Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

“Penangkapan MCA Palsu Besar Kemungkinan karena Kecewa Kekalahan Politik”

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 2 Maret 2018 21:29 9:29 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 2 Maret 2018 21:29
Bagikan
Mustofa B Nahrawardaya, aktivis media sosial yang juga Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah.
Bagikan

NAMA Muslim Cyber Army (MCA) kembali mencuat belakangan ini, setelah kepolisian dengan gencarnya melakukan aksi penangkapan terhadap sejumlah orang yang disebut-sebut sebagai “anggota MCA”.

Berita penangkapan “anggota MCA” itu pun digiring sedimikian rupa secara masif melibatkan berbagai media mainstream. Isunya pun seakan-akan digiring untuk menyudutkan kelompok siber yang turut berjasa besar memenangkan umat Islam dalam perang opini pada kasus penistaan agama oleh terpidana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), 2016 lalu.

Lantas, apa hubungannya MCA di era Aksi Bela Islam tersebut dengan “MCA” yang ditangkap saat ini? Siapa sebenarnya MCA itu? Mengapa penangkapan tersebut gencar dilakukan di tahun politik 2018 ini? Apa hubungannya dengan Pilkada DKI Jakarta 2017 dimana Ahok tumbang?

Menjawab itu, aktivis senior di bidang media sosial yang juga Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Mustofa B Nahrawardaya, mengungkapkan panjang lebar penjelasannya kepada hidayatullah.com di Jakarta, Kamis (01/03/2018), usai pengguna Twitter dengan akun @NetizenTofa ini menghadiri acara di sebuah tempat. Berikut petikannya!

Baca: Lima Pesan bagi Para Pengguna Medsos Menghindari Jebakan

Bagaimana awal mula munculnya MCA?

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Kalau nama MCA (Muslim Cyber Army), baru muncul setelah Ahok’s Case (kasus Ahok) muncul ke permukaan. Jadi sekitar pertengahan Oktober 2016, ketika Aksi Bela Islam I pada tanggal 14 Oktober 2016 digelar, nama MCA baru muncul.

Kemudian ketika Aksi Bela Islam II dilakukan pada 4 November 2016, nama MCA mulai melambung dan mendapatkan tempat di media sosial, meskipun pada awalnya sempat dicemooh oleh kelompok netizen lain yang mendukung Ahok.

Jika semula pasukan cyber pendukung Ahok menguasai jagad maya dengan banyak propaganda jahat dan penyebaran info sesat dan hoax, maka kemunculan MCA menjadi penyeimbang informasi yang ada.

Saya yakin, banyak sekali rakyat Jakarta khususnya, yang menjadi korban dari beroperasinya kelompok Cyber Army pendukung Ahok. Saya mensinyalir, praktik penyesatan informasi dan pengaburan fakta demi memenangkan jagoannya, sudah dilakukan kelompok liar tersebut, sejak 2012. Lalu makin sukses membodohi masyarakat pada 2014, dan mungkin akan dilanjutkan 2018 dan 2019.

Tapi, pergerakan MCA, berhasil mematahkan “perjuangan” tanpa etika yang dilakukan mereka.

Walhasil, pada Aksi Bela Islam III, yakni yang dikenal sebagai gerakan ABI 212 di Monas (Jakarta), nama MCA sudah jadi momok kelompok lain yang mencoba membangun citra Ahok setinggi langit.

Yang membuat MCA semakin besar barangkali karena kelompok Cyber Army lain, tidak saja mencitrakan Ahok sebagai manusia sempurna tanpa cacat, namun juga disebabkan oleh sentimen publik terhadap respons Pemerintah yang seperti memaksakan diri mengait-ngaitkan aksi-aksi umat Islam atau ABI, sebagai aksi yang dilandasi motif makar.

Jadi, saat itulah MCA seperti punya tantangan yang harus dilawan.

Persoalannya lagi-lagi karena Cyber pendukung Ahok dan Cyber pendukung Jokowi bersatu mencitrakan aksi umat Islam tersebut dengan tidak selayaknya. Jangan tanya lagi, apa saja bentuk ketidaklayakan itu. Intinya, jika tidak dilawan dengan MCA, maka akan banyak lagi masyarakat menjadi korban kesesatan dan kedzaliman informasi, akibat ulah kelompok lawan MCA yang brutal.

