling terkenal ini lahir di Baghdad, Iraq. Tulisannya, Tashkiratul Kahhalin (Catatan Seorang Ahli Mata), adalah salah satu buku teks paling bagus dan paling lengkap tentang penyakit mata, diterjemahkan dengan catatan oleh Hirschberg dan Lippert (1904) dan kemudian ke dalam Bahasa Inggris oleh Casey Wood pada 1936. Buku Bin Isa adalah salah satu buku teks yang paling banyak dirujuk oleh para ahli mata di kemudian hari. Tidak hanya dalam Bahasa Jerman dan Inggris, buku itu juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Persia kemudian Latin, dan ticetak di Venezia pada 1479. Rekan sebaya Ali bin Isa adalah Ammar bin Ali Al-Mosuli dan Abul Hasal Ahmad bin Muhammad Al-Tabari yang, dalam bukunya Kitabul Mu’alaha al-Buqratiyya (Buku Pengobatan Hipokrates), mengatakan bahwa dirinya telah menulis sebuah memoar panjang mengenai penyakit-penyakit mata. Sayangnya memoar ini tidak lagi tersedia.* (bersambung)

Dr Ibrahim Shaikh seorang praktisi medis. Anggota Manchester Medical Society, Manchester, Inggris. Artikel dimuat di laman www.muslimheritage.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islammataMuslimperadabanperadaban Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dibutuhkan Kesabaran Tingkat Tinggi dalam Berdakwah
Tulisan selanjutnya pengeras suara masjid Wapres Jusuf Kalla akan Perbaiki 250 Ribu Sound System Masjid di Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?