Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Setelah Brexit, Turki Kehilangan Seorang Teman di Uni Eropa

Ama Farah
Terakhir diupdate: 6 November 2017 19:34 7:34 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 6 November 2017 19:34
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Keluarnya Inggris dari persekutuan Uni Eropa juga akan berdampak buruk bagi Turki, menurut Dennis MacShane, seorang penulis yang juga mantan menteri Inggris.

“Jika Inggris keluar dari Uni Eropa, maka Turki akan kehilangan teman terbaiknya di Eropa,” kata MacShane, seperti dikutip Hurriyet Jumat (3/11/2017). Buku MacShane berjudul “Brexit, No Exit: Mengapa pada akhirnya Inggris tidak akan meninggalkan Eropa” diterbitkan bulan lalu.

Berbicara di sela-sela Global Relations Forum di Istanbul pada hari Rabu 1 November, MacShane mengenang masa awal tahun 2000-an, ketika Turki memperbarui permohonannya untuk menjadi anggota Uni Eropa setelah Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) berkuasa. MacShane kala itu menjabat menteri urusan Eropa di kabinet Inggris periode 2002 sampai 2005.

“Saya bersama Tony Blair dan Erdogan, ketika mereka mulai mendesak negara-negara anggota UE lain agar pembicaraan aksesi bisa dimulai,” kata MacShane.

“Saya ingat menyusuri lorong-lorong Brussels bersama Erdogan dan Tony Blair yang sangat antusias, mengetuk pintu Kanselir [Gerhard] Shroder dan Presiden [Jacques] Chirac, mengatakan ‘Ayolah, setidaknya mari kita mulai berdialog dengan Turki,” imbuhnya.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

MacShane berpendapat bahwa “jika Brexit benar-benar terjadi,” maka Inggris akan menemui kondisi hubungan dengan Uni Eropa mirip seperti apa yang dialami Turki sekarang ini.

“Dengan kata lain, akses ekonomi terbatas tanpa ada pengaruh politik. Ini merupakan paradoks raksasa bagi kedua negara besar, Turki dan Inggris, yang keduanya memiliki sejarah imperial membanggakan, dan sekarang [justru] terlepas dari Eropa,” kata bekas pejabat tinggi itu.

Dia juga menekankan bahwa “dampak geopolitik dan ekonomi” dari proses Brexit tidak boleh disepelekan.

“Saya tidak yakin rakyat di Turki, dengan semua masalah internal dan regional yang dikhawatirkan, memahami kesulitan historis Brexit,” ujarnya.

Meskipun banyak kesulitan politik dengan Eropa, Turki masih relatif memiliki hubungan ekonomi yang sehat dengan benua itu, kata Mac Shane.

“Ada jutaan orang Turki di Jerman dan negara-negara lain, termasuk Inggris. Salah satu tuntutan kunci kelompok anti-Eropa adalah menutup imigrasi ke Inggris. Selama kampanye Brexit tahun lalu, selebaran diselipkan ke setiap rumah di Inggris, mengatakan bahwa jika kita tetap bertahan di Eropa maka 75 juta orang Turki akan tiba di London besok. Kampanye itu sangat anti-Turki, sangat anti-imigran,” imbuhnya.

Sementara itu, mengomentari perihal invasi ke Iraq, sebagai salah satu pengkritik keras Blair dalam masalah hubungan internasional, MacShane mengatakan keputusan perang itu merupakan “bencana total.”

“Sekarang saya berpikir tentang semua intervensi militer di negara-negara mayoritas Muslim. Ini termasuk Soviet pergi ke Afghanistan, Amerika dan Inggris pergi ke Iraq, dan Inggris bersama Prancis pergi ke Libya, serta semua pihak yang pergi ke Suriah termasuk Turki,” kata MacShane.

“Ada banyak diktator buruk di seluruh dunia. Namun, ketika Anda menghancurkan sebuah negara maka tidak ada yang tersisa. Anda tidak akan memiliki hukum, tidak ada polisi, tidak ada perekonomian, tidak ada keadilan, tidak ada sekolah … [invasi ke] Iraq merupakan sebuah kesalahan besar. Saya dulu termasuk yang percaya bahwa senjata pemusnah massal itu ada [di Iraq], sebab penyidik-penyidik PBB tidak akan pernah bisa mengatakan kepada kami bahwa barang itu tidak ada. Tidak satu pun seorang diplomat yang bekerja dengan saya pernah mengatakan secara pribadi ‘Pak menteri, ini tidak akan berhasil’ … Tidak satu pun orang yang menaikkan alisnya, tak satu pun jenderal. Itu adalah sebuah kesalahan historis,” imbuhnya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemanfaatan Pulau Reklamasi, Pengamat Tata Ruang Beri Saran Ini
Tulisan selanjutnya IMM: Demi Jaga Muruah, Presiden Harus Tolak Reklamasi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?