Baca: Akun Bajakan Tebar Fitnah Organisasi Jurnalis Muslim

MCA muncul saat Aksi Bela Islam I,  2016. Sementara, salah seorang “anggota MCA” yang ditangkap disebut oleh polisi sudah 5 tahun jadi anggota “The Family MCA” berdasarkan gadget “pelaku”, ini bagaimana?

Ngawur itu (kemudian tertawa).

Lucunya dimana?

MCA baru ada 2016, kok mereka dah 5 tahun. Dari gadget siapa itu?

Apa sih alasan anggota MCA ini mau bergerak bersama?

Pergerakan MCA, unik. Mereka tidak pernah ketemu muka, tidak bertatap mata, tidak bersapa selain melalui dunia maya. Mereka, ribuan akun media sosial yang bergerak dalam MCA, bisa bersama-sama melakukan kontra opini melawan gerakan jahat kelompok lain, tidak lain tidak bukan karena digerakkan oleh ghirrah yang sama, yakni menjaga kesucian Islam dari serangan tangan kotor kelompok lain.

Kenapa, karena sejak para ulama bergerak membawa umat ke jalanan meminta keadilan dalam kasus penistaan (oleh) Ahok, ternyata gerakan menghina, menista, memaki, dan membenci Islam, bertambah besar. Sangat masif, gerakan tersebut di dunia maya. MCA akhirnya juga bersepakat menjaga marwah ulama yang mereka cintai.

Dalam hal ini, karena Aksi Bela Islam dipimpin oleh Habib Rizieq Shihab (HRS) dan ulama-ulama lain dari berbagai ormas Islam lain, maka MCA pun membela dan melindungi mereka dari serangan jahat dunia maya. Apalagi ketika HRS banyak mendapatkan serangan, baik fisik maupun psikis hingga HRS memilih sementara memimpin pergerakan dari Saudi Arabia, MCA pun tidak surut berjuang sampai sekarang.

Yang menarik adalah, sekalipun HRS jadi sentral, namun MCA berkomitmen menjaga apapun dan siapapun yang dianggap sebagai ikon-ikon Muslim di Indonesia. Karena, sejak awal memang MCA seperti ada komando tanpa komando, bahwa MCA hanya bisa bekerja karena semata-mata terikat oleh keyakinan yang sama, yakni Islam.

Jadi, hanya agama Islam lah yang sanggup mempersatukan MCA dalam gerakan yang rapi dan sama.

Lalu cara kerja mereka seperti apa?

MCA senantiasa bergerak tanpa bisa diendus bentuk dan jaringannya. Karena memang cara bergerak MCA mirip OTB, Organisasi Tanpa Bentuk. Meski OTB, MCA beda. Gerakan mereka sangat rapi dan saling memahami. Mereka tahu, harus berbuat apa. Tanpa dikoordinasi sekalipun, MCA bisa menempatkan diri masing-masing saat berjihad informasi.

Saat diserang musuh, MCA benar-benar bisa melawan tanpa panglima. Saat bertahan, MCA bisa bertindak tanpa ada yang membayar, memberi pulsa, dan tanpa keluhan. Bagi MCA, membela Islam dan ulama di dunia maya, menjadi kebanggaan tersendiri yang sulit diceritakan.

Padahal, mereka tidak pernah bertemu dan tak pernah bertatap muka. Uniknya, ketika ada MCA palsu, maka MCA yang asli, bisa dengan sendirinya melakukan hukuman maya spontan tanpa menunggu.

Baca juga: Aktivis: Jika Ada Kelompok Ngaku Pimpinan MCA Pasti Itu Palsu

Tanggapan dan saran Anda atas polisi yang merilis “pelaku anggota MCA”?

Saya sangat berterima kasih kepada polisi karena bisa menangkap MCA yang tidak asli. Karena dari merekalah, citra MCA yang asli jadi buruk. Karena ulah merekalah, MCA yang berdakwah dengan landasan al-Qur’an dan Hadits, serta keadaban, kini menjadi kotor oleh ulah segelintir penumpang gelap.

