Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Jadilah Manusia yang Bisa Menundukkan Nafsu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Januari 2017 13:40 1:40 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Januari 2017 13:37
Bagikan
Bagikan

MANUSIA terbagi menjadi dua golongan. Pertama, yang berhasil dikuasai, dihancurkan, dan dikalahkan oleh nafsu sehingga tunduk di bawah perintahnya. Golongan kedua yang berhasil mengalahkan dan mengendalikan nafsunya, sehingga nafsu itu tunduk di bawah perintah dirinya.

Sebagaimana orang arif berkata, “Perjalanan orang yang mencari jalan menuju Allah, maka berakhir dengan keberhasilannya mengalahkan nafsu mereka. Siapa yang berhasil mengalahkan nafsunya akan beruntung dan sukseslah mereka, dan siapa yang dikalahkan oleh nafsunya akan merugi dan celaka.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Ada pun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya Nerakalah tempat tinggalnya. Dan ada pun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 37-41)

Memang, nafsu selalu mengajak untuk melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara Allah mengajak hambanya untuk takut kepadanya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu.

Di dalam Al-Qur’an, Allah menyifati nafsu dengan tiga sifat: muthmainnah (tenang), lawwamah (pencela), dan ammarah bis-suu’ (penyuruh berbuat buruk).

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

a. Nafsu Muthmainnah

Bila nafsu merasa damai dengan Allah, merasa tentram dan tenang dengan mengingatnya, merasa rindu berjumpa dengannya, dan merasa senang berdekatan denganNya, itulah yang disebut nafsu muthmainnah.

Menurut Ibnu Abbas: “Nafsu muthmainnah ialah nafsu yang membenarkan.”

Sedangkan menurut Qatadah: “Ia adalah orang mukmin yang jiwanya merasa tenteram dengan apa yang dijanjikan Allah.” Seperti merasa tenteram dengan takdir Allah, pasrah kepada-Nya, dan rela menerima ketentuan-Nya, sehingga ia tidak merasa kesal, tidak mengeluh, dan tidak goyah iman-Nya.

Ia tidak merasa frustrasi terhadap apa yang dilewatkannya dan tidak bangga dengan apa yang diterimanya, karena musibah itu telah ditetapkan sebelum sampai kepadanya dan sebelum ia diciptakan.

Allah berfirman: Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya dia akan memberikan petunjuk kepada hatinya. (QS. At-Taghabun:11)

Banyak kalangan salaf yang mengatakan: “Itu adalah orang yang ditimpa musibah, lalu menyadari bahwa musibah itu berasal dari Allah, kemudian ia menerimanya dengan perasaan rela dan pasrah.

b. Nafsu Lawwamah

Menurut sebagian orang, nafsu lawwamah adalah nafsu yang tidak stabil. Ia sering berubah warna antara ingat dan lalai, menghadap dan berpaling, cinta dan benci, senang dan sedih, suka dan marah, patuh dan menghindar.

Nafsu lawwamah ada dua macam: nafsu lawwamah yang tercela dan nafsu lawwamah yang tidak tercela. Nafsu lawwamah yang tercela adalah nafsu yang bodoh dan zalim yang dicela Allah dan para malaikat-Nya.

Sedangkan nafsu lawwamah yang tidak tercela adalah nafsu yang tidak henti-hentinya mencela pemiliknya atas kecerobohannya dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah dan terus berusaha keras untuk memperbaiki diri.

Sementara nafsu yang paling mulia ialah nafsu yang mau mencela dirinya di dalam ketaatan kepada Allah dan tabah menerima celaan para pencela (sesama manusia) dalam upaya menghadapi ridha-Nya.

Jadi, ia tidak berpengaruh oleh celaan siapa pun dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, maka nafsu semacam ini terbebas dari celaan Allah. Sedangkan nafsu yang rela dengan perbuatannya dan tidak mau mencela dirinya, serta tidak tabah menghadapi celaan para pencela dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, itulah nafsu yang dicela oleh Allah.

c. Nafsu Ammarah Bis-suu’

Nafsu ammarah bis-suu’ selalu menjadikan setan sebagai teman dan sahabat setianya. Setanlah yang memberikan janji dan harapan kepadanya, memasukkan kebatilan ke dalamnya, menyuruhnya melakukan perbuatan yang buruk dan membuatnya terlihat baik olehnya. Setan juga membuatnya menjadi panjang angan-angan dan membuatnya melihat kebatilan dalam bentuk yang bisa diterimanya dan terlihat baik olehnya.

Inilah nafsu yang benar-benar tercela, karena nafsu ini selalu menyuruh seseorang melakukan segala macam keburukan, dan itu adalah watak aslinya. Maka tidak ada seorang pun yang bisa lolos dari kejahatannya kecuali dengan pertolongan Allah.

Jadi kejahatan itu terdapat di dalam nafsu dan menyebabkan terjadinya perbuatan buruk. Jika Allah tidak berada di antara seseorang dan nafsu, maka orang itu akan binasa di antara kejahatan nafsunya dan perbuatan buruk yang menjadi konsekuensinya. Namun jika Allah berkenan memberikan bantuan dan pertolongannya kepada seseorang, niscaya ia akan selamat dari itu semua.

Oleh karena itu marilah kita memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan nafsu dan keburukan amal perbuatan kita, sebagaimana Rasullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memujinya, meminta pertolongan kepada-Nya dan memohon ampun kepada-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri (nafsu) kami dan keburukan amal perbuatan kami.”*/Muhammad Zul Arifin.

Dari buku: Manajemen Qalbu Ulama Salaf. Penulis: Syaikh Dr.Ahmad Farid.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hawa nafsumenahan diri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Islam dan NKRI Kesatuan tak Terpisahkan, Tegas AKU Kaltim
Tulisan selanjutnya Program Kaderisasi Ulama untuk Peradaban Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PHK Tembus 23 Ribu Pekerja, DPR Desak Penguatan Perlindungan dan Percepatan Penyerapan Tenaga Kerja

Berita
11 Juni 2026 13:00
Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
MUI: Kasus Hukum di BGN Harus Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola dan Integritas Pengelola
Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’

Terbaru

  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
  • Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
  • Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
  • Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
  • Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
  • Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
  • China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?