Hidayatullah.com—Puluhan pusat komunitas Yahudi di seluruh negara bagian Amerika Serikat (AS) menerima ancaman bom sejak Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menjabat sebagai presiden.
Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Asosiasi Yahudi Amerika Utara, ancaman itu diterima di 11 daerah terpisah di 27 buah negeri serta satu buah provinsi di Kanada.
Ancaman bom itu menyebabkan semua penghuni pusat komunitas Yahudi terpaksa dipindahkan.
“Kebencian dan kekerasan bermotif rasa benci apapun tidak memiliki tempat di negara yang didirikan berdasarkan janji kebebasan individu. Sikap presiden sangat jelas bahwa tindakan ini tidak bisa diterima,” ujar Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Lindsay Walters dikutip NBC News.
“Presiden telah membuat sangat jelas bahwa tindakan ini tidak dapat diterima,” tambahnya.
Ancaman serangan bom tersebut merupakan yang terbanyak sejak Donald Trump menjadi Presiden AS pada 20 Januari 2017, sebagaimana dilaporkan Agence France-Presse, Selasa (21/2/2017).
Kabar ini membuat putri Trump, Ivanka, yang juga penganut Yahudi, ikut mengutuk. Melalui akun twitter, ia menyinggung fakta bahwa target adalah Yahudi.
Baca: Polling: Separuh Yahudi Amerika Dukung Pengusiran Warga Palestina
“Amerika adalah sebuah bangsa yang dibangun di atas prinsip toleransi beragama,” katanya. “Kita harus melindungi rumah-rumah ibadah kami & pusat agama,” demikian ciutannya dengan hashtag “#JCC“.
Namun Asosiasi Komunitas Yahudi Amerika Utara memperingatkan, ancaman bom pada Senin itu ternyata hanya kabar bohong (hoax) untuk menakut-nakuti komunitas Yahudi.
Meski demikian, FBI dan Divisi Hak Sipil Departemen Kehakiman Federal menyatakan akan menyelidiki adanya ancaman bom lewat telepon tersebut.
Namun, semua ancaman tersebut hanyalah palsu dan pusat-pusat komunitas yang ditargetkan telah memulai operasi kembali.*