Jika perlu, nama akun mereka juga diumumkan ke publik. Saya meminta polisi memburu jaringannya, pendananya, serta sutradaranya. Jangan sampai ada yang lolos. Jika perlu, nanti saya sowan dan bersilaturahim ke Mabes Polri untuk memberikan kenang-kenangan sebagai tanda penghargaan.

Yang ditangkap itu mengaku-ngaku sebagai anggota MCA, apa iya MCA asli akan mengaku demikian?

MCA tidak melakukan ujaran kebencian. Polisi tentu tidak mudah mengorek para pelaku. Polisi bekerja bukan berdasarkan pengakuan, namun berdasar bukti. Jadi, memang terbukti para pelaku itu melakukan hatespeech dan menamai grup WA-nya menggunakan nama MCA.

Namun jika pelaku mengaku sebagai MCA dan sengaja melanggar ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik), tentu malah aneh. Karena publik juga sudah tahu, MCA tidak punya keberanian melawan hukum ITE. Jangankan melawan hukum ITE. Untuk meluruskan informasi saja, masih kurang tenaga. Intinya, tidak ada waktu dan kesempatan untuk menghina dan menista pihak lain. Hal itu, hanya akan menguras tenaga dan pikiran.

Baca: ‘MCA Asli Membela Islam tanpa Ujaran Kebencian’

Sebelumnya ramai isu “Saracen”. Sekarang isu “MCA”. Analisis Anda?

Di pengadilan, Asma Dewi (ibu rumah tangga yang awalnya diduga terkait “Saracen”, Red) terbukti tidak terlibat. Setidaknya ini yang saya dengar dari media massa. Isu Saracen menyeret banyak nama, termasuk saya juga disebut-sebut. Tapi itu semua hanya omong kosong.

Pelaku-pelakunya hanyalah kelompok iseng yang tidak jelas motivasinya. Tidak jelas arahnya. dan tidak jelas ideologinya. Mengaku membela Islam, tetapi sepak terjangnya atau jejak digitalnya tidak dapat diendus oleh netizen lain yang lebih senior.

Intinya, Saracen adalah kelompok misterius yang tampak sekali, hanya bekerja untuk kepentingan yang tidak jelas. Ulah mereka lebih banyak merugikan umat Islam ketimbang manfaatnya. Saracen hanya segelintir orang tidak jelas yang bekerja karena urusan perut, bukan motif membela agama.

Mungkinkah penangkapan ini pengalihan isu tertentu atau terkait Pilkada 2018 dan Pilpres 2019?

Dugaan ke arah itu sangat kuat. Besar kemungkinan, ini hanya isu jangka pendek karena kekecewaan kekalahan-kekalahan dalam urusan politik. Juga hanya akan berlangsung hingga Pilkada 2018 atau Pemilu 2019 mendatang.

Nanti, jika 2019 terpilih Presiden Baru, mudah-mudahan MCA bisa istirahat. Karena saya pikir, pasukan Cyber liar lawan MCA, otomatis berhenti beroperasi sementara, begitu yang mengkoordinir mereka tidak ada yang melindungi atau membiayai. Namun jika tidak ada pergantian Presiden 2019, kemungkinan musuh MCA akan terus ada.*

Baca: Mustofa Nahrawardaya: Waspadai Jebakan Operasi Intelijen di Dunia Maya dan FB

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:@NetizenTofadunia mayadunia siberhate speechJASMEVjebakanjebakan medsosJokowi Ahok Social Media VolunteerJokowi-Ahokmafia medsosMajelis Pustaka dan Informasi PP MuhammadiyahMCAMCA asliMCA palsumedia sosialMuslim Cyber ArmyMustofa B. Nahrawardayanetizenpegiat medsospendukung Jokowi-AhokPilkada DKI Jakarta 2017Saracensibersindikat penebar hoaxujaran kebencianwarganetwhatsApp
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jonru: Pengadilan di Akhirat yang Paling Adil
Tulisan selanjutnya Cara Setan Menyusup Manusia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